Beirut Abu Shamala lahir pada 4 Agustus 2020 di Gaza, ratusan kilometer jauhnya dari ibu kota Lebanon. Pada hari yang sama, sebuah ledakan melanda Lebanon, menyebabkan kerusakan besar di jantung kota Beirut.
Orang tua bayi tersebut memutuskan untuk menamainya Beirut untuk menghormati kota tersebut, mengenang penduduknya dan 200 penduduknya yang tewas akibat ledakan di pelabuhan ibu kota.
Kembali dihadapkan dengan kekejaman, Beirut terbunuh tiga tahun setelah dilahirkan dalam sebuah ledakan, ketika sebuah rudal Israel menghantam rumahnya di Khan Younis, sebuah kota di Jalur Gaza selatan, yang telah dinyatakan “aman” oleh Israel.
Militer Israel selama beberapa pekan terakhir telah memperingatkan masyarakat di Gaza utara untuk pindah ke selatan atau berisiko dibom. Namun, nyatanya tidak ada wilayah Gaza yang aman bagi 1,2 juta penduduknya, dan Beirut termasuk di antara 3.900 anak-anak yang terbunuh sejak 7 Oktober.
Berita kematian Beirut dan kisahnya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia Arab, khususnya di Lebanon. Banyak orang menggunakan media sosial untuk mengungkapkan kesedihan dan duka mereka terhadap anak yang diberi nama berdasarkan kota yang hancur, dan meninggal di tengah kehancuran rumahnya.
Di Gaza, “satu anak terbunuh setiap 10 menit”, Jason Lee, Direktur Save the Children untuk wilayah Palestina, mengatakan kepada The Washington Post. Save the Children memperkirakan sekitar 1.000 anak masih terjebak di bawah reruntuhan, katanya.
Sementara itu, awak pertahanan sipil di Gaza mengatakan kepada Middle East Eye bahwa kehancuran telah begitu luas dan pengeboman terjadi terus-menerus sehingga mereka terpaksa meninggalkan mayat-mayat di bawah reruntuhan dan mengerahkan upaya mereka untuk mengevakuasi orang-orang yang masih hidup. Petugas pertahanan sipil memperkirakan ratusan orang tewas di bawah bangunan yang runtuh.
Beirut diberi nomor 251 ketika kementerian kesehatan Palestina merilis nama-nama mereka yang terbunuh antara tanggal 7 dan 26 Oktober. Beberapa orang menulis di media sosial bahwa Beirut dan semua anak-anak lain yang terbunuh “tidak boleh disia-siakan”, kisah mereka harus diceritakan dan diingat selamanya.
Pekan lalu, Unicef menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera dan akses kemanusiaan yang tidak dibatasi agar bantuan dapat menjangkau anak-anak dan keluarga yang membutuhkan, menyelamatkan nyawa, dan mencegah penderitaan lebih lanjut.
“Ribuan anak-anak dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka. Anak-anak dan keluarga di Gaza tidak mendapatkan akses terhadap air, makanan, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya, termasuk akses aman ke rumah sakit,” kata Unicef dalam sebuah pernyataan. “Kerugian yang ditanggung anak-anak dan komunitas mereka akibat meningkatnya kekerasan akan ditanggung oleh generasi mendatang.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها







