Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa delapan pasien penderita Guillain-Barré Syndrome (GBS) meninggal dunia akibat perang kelaparan sistematis yang diberlakukan Israel. Angka ini setara dengan 10,6% dari total kasus GBS yang diketahui di Gaza.
Dr. Munir Al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa kelaparan yang telah dinyatakan PBB mendorong lonjakan kasus GBS dalam beberapa pekan terakhir. Puluhan pasien kini bergantung pada ventilator untuk bertahan hidup, sementara ketiadaan pengobatan penting seperti imunoglobulin intravena (IVIG) dan plasmapheresis membuat kondisi mereka memburuk.
“Air tercemar, kekurangan makanan, dan malnutrisi akibat perang kelaparan Israel telah melemahkan sistem imun masyarakat Gaza, hingga menyebabkan penyakit langka sekalipun menjadi ancaman nyata. Pasien kini seakan mati perlahan dan dalam kesunyian,” ujar Al-Bursh.
Guillain-Barré Syndrome adalah penyakit langka yang biasanya dimulai dengan kelemahan di tungkai, lalu dapat merusak sistem saraf pusat termasuk saraf pernapasan. Kondisi ini menjadi semakin fatal di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza yang kekurangan obat, alat diagnostik, serta pasokan medis dasar.
Sejak 2 Maret 2025, Israel menutup semua perlintasan perbatasan Gaza dan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan, mendorong wilayah itu ke dalam kelaparan. Padahal, kebutuhan minimal mencapai 18.000 truk bantuan per bulan, namun dalam 30 hari terakhir hanya 2.654 truk yang diizinkan masuk.
Menurut data resmi, sejak 7 Oktober 2023 hingga kini, 313 warga Palestina—termasuk 119 anak-anak—telah meninggal akibat kelaparan.
Sumber:
Palinfo








