Badai beserta hujan lebat dan sistem cuaca bertekanan rendah telah menambah lapisan kesulitan baru bagi warga Palestina yang mengungsi di seluruh Gaza.
Banjir menenggelamkan ratusan tenda yang menjadi tempat berlindung bagi keluarga-keluarga pengungsi. Kondisi ini memaksa banyak dari mereka untuk kembali mengungsi atau mencoba memperkuat tempat berlindung mereka. Hal ini terpaksa mereka lakukan meskipun bahan-bahan yang mereka miliki sangat terbatas.
Badai menghantam Jalur Gaza sepanjang malam dan berlanjut hingga Kamis (26/03). Badai ini telah memperparah penderitaan ribuan keluarga pengungsi di berbagai daerah. Air hujan meresap ke dalam banyak tempat penampungan darurat dan tenda yang terbuat dari kain dan plastik, serta membanjiri tempat lainnya. Kondisi ini memaksa banyak keluarga pengungsi untuk menghabiskan malam dengan menguras air dan menyelamatkan barang-barang mereka.
Dua orang terluka pada Kamis setelah sebuah tembok runtuh menimpa tenda-tenda yang menampung keluarga pengungsi di dekat pusat Kota Gaza. Dinas pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa peristiwa itu terjadi di dekat Stasiun Abu Asi di jalan al-Wahda di jantung Kota Gaza.
Di tengah badai, banyak keluarga, terutama anak-anak dan lansia, menghadapi risiko kesehatan yang mengerikan. Ini terjadi akibat cuaca buruk dan kondisi hidup yang sulit. Situasi ini semakin parah dengan kurangnya pasokan pemanas, pakaian musim dingin, tempat berlindung, dan kebutuhan vital lainnya.
Baca juga : “Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan“
Rekaman lapangan menunjukkan kamp-kamp pengungsian berubah menjadi genangan air dan lumpur. Tenda-tenda terendam dari dalam, dan pergerakan antarkamp menjadi sangat sulit. Kondisi tersebut memperlihatkan kerapuhan tempat penampungan, yang tidak dilengkapi pelindung untuk menahan cuaca buruk.
Selain itu, sistem drainase dan saluran pembuangan yang rusak menyebabkan genangan air di jalanan hingga ke dalam tempat penampungan. Krisis ini terjadi ketika ratusan ribu warga Palestina masih belum memiliki tempat tinggal tetap. Kondisi tersebut terjadi setelah seluruh lingkungan mereka hancur selama genosida.
Sekitar 1,9 juta pengungsi—dari total populasi 2,4 juta—hidup dalam kondisi yang sangat sulit, dengan kekurangan pangan, air, dan perawatan medis yang parah. Sebagian besar infrastruktur sipil Gaza, termasuk rumah, rumah sakit, sekolah, dan sistem air, telah rusak parah atau hancur, yang menyebabkan hampir runtuhnya layanan dasar.
Sementara itu, tentara pendudukan Israel terus meledakkan lebih banyak rumah dan melakukan serangan artileri serta serangan udara di wilayah timur dan tenggara Jalur Gaza, diiringi suara tembakan yang intensif.
Sumber: Palinfo, The Palestine Chronicle








