Banjir yang tersebar di berbagai wilayah selama tiga bulan terakhir telah membuat kehidupan sekitar 19 juta anak terancam di lima negara yang paling terkena dampak. Save the Children mengatakan hal tersebut guna menyoroti perlunya KTT COP27 pada pekan depan untuk mengendalikan darurat iklim. Anak-anak di Pakistan, Nigeria, India, Chad, dan Sudan Selatan, telah menyaksikan banjir terbesar pada Agustus hingga Oktober tahun ini. Banjir di lima negara tersebut memengaruhi total 38,7 juta orang, menurut International Disasters Database, dengan ribuan orang tewas dan jutaan mengungsi. Aliran air yang melebihi level bahaya meninggalkan jejak kehancuran di setiap negara. Di antaranya, rumah terendam, tanaman hancur, dan sekolah terpaksa ditutup yang mengganggu pendidikan ribuan anak.
Hujan monsun yang deras, dipercepat oleh pencairan glasial, memicu banjir bandang yang memecahkan rekor di Pakistan pada musim panas ini. Banjir berdampak parah pada sekitar 16 juta anak. Banjir secara tidak proporsional melanda rumah tangga yang paling rentan di daerah termiskin di Pakistan, menghanyutkan ternak dan jutaan hektar lahan pertanian, serta menenggelamkan seluruh desa. Sebagai akibat langsung dari banjir, antara 8,4 hingga 9,1 juta orang mungkin terjerumus ke dalam kemiskinan, menurut perkiraan resmi pemerintah. Jumlah orang yang kelaparan di Pakistan juga melonjak hingga 45% atau 8,62 juta orang yang sekarang menghadapi krisis atau tingkat darurat kerawanan pangan, dengan 3,4 juta di antaranya adalah anak-anak.
Berdasarkan Data Kerawanan Pangan Akut, lima negara yang paling terkena dampak banjir semuanya menderita kerawanan pangan tingkat tinggi dan berada dalam cengkeraman krisis kelaparan yang dipercepat oleh bencana iklim. Di Nigeria sekitar 19 juta orang sudah mengalami tingkat krisis kelaparan atau lebih buruk. Banjir ekstrem yang menghancurkan ratusan ribu hektar lahan pertanian pun memperparah keadaan. Lebih dari 1,25 juta anak telah terkena dampak banjir terburuk yang melanda Nigeria dalam satu dekade. Sedikitnya 250 sekolah hancur dan jutaan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, banjir telah berdampak serius pada pembelajaran anak-anak.
Falimata (16 tahun), gadis yang tinggal di Likdir di Negara Bagian Yobe, timur laut Nigeria, menjelaskan, “Kami belum pernah mengalami banjir dalam jumlah besar di wilayah kami [sebelumnya]. Banjir tahun ini telah menghancurkan rumah, menyapu bersih pertanian orang tua saya, dan memblokir jalan menuju sekolah kami. Kami tidak punya air bersih. Kami kekurangan makanan dan kesulitan mengakses layanan medis. Saya sekarang tinggal di rumah tanpa pergi ke sekolah dan saya tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung. Impian saya adalah untuk mengedukasi dan menunjang komunitas saya secara luas.”
Krisis iklim mengubah dunia dengan implikasi serius bagi anak-anak. Menurut laporan Save the Children, sepertiga dari populasi anak di dunia hidup dengan dampak ganda kemiskinan dan risiko iklim yang tinggi. Laporan tersebut juga menemukan bahwa 80% anak-anak diperkirakan terkena setidaknya satu peristiwa iklim ekstrem dalam setahun. Yolande Wright, Direktur Global Save the Children Child Poverty, Climate, and Urban, mengatakan, “Sangat mengkhawatirkan berapa banyak negara yang menderita banjir yang memecahkan rekor tahun ini, terlebih dalam tiga bulan terakhir. Ketika melihat skala total bagaimana krisis iklim mempengaruhi anak-anak di seluruh dunia, hampir tidak terbayangkan.
“COP27 merupakan salah satu peluang terakhir untuk mengendalikan keadaan darurat iklim dan menyediakan dana ambisius untuk mengamankan masa depan yang aman bagi planet kita dan generasi yang akan datang. Krisis iklim adalah krisis hak anak yang keputusannya akan dibentuk di Sharm el-Sheikh dan dapat memengaruhi masa depan anak-anak,” tambahnya.
Diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir di kelima negara tersebut. Namun, skala kebutuhan yang diperlukan untuk rekonstruksi yang berkelanjutan kemungkinan besar melebihi sebagian besar sumber daya yang tersedia di negara-negara tersebut. Save the Children menyerukan kepada pemerintah di COP27 untuk mendukung terciptanya mekanisme pendanaan kerugian dan kerusakan iklim baru untuk membantu mengatasi biaya dampak krisis iklim terhadap hak-hak anak.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








