Dr. Munir Al-Barsh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, mengungkapkan bahwa agresi Israel di Jalur Gaza tidak hanya menghancurkan rumah-rumah, tetapi juga menyerang kehidupan bahkan sebelum ia dimulai—dengan rahim-rahim ibu sebagai sasaran tersembunyi.
Dalam pernyataannya di platform X, Al-Barsh menyebut data resmi kesehatan menunjukkan dampak tragis terhadap ibu dan bayi baru lahir selama paruh pertama 2025. Ia menegaskan bahwa perang ini telah melampaui semua batas kemanusiaan, yang menjadikan janin dan bayi sebagai target nyata genosida, pembersihan etnis, dan upaya penghapusan bangsa Palestina.
Jumlah kelahiran tercatat hanya 17.000 dalam enam bulan pertama 2025, turun drastis 41,4% dibandingkan periode yang sama pada 2022 (29.000 kelahiran). Penurunan tajam ini mencerminkan tekanan psikologis, sosial, dan kesehatan yang luar biasa di tengah masyarakat muda seperti Gaza.
Beberapa data tragis yang tercatat:
- 2.600 kasus keguguran (15,3% dari seluruh kehamilan)
- 220 kematian ibu saat hamil atau sebelum melahirkan
- 21 bayi meninggal di hari pertama kehidupan
- 67 bayi lahir dengan cacat bawaan (0,39%)
- 2.535 bayi membutuhkan perawatan intensif neonatal (14,91%)
- 1.600 kasus berat badan lahir rendah (9,41%)
- 1.460 bayi lahir prematur (8,59%)
Al-Barsh menilai angka-angka ini mencerminkan teror kolektif dan kehancuran total sistem kesehatan serta sosial, yang merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memusnahkan rakyat Palestina secara diam-diam—sebuah “genosida sunyi” yang tercermin dalam statistik yang mengerikan.
“Ibu-ibu di Gaza kini melahirkan dalam kondisi mengerikan—di bawah bombardir, tanpa air bersih, tanpa gizi layak, tanpa obat,” ujar Al-Barsh. “Tangisan setiap bayi yang lahir hari ini adalah mukjizat kehidupan dalam dunia yang tak layak ditinggali.”
Ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar kumpulan angka, melainkan nyawa anak-anak yang tak sempat menghirup udara pertama, serta para ibu yang melahirkan dalam ketakutan, kelaparan, dan blokade.








