Kondisi kehidupan warga Gaza yang terusir akibat serangan Israel semakin memprihatinkan. Kantor Media Pemerintah Gaza (Gaza Media Office/GMO) melaporkan bahwa dari 135.000 tenda yang digunakan para pengungsi di Jalur Gaza, sebanyak 110.000 di antaranya kini rusak total dan tidak dapat digunakan. Situasi ini menjadi ancaman serius bagi lebih dari dua juta warga Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian, dalam menghadapi cuaca dingin ekstrem tanpa perlindungan yang memadai.
Badai musim dingin yang merusak tenda-tenda rapuh, hujan deras yang menyebabkan banjir, dan angin kencang yang kerap mencabut tenda-tenda pengungsi, semakin memperburuk situasi yang sudah sangat memprihatinkan. Warga bahkan terpaksa membakar plastik dan kertas untuk mendapat sedikit kehangatan, meski tindakan tersebut berisiko tinggi terhadap kesehatan dan keselamatan mereka.
Kondisi di kamp-kamp pengungsian semakin tidak layak. Banyak tenda terbuat dari kain dan plastik yang tidak bisa melindungi penghuninya dari teriknya musim panas maupun gigilnya musim dingin. Di Al-Mawasi, Khan Yunis, ribuan keluarga hidup dalam keadaan serba kekurangan, baik itu makanan, air bersih, maupun kebutuhan dasar lainnya. Penduduk menyebut tenda mereka sebagai “kulkas kematian” karena dinginnya suhu pada malam hari.
“Angin kencang membuat kami tidak bisa tidur, dan dinginnya malam sangat menusuk-nusuk tulang kami,” ujar Ibrahim Al-Astal, salah seorang penghuni kamp. Pengeboman yang menghancurkan rumah-rumah mereka telah memaksa mereka tinggal di tempat yang bahkan tidak layak disebut tempat tinggal.
GMO menyebutkan bahwa 81% pengungsi hidup dalam krisis kemanusiaan yang mengerikan. Kekerasan dan serangan besar-besaran sejak 7 Oktober 2023 telah mengakibatkan lebih dari 45.000 korban jiwa dan memaksa jutaan warga Gaza untuk meninggalkan rumah mereka. Dengan banyaknya tenda yang rusak, para pengungsi kini menghadapi ancaman musim dingin tanpa perlindungan.
Menurut GMO, krisis ini adalah hasil langsung dari genosida yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel, yang terus menghancurkan perumahan dan memindahkan warga Palestina secara paksa. GMO juga menyoroti tanggung jawab negara-negara pendukung genosida Israel, termasuk AS dan beberapa negara Eropa.
GMO menyerukan masyarakat internasional, khususnya negara-negara Arab dan Islam, untuk segera bertindak menghentikan agresi Israel dan memberikan bantuan mendesak bagi para pengungsi. Bantuan tersebut mencakup penyediaan tempat berlindung, makanan, pakaian musim dingin, dan perawatan medis yang layak.
GMO menegaskan bahwa diamnya dunia terhadap krisis kemanusiaan ini merupakan bentuk kolaborasi dalam ketidakadilan. Seruan ini diakhiri dengan permintaan agar semua pihak mengambil langkah serius untuk melindungi hak-hak dan martabat warga Palestina yang tengah berjuang untuk bertahan hidup di tengah musim dingin yang mematikan.
sumber:
https://english.palinfo.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








