Hari Tuberkulosis Sedunia diperingati setiap tahunnya pada tanggal 24 Maret. Momentum ini diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini dan berupaya untuk mengakhirinya. Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menghantui masyarakat dunia. Penyakit ini bahkan menjadi penyebab kematian ke-13 dan penyakit menular kedua setelah COVID-19. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, penyakit ini telah menyebabkan 1,6 juta orang di dunia meninggal. Sementara itu, Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus TBC yang tinggi. Berdasarkan data dari WHO, pada tahun 2021, ada delapan negara yang menyumbangkan dua pertiga kasus TBC, yaitu India (28%), Indonesia (9,2%), China (7,4%), Filipina (7,0%), Pakistan (5,8%), Nigeria (4,4%), Bangladesh (3,6%), dan Republik Demokratik Kongo (2,9%). Di Indonesia terdapat 824.000 kasus TBC.
Berdasarkan data Global TBC Report 2022, jumlah kasus TBC terbanyak terjadi pada usia produktif, terutama usia 25 sampai 34 tahun, mengutip rilis dari laman Kemenkes. Di Indonesia, jumlah kasus TBC paling banyak didapati pada usia produktif, terutama usia 45 sampai 54 tahun. WHO juga menyebutkan hal yang sama, bahwa TBC paling banyak dialami oleh orang dewasa pada usia produktif. Meski begitu, semua kelompok usia juga bisa berisiko terkena TBC, sebagaimana kasus TBC pada anak di tahun lalu melonjak hingga mencapai 88.000 kasus.
Kelompok buruh dan petani mendominasi pasien TBC di Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi menyebut, sebanyak 54.800 buruh dan 51.900 orang petani mengalami TBC. Keduanya menempati peringkat teratas profesi paling rentan terhadap penularan TBC. Pemeringkatan tersebut merupakan data yang dihimpun Kemenkes per tahun 2022. Sementara di peringkat ketiga ada wiraswasta sebanyak 44.299 orang. Dilanjutkan dengan pegawai BUMN dan atau BUMD di peringkat keempat dengan total temuan penderita TBC sebanyak 37.235 orang. “PNS juga ada di peringkat lima, sebanyak 4.778 orang mengalami TBC menurut temuan kami,” katanya.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Rina Triasih, mengatakan penyebaran penyakit menular Tuberculosis (TBC) perlu dilacak (tracing), sama halnya dengan COVID-19. Hal ini menurutnya, TBC lebih mengkhawatirkan, mengingat gejala orang yang terjangkit tidak akan muncul dalam waktu singkat seperti COVID-19 yang dapat dideteksi hanya dalam hitungan hari, dan paling lama dua pekan. Rina menjelaskan, gejala TBC bagi seseorang yang terjangkit baru akan muncul hingga dua tahun setelahnya. Sedangkan pada sebagian besar kasus, gejala akan muncul dalam periode satu tahun.
Untuk itu, Rina tak henti mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan TBC, selain berusaha melakukan pelacakan lebih masif bagi pemerintah dan berbagai fasilitas kesehatan. Ketua UKK Respirologi IDAI itu juga mengimbau pemberian obat pencegahan TBC harus ditingkatkan. “Apakah TBC bisa dicegah? Bisa, karena TBC sudah ada obatnya, tidak untuk anak dan remaja saja tapi juga dewasa. Obat ini disediakan gratis dari pemerintah,” kata dia.
Sumber:
https://ameera.republika.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








