Sedikitnya lima warga Palestina terbunuh di Jalur Gaza sejak Senin (12/01) malam akibat runtuhnya bangunan dan tenda yang sebelumnya rusak oleh serangan udara Israel, di tengah badai musim dingin yang melanda wilayah tersebut. Sumber pertahanan sipil dan medis Palestina melaporkan bahwa hujan lebat dan angin kencang menyebabkan rumah-rumah retak serta struktur tidak stabil ambruk, menewaskan empat orang, termasuk seorang lansia, seorang anak, dan dua perempuan. Sejumlah warga lainnya mengalami luka-luka akibat runtuhnya bangunan yang rusak di Kota Gaza.
Seorang pria lanjut usia juga dilaporkan tewas saat berada di dalam tendanya di dekat Masjid Al-Saraya yang hancur, setelah sisa menara masjid tersebut roboh akibat badai. Cuaca ekstrem ini semakin memperburuk kondisi ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi dan tinggal di tenda-tenda darurat di seluruh Gaza. Hujan deras dan angin kencang menyebabkan ribuan tenda terendam, sobek, dan tercerabut, terutama di wilayah pesisir.
Di Gaza bagian tengah, ribuan pengungsi di Kamp Pengungsi Nuseirat terpaksa mencari perlindungan di masjid dan bangunan yang rusak sebagian setelah tenda-tenda mereka runtuh. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sekitar 127.000 dari 135.000 tenda pengungsi sudah tidak layak huni, sementara cuaca dingin ekstrem terus melanda wilayah tersebut. Kekurangan selimut dan alat pemanas dilaporkan melebihi 70 persen, membuat banyak keluarga menghadapi suhu beku tanpa perlindungan memadai dari hujan dan tanah yang lembab.
Hamas menyatakan bahwa kematian anak-anak dan lansia akibat cuaca dingin dan runtuhnya tempat tinggal menunjukkan bahwa Gaza masih menghadapi bentuk kekerasan paling ekstrem. Mereka juga mengkritik kegagalan komunitas internasional dalam menyalurkan bantuan dalam jumlah yang cukup.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 71.400 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 171.000 lainnya terluka akibat serangan Israel di Gaza. Meski gencatan senjata diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, serangan masih berlanjut dan telah membunuh sedikitnya 442 orang serta melukai lebih dari 1.200 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Dampak badai juga dirasakan di Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) dan Tepi Barat. Dua warga Palestina dilaporkan meninggal dunia akibat banjir. Pemerintah Provinsi Al-Quds menyebutkan bahwa seorang perempuan berusia 55 tahun meninggal setelah rumahnya terendam banjir setinggi sekitar 150 sentimeter di wilayah Anata, sementara tetangganya yang berusia 67 tahun meninggal akibat serangan jantung yang dipicu oleh kepanikan saat banjir. Komite darurat setempat mencatat sedikitnya sembilan rumah terendam total dan puluhan insiden penyelamatan ditangani oleh Pertahanan Sipil Palestina di berbagai wilayah Tepi Barat.
Sumber:
AA, MEMO







