Maysoon al-Nabahin mengoleskan krim keju terakhirnya ke dalam sepotong roti yang baru dipanggang. Itulah satu-satunya makanan yang akan dimakan oleh delapan anggota keluarganya pada hari itu.
Umm Muhammad, begitu dia disapa, telah melarikan diri dari sebuah sekolah di Bureij, tempat ia bersama suami dan enam anaknya berlindung setelah pasukan Israel menghancurkan rumah mereka di Bureij timur di Gaza tengah.
“Kami mengonsumsi menu yang sama; makanan kaleng, krim keju karton, dan kacang fava. Kami memanaskannya di atas api untuk dimakan. Dulu, ada gula tersedia, tetapi sekarang harganya menjadi mahal. Kami membuat teh dengan dukkah [sejenis ramuan kering] atau thyme… itu cukup,” kata Umm Muhammad kepada Al Jazeera di bawah suara dengung drone Israel.
Tidak ada makanan segar. Hanya makanan olahan dalam kaleng dan karton, dan itu tidak cukup untuk semua orang. Seperti banyak orang tua di Gaza, Umm Muhammad dan suaminya sering kelaparan untuk memastikan anak-anak mereka mendapat makanan, terlebih lagi sebagian besar anak-anaknya masih muda dan dalam tahap perkembangan.
“Permen dan biskuit yang dibagikan [oleh lembaga bantuan], membuat anak-anak menjadi diare, sementara tidak ada tempat atau air untuk mandi, atau membersihkan anak-anak ketika mereka diare,” keluhnya.
Meski hidup sulit, Ummu Muhammad tetap bersyukur. Anak-anaknya menanyakan makanan yang ingin mereka makan atau makanan yang mereka rindukan, namun dia mengatakan bahwa keluarganya telah beradaptasi dengan situasi buruk tersebut. Mereka telah menemukan cara untuk bertahan hidup, termasuk untuk makan atau pergi ke kamar mandi.
Selama tiga hari sebelum Ramadan, Al Jazeera mengikuti keluarga al-Nabahin dan mencatat asupan makanan harian mereka untuk mendokumentasikan bagaimana mereka, seperti banyak keluarga lain di Gaza, bertahan hidup dalam kondisi minimal.
Hari ke-1
Setelah tidak makan apa pun untuk sarapan, Ummu Muhammad menyiapkan roti saj dengan krim keju karton. Keluarga itu membayar 10 shekel ($2,75) untuk mendapatkan tiga kotak krim keju. Ternyata itu adalah satu-satunya makanan pada hari itu.
Jika dibagi untuk delapan orang, makanan yang tersedia secara kasar menghasilkan 330 kalori per orang, jauh lebih rendah dari nilai rata-rata harian yang direkomendasikan, yaitu setidaknya 1.000 kalori untuk anak-anak dan sekitar 2.000 kalori untuk orang dewasa.
Hari ke-2
Karena tidak ada makanan lain yang tersedia, keluarga al-Nabahin mengonsumsi roti saj dengan keju yang sama seperti hari sebelumnya.
“Sejak kami di sini, makanannya sama setiap hari. Kami bersyukur kepada Allah atas hal ini,” kata Umm Mohammed dengan sedih.
“Saya punya anak yang suka makan, dan saya selalu bilang kepadanya bahwa dia makan berlebihan,” Umm Muhammad tertawa.
Hari ke-3
Pada hari ketiga, Ummu Muhammad berhasil memasak sepiring daging kalengan dengan potongan tomat yang mereka dapatkan dari kupon bantuan Program Pangan Dunia (WFP).
Terakhir kali Ummu Muhammad menyiapkan makanan untuk keluarganya adalah ketika mereka masih di rumah.
“Kami ingin hidangan dengan saus di sampingnya tetapi tidak ada saus di sini. Kami ingin rempah-rempah, kaldu, atau lainnya, tapi tidak ada,” katanya.
Israel telah berulang kali memblokir pengiriman pasokan bantuan, termasuk makanan, meskipun Mahkamah Internasional pada Januari telah memerintahkan Israel untuk “memastikan pengiriman layanan dasar dan bantuan kemanusiaan penting kepada warga sipil di Gaza”.
Menurut laporan yang didukung PBB yang diterbitkan pada pekan lalu, setengah dari penduduk Gaza – 1,1 juta orang – telah kehabisan persediaan makanan dan menghadapi “kelaparan yang sangat besar”, yang merupakan indikator kelaparan tertinggi.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








