Fotografer lepas Sameh Murad berada di Rumah Sakit al-Shifa saat mengalami masa terburuk dalam hidupnya pada Jumat, 13 Oktober. Istri, anak perempuan, ibu, dan saudara dari laki-laki berusia 29 tahun tersebut tengah meninggalkan utara Kota Gaza dengan mengendarai truk pick-up, menuju daerah Khan Younis di selatan. Nahas, istrinya, Dina Taher, meninggal pada hari itu ketika serangan udara mengebom konvoi warga sipil yang melarikan diri.
“Dia adalah cinta dalam hidupku,” katanya kepada Al Jazeera. “Saya rasa saya tidak akan pernah bertemu orang seperti dia lagi.” “Kami saling mencintai. Pada 2021 saya mendengar bahwa seseorang telah meminta keluarganya untuk menikahkan putrinya, jadi saya melakukan segala cara untuk meyakinkan keluarganya bahwa saya cocok menjadi suaminya.”
Dina sempat stres selama seminggu karena Israel tak henti-hentinya mengebom Kota Gaza. Ia mengkhawatirkan keselamatan kedua putrinya, Mayar yang berusia 22 bulan dan bayinya Mirna. Hari itu, kata Sameh, Israel meminta warga Palestina di Gaza utara untuk mengungsi dan menuju ke selatan, dan Dina berpikir mereka harus melakukan hal tersebut agar aman. “Dia tidak yakin, tapi dia juga khawatir, dan pada akhirnya dia pergi,” katanya sambil menunduk. Sameh tetap tinggal di Rumah Sakit al-Shifa bersama jurnalis lain yang bekerja dari sana – rumah sakit tersebut melindungi ribuan orang yang kehilangan rumah dan berkumpul dalam ketakutan.
Namun, para pengungsi menjadi sasaran bom Israel. Lebih dari 70 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dalam konvoi tersebut. Sameh panik ketika mendengar keluarganya berada di salah satu truk yang menjadi sasaran, korban tewas dan luka-luka dibawa ke RS Shifa, katanya. Sebuah mobil penumpang kemudian membawa keluarganya kembali ke Rumah Sakit al-Shifa. Sameh berlari ke mobil dan menarik putrinya dengan lega. Kemudian dia menyadari bahwa Dina tidak ada di dalam mobil.
“Ambulans membawa mereka yang terbunuh ke pintu masuk lain,” katanya terbata-bata. “Saya tahu dia sudah pergi. “Saya tidak dapat menggambarkan perasaan saya saat menerima panggilan telepon pertama yang meminta saya memeriksa keluarga saya.”
Ibu Sameh, Samah Murad Masameh, 47 tahun, telah berada di RS al-Shifa sejak konvoi tersebut diserang. Dia merawat cucu-cucunya dan saudara laki-laki Sameh, Waseem, yang terluka dalam pengeboman tersebut.
Masameh masih shock atas apa yang terjadi. “Agresi ini berada pada tingkat yang berbeda,” katanya sambil menarik napas dengan gemetar. Mereka baru saja keluar dari Kota Gaza, dekat Shujaea, katanya, ketika orang-orang di jalan mulai memperingatkan konvoi tersebut untuk kembali karena mereka mendengar bahwa pengungsi lainnya telah terbunuh. Namun, truk-truk tersebut terus melaju, sejauh sekitar 20 meter (66 kaki), sebelum akhirnya terdengar ledakan.
“Saya belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Kami diliputi asap hitam tebal dan jeritan pilu memekakkan telingaku, tetapi aku tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. “Menantu perempuanku mengalami pendarahan di dahinya. Aku mencoba menyeka darahnya dan menanyakan apa yang terjadi padanya. Ketika ia memalingkan wajahnya, aku melihat dia kehilangan matanya dan aku mulai berteriak. Lalu aku memintanya untuk tetap kuat dan sadar. Aku memanggil ambulans dan kami akan keluar dari sana.
“Kemudian anakku Waseem mulai berteriak bahwa kakinya terluka. Serangan-serangan itu masih menimpa kami dari langit. Aku berhasil mendorong putriku keluar dari bak truk, yang penuh dengan orang tewas dan terluka, dan menyuruhnya berlari secepat yang dia bisa.
“Anakku berteriak agar aku membantunya tetapi aku hanya bisa menyuruhnya berbaring karena khawatir lukanya akan bertambah parah. “Sekitar 30 orang dari kami bersembunyi di balik pembatas beton yang dulunya merupakan pos pemeriksaan polisi di dekat jalan raya. Kemudian malaikat berwujud sopir berhenti di dekat truk dan aku melihatnya menggendong anakku ke mobilnya. Aku berlari ke arah mereka, dan dia membawa kami semua ke rumah sakit.
“Sejak itu, aku tidak bisa tidur satu menit pun. Putriku tidak bernyawa, tidak ada emosi atau reaksi darinya. Menantu perempuanku… Tuhan telah mengistirahatkan jiwanya. Setiap kali aku menutup mata, seolah pemandangan yang sama kembali aku saksikan di depan Mata. Aku tahu akan memerlukan terapi berbulan-bulan hanya untuk bisa melewati ini. Aku tidak tahan dengan apa yang aku saksikan.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







