Blokade Israel terhadap Gaza telah mendorong hampir dua juta warga Palestina ke krisis kemanusiaan yang parah, dengan ibu hamil, anak-anak, orang sakit, dan lansia menjadi kelompok yang paling terdampak.
Habib Qeshta (27 tahun) dan istrinya, Nour, baru-baru ini mengetahui mereka akan dikaruniai dengan seorang bayi laki-laki. Namun, kegembiraan itu sirna ketika janin mereka meninggal akibat malnutrisi setelah empat bulan kehamilan di tengah serangan udara dan kelaparan yang diberlakukan Israel. Pada masa kehamilannya, Nour hanya mengonsumsi makanan seadanya seperti kacang kaleng dan rempah yang tidak cukup untuk mendukung kehamilan.
Krisis gizi ini bukan kasus tunggal. Dalam paruh pertama 2025, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat setidaknya 2.500 kasus keguguran dan kematian neonatal. Rumah sakit di Khan Younis melaporkan angka dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah malnutrisi, kekurangan vitamin, keruntuhan layanan medis, serta trauma akibat pengungsian, pengeboman, dan ketakutan yang terus-menerus.
Bagi lansia seperti Salim Asfour, (85 tahun), blokade ini membuat kondisi tubuhnya semakin memburuk. Setelah kehilangan sekitar 35 kilogram akibat kelaparan dan hidup di tenda darurat, ia nyaris tidak mampu berdiri. Meski beberapa bantuan makanan diizinkan masuk, suplai yang terbatas dan mahal membuat pemulihan nyaris mustahil. Ia terpaksa menahan lapar selama berhari-hari demi menyisihkan sebagian makanan untuk cucu-cucunya.
Sementara itu, menjelang serangan ofensif militer Israel untuk menduduki Kota Gaza, Israel menghentikan jeda serangan untuk memungkinkan distribusi bantuan dan menegaskan wilayah tersebut sebagai “zona tempur”. Ini merupakan taktik militer untuk memaksa warga mengungsi ke selatan. Akibatnya, banyak warga yang tidak dapat mengakses bantuan karena jarak jauh, tingginya risiko serangan, dan kapasitas distribusi yang sangat terbatas.
Krisis ini menunjukkan bagaimana taktik militer dan blokade Israel telah menciptakan kombinasi bencana kemanusiaan sangat serius, terutama terhadap mereka yang seharusnya menjadi kelompok paling dilindungi: ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Dampaknya meliputi malnutrisi, trauma psikologis, dan kerentanan ekstrem.
Sumber: MEE








