Laporan investigasi bersama The Guardian, +972 Magazine, dan Local Call mengungkap bahwa lima dari enam warga Palestina yang terbunuh akibat serangan Israel di Jalur Gaza adalah warga sipil. Temuan ini didasarkan pada basis data rahasia militer Israel sendiri.
Hingga Mei 2024, data intelijen militer Israel mencatat sekitar 8.900 nama pejuang yang telah terbunuh atau diduga terbunuh, sementara total korban jiwa sejak Oktober 2023 mencapai 53.000 orang pada saat itu. Artinya, hanya 17% korban yang dikategorikan sebagai kombatan, sementara 83% adalah warga sipil.
Perbandingan ini dinilai sangat tinggi untuk standar perang modern, bahkan jika dibandingkan dengan konflik yang dikenal brutal seperti perang sipil di Suriah dan Sudan. Menurut Therese Pettersson dari Uppsala Conflict Data Program (UCDP), proporsi korban sipil sebesar itu hanya pernah tercatat dalam kasus Srebrenica, genosida Rwanda, dan pengepungan Mariupol oleh Rusia pada 2022.
Militer Israel tidak membantah keberadaan basis data tersebut, namun menyebut angka yang dipublikasikan “tidak akurat” tanpa merinci data mana yang dipersoalkan. Seorang sumber intelijen Israel bahkan mengungkap bahwa banyak orang “dipromosikan menjadi teroris setelah kematian mereka,” sehingga angka korban pejuang kerap dilebih-lebihkan. Hal senada disampaikan pensiunan jenderal Itzhak Brik yang menyebut klaim pemerintah Israel soal jumlah anggota Hamas yang terbunuh “tidak ada hubungannya dengan kenyataan” dan hanyalah “satu kebohongan besar.”
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/classified-israeli-military-data-reveals-83-civilian-death-rate-in-gaza/3665835
https://www.#/20250821-classified-israeli-military-data-reveals-83-civilian-death-rate-in-gaza/








