Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah temuan kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) di Indonesia mencapai 269 orang per Rabu (26/10) kemarin. Ratusan kasus itu tersebar di 27 provinsi Indonesia. “Pada 26 Oktober tercatat 269 kasus. Yang dirawat 73 kasus, 157 atau 58 % kasus diketahui meninggal, sementara yang sembuh 39 kasus,” kaya Juru Bicara Kementerian Kesehatan Syahril dalam konferensi persnya, Kamis (27/10). Di Jakarta terdapat 57 kasus ginjal akut, Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 38 kasus, dan Aceh dengan 30 kasus.
Kementerian Kesehatan mencatat 53% atau 143 orang dari total pasien gagal ginjal akut di Indonesia mengalami anuria alias tak bisa buang air kecil sama sekali. Anuria adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu memproduksi urin. Syahril juga merinci 22% atau 58 pasien gagal ginjal lainnya turut mengalami gejala oliguria atau terjadi penurunan frekuensi buang air kecil. Sementara yang yang tidak mengalami gejala anuria ataupun oliguria sebesar 25 persen. Selain itu, Syahril merinci sebanyak 61% dari total 157 pasien gagal ginjal yang meninggal dunia sudah masuk pada fase stadium tiga atau sudah mengalami anuria. Sementara pasien yang meninggal pada fase stadium dua sebanyak 7% dan stadium satu sebanyak 11%.
Di samping itu, Kemenkes juga melaporkan sejumlah pasien gangguan ginjal akut mengalami perbaikan kondisi setelah diberikan antidotum atau obat penawar etilen glikol, yaitu fomepizole. Sementara itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan patroli siber terhadap toko-toko online, media sosial dan e-commerce, yang menjual obat di berbagai platform. Hasilnya, ada ribuan link atau tautan penjualan obat sirop yang dinyatakan tidak aman.
Kepala BPOM Penny K Lukito dalam konferensi pers Kamis (27/10) mengungkapkan bahwa hingga 26 Oktober 2022, BPOM menemukan 6.001 link penjualan online obat sirop berbahaya. Ia menyampaikan BPOM telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menghapus atau take down ribuan link tersebut. “BPOM telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) untuk melakukan take down konten terhadap 6.001 link yang teridentifikasi melakukan penjualan sirop obat yang dinyatakan tidak aman,” ujarnya.
Penny mengatakan bahwa BPOM, melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia, akan secara terus-menerus mengawal proses penarikan peredaran sirop obat yang mengandung cemaran etilen glikol atau dietilen glikol yang melebihi ambang batas aman. Sebelumnya, Kemenkes telah mengimbau agar penggunaan dan penjualan beberapa obat sirup diberhentikan sementara waktu. Sebagai alternatif, Jubir Kemenkes Syahril menyarankan untuk menggunakan obat jenis lain, semisal obat kunyah.
Salah satu pegawai apotek di Jatinangor, Jawa Barat, mengatakan bahwa sejak obat sirup dilarang, obat kunyah banyak dicari sebagai alternatif. Bahkan, di beberapa apotek dan minimarket di Jatinangor, Jawa Barat, sediaan obat kunyah sudah habis terjual.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








