Tiga bayi Palestina meninggal karena hipotermia di Gaza selatan selama dua hari terakhir. Blokade Israel yang mencekik membuat kondisi musim dingin ini menjadi sulit untuk dilalui.
Para dokter melaporkan pada Rabu (25/12) bahwa seorang bayi perempuan berusia tiga pekan mati kedinginan dalam semalam karena suhu udara yang anjlok di tengah musim dingin di wilayah Gaza yang menghadapi genosida dan blokade ketat Israel.
Tenda bayi itu tidak dapat menahan dinginnya angin dan lembabnya tanah, kata para dokter.
Pada Kamis (26/12), bayi lainnya, Sila Mahmoud al-Faseeh, ditemukan tidak sadarkan diri. Saat dokter menanganinya, kondisi paru-parunya memburuk dan dia dinyatakan meninggal karena hipotermia.
“Pada pagi hari, ketika ibunya hendak menyusuinya lagi, tubuhnya telah membiru dan darah keluar dari mulutnya karena kedinginan,” kata ayahnya dalam video yang dibagikan secara online sambil menggendong buah hatinya itu dalam kain kafan putih. Bibir bayi itu terlihat ungu dengan wajah yang pucat.
“Dia menggigit lidahnya. Ia tidak sanggup menahan dingin hingga membeku.”
Bayi tersebut “mati kedinginan karena suhu dingin yang ekstrem di al-Mawasi,” kata Dr Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina, melalui platform X.
Dalam postingan lainnya, ia menggambarkan tenda-tenda di Gaza sebagai “lemari es kematian”, seraya mengutip kematian dua bayi lainnya karena kedinginan.
Menurut Ahmed al-Farra, Kepala Pediatri dan Kebidanan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, bayi-bayi tersebut berusia tiga hari dan satu bulan.
Kematian tersebut memperlihatkan kondisi yang mengerikan di Gaza, tempat ratusan ribu warga Palestina yang terlantar berkumpul di tenda-tenda darurat yang tidak memadai, demi menghindari serangan Israel di berbagai bagian Jalur Gaza.
Militer Israel telah menduduki dan mengepung Gaza sejak Oktober 2023, memblokir hampir semua pasokan penyelamat jiwa yang diperlukan – termasuk listrik, air bersih, bahan bakar, makanan, obat-obatan, dan tenda.
Pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 45.259 warga Palestina di Gaza sejak 7 Oktober tahun lalu, menurut angka terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina yang diterbitkan pada Ahad. Mayoritas korban meninggal adalah perempuan dan anak-anak.
Puluhan orang lainnya meninggal akibat kondisi buruk yang diberlakukan oleh tentara Israel, termasuk kelaparan, kurangnya perawatan medis, dan hipotermia.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








