Naseem sangat menyukai sepak bola. Sebagai penggemar berat Lionel Messi dari Argentina, Naseem biasa bermain di mana pun dia bisa: di sekolah, di jalanan, di klub lokal. Sayangnya, dia belum bisa ikut turnamen akhir-akhir ini. Anak berusia 10 tahun itu takut bahwa ia mungkin harus merelakan permainan kesayangannya karena sakit yang dideritanya.
Ginjal Naseem tidak berfungsi dengan baik dan dia harus mengikuti diet yang sangat terbatas. Transplantasi telah direkomendasikan, tetapi sejauh ini belum memungkinkan untuk dilakukan. “Mengapa saya tidak seperti saudara laki-laki dan perempuan saya?” Dia bertanya. “Mereka bisa makan dan minum apa pun yang mereka mau. Mengapa saya tidak bisa?”
Naseem menerima perawatan untuk penyakit ginjal di Rumah Sakit al-Rantisi di Kota Gaza. Sementara rumah sakit menyediakan dialisis dan beberapa obat gratis, tetap saja perawatan Naseem membutuhkan hampir $100 per bulan untuk biaya lainnya. Jumlah tersebut membuat keluarganya berada di bawah tekanan yang cukup besar. Ayah Nassem bahkan dipenjara karena hutang yang belum dibayar.
Staf di al-Rantisi – satu-satunya rumah sakit di Gaza yang menyediakan cuci darah untuk anak-anak – melakukan yang terbaik untuk merawat pasien ginjal seperti Naseem. Namun blokade yang telah dialami Gaza selama 16 tahun sekarang membuat mereka tidak dapat memberikan layanan yang memadai.
Kementerian kesehatan Gaza baru-baru ini memperingatkan bahwa rumah sakit al-Rantisi sangat membutuhkan tabung untuk mesin cuci darah, serta peralatan penting lainnya. Kementerian Kesehatan juga menyatakan bahwa Israel telah memblokir teknologi kamera yang digunakan dalam tes pada pasien ginjal untuk memasuki Gaza selama hampir dua tahun terakhir.
Dr. Nabil Ayad, Kepala Departemen Nefrologi di Rumah Sakit al-Rantisi mengatakan, “Menjadi dokter pada dasarnya adalah pekerjaan kemanusiaan,” ujarnya. “Tapi di Gaza, kami para dokter bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi. Saya selalu lelah, secara fisik dan emosional. Hati saya sakit untuk setiap ibu yang melihat anaknya menderita.”
Rekannya Dr. Muhammad al-Anqar mencatat bahwa kekurangan obat telah memaksa rumah sakit untuk memberikan dosis yang lebih rendah daripada yang direkomendasikan secara internasional.
Kementerian kesehatan Gaza baru-baru ini melaporkan bahwa rumah sakit di Gaza bekerja hanya setengah dari kapasitasnya. Sekitar 40 persen obat-obatan dan lebih dari 30 persen persediaan medis tidak lagi tersedia. “Beberapa pasien membutuhkan obat tiga kali sehari,” kata al-Anqar. “Namun kami hanya bisa memberi mereka sekali.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








