Sesuatu yang indah memang akan selalu diperebutkan, sebagaimana Kota Ariha (Jericho) di Tepi Barat yang tengah menghadapi nasib serupa. Jericho, wilayah yang dinyatakan sebagai salah satu kota tertua di dunia ini sejak dulu merupakan bagian dari Palestina. Bertahun-tahun kemudian, barulah Israel memunculkan diri, berupaya merebut pesona Jericho. Melihat permasalahan ini, UNESCO turun tangan mencoba menguraikan benang kusut yang menjeratnya.
Dalam rangka menengahi hal tersebut, UNESCO melakukan pemungutan suara pada sesi ke-45 Komite Warisan Dunia UNESCO di Riyadh pada 10 hingga 25 September 2023. Tidak hanya untuk mengembalikan Jericho kepada yang berhak memilikinya, upaya UNESCO ini juga bertujuan untuk melindungi situs warisan sejarah dunia ini dari penjajahan Israel.
Akan tetapi, keistimewaan apa sebenarnya yang membuat Palestina mati-matian mempertahankan tanahnya, dan Israel berupaya keras merebut Jericho?
Kota Bertembok Tertua di Dunia

Jericho adalah salah satu kota tertua di dunia yang masih berpenghuni. Kota ini memiliki warisan sejarah yang menakjubkan sejak ribuan tahun silam. Salah satunya adalah keberadaan tembok pelindung tertua di dunia. Tercatat sejak tahun 8.000 SM, penduduk Jericho telah mampu membangun tembok batu besar di sekeliling permukiman.
Pada masanya, wilayah ini diperkirakan dihuni oleh sekitar 2.000–3.000 orang yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani. Dapat dikatakan bahwa Jericho menyimpan bukti permukiman permanen pertama yang membuka peradaban modern manusia.
Sekitar 1,5 kilometer ke sebelah utara Jericho dan 10 kilometer barat laut Laut Mati, terdapat situs yang biasa disebut sebagai Jericho kuno (Tel es-Sultan). Situs ini berada di bawah Lembah Yordan, sekitar 250 meter di bawah permukaan laut, membuatnya menjadi kota kuno yang terendah di dunia.

Akrab dikenal dengan sebutan Jericho kuno atau Tel es-Sultan, situs ini ternyata memiliki beberapa nama lain. Kota Palms; Surga Tuhan; Kota Bulan; Kota Raksasa (Jabareen); dan ibu kota Ghor. Nama Kana’an kunonya adalah “Ariha”, berasal dari nama Dewa bulan Kana’an kuno, “Yeriho”, dan dari “Ruha”, yang berarti “aroma”, “parfum”, dan “Ar-Riha” (dalam bahasa Arab). Nama Arabnya saat ini menyatukan nilai referensial dari Kota Kana’an, yaitu wewangian dan nama Dewa bulan. Nama Kana’an kuno “Ruha” baru-baru ini ditemukan di Tel es-Sultan pada sebuah batu berukir Mesir dari milenium kedua SM, yang menunjukkan kesinambungan warisan Palestina selama ribuan tahun.
Tel es-Sultan merupakan lokasi yang menjadi tempat lahirnya peradaban yang memiliki warisan kekayaan budaya. Beragam material masih dapat disaksikan di situs tersebut, seperti saluran irigasi, mata air ‘Ain es-Sultan, juga jalanan-jalanan kuno yang menjadi persimpangan dan perantara bertemunya kebudayaan dan perdagangan.
Di lokasi ini juga terdapat permukiman pertanian berbenteng pertama yang dibangun dalam sejarah peradaban manusia. Selama milenium ke-9 hingga ke-8 SM, kota ini dikelilingi tembok batu, menara, dan parit. Komunitasnya mempraktikkan karakteristik penting kehidupan Neolitikum yang terkait dengan pemujaan leluhur. Hal tersebut terlihat dari keberadaan sejumlah tengkorak yang diplester, dicat, dan cangkang di rongga mata yang menjadi ciri dari ritual khusus mereka selama ribuan tahun lamanya.



Potret benteng dan bangunan kuno di kota Ariha (Jericho)
(Sumber: https://www.thearchaeologist.org/; https://www.timesofisrael.com/; https://www.britannica.com/)
Seiring berjalannya waktu, dari awal milenium ke-3 hingga pertengahan milenium ke-2 SM, Tel es-Sultan menjadi salah satu kota Kana’an yang paling kuat dan megah. Jalanan diapit oleh rumah-rumah atau permukiman, furnitur-furnitur modern ditemukan di rumah-rumah dan pemakaman. Bentengnya yang kokoh pun tetap gagah bertahan selama lebih dari seribu tahun hingga kehancuran terakhirnya pada 1.550 SM oleh serangan bangsa Pharos Mesir.
Lokasi strategis Jericho kuno, di bagian bawah Lembah Yordan dekat Laut Mati, menjadikannya sebagai stasiun perdagangan regional dan internasional yang berkembang di dunia pada masa itu. Situs ini menghubungkan Asia dengan Afrika, berkontribusi pada pertukaran nilai-nilai budaya, ide, dan kepercayaan, sebagaimana dibuktikan dengan berbagai materi budaya impor yang ditemukan di Jericho, seperti obsidian.
Keberadaan obsidian di Jericho dalam jumlah besar pada masa Pra-Tembikar Neolitik telah menandai hubungan perdagangan jarak jauh dengan Anatolia yang terletak 500 mil dari Jericho. Di sisi lain, benda dan barang-barang khas Jericho yang diekspor juga ditemukan di situs lain di kawasan yang disebut Levantina. Jericho mengekspor aspal dan sumber alami lainnya dari Laut Mati, khususnya ke Mesir, yang menggunakan produk tersebut terutama untuk mumifikasi dan pelapisan perahu. Berbagai barang Mesir seperti kepala gada marmer, palet sekis, vas teratai, cangkang mutiara, dan scarab juga diimpor ke Jericho selama Zaman Perunggu, menjadikannya kota perdagangan yang cukup terkenal di kawasan Timur Tengah pada masa tersebut.
Jericho Saat Ini

Ribuan tahun berlalu, namun pesona Jericho tidak berubah, bahkan semakin bertambah. Kekayaan sejarah yang terkandung di dalamnya telah menjadi kharisma tersendiri. Pada 17 September 2023, Komite Warisan Dunia UNESCO memutuskan melakukan pemungutan suara untuk menentukan hak milik kota kuno Jericho, atau yang dikenal juga dengan sebutan Tel es-Sultan. Hasilnya, pada 18 September 2023, UNESCO menetapkan bahwa Jericho merupakan situs warisan budaya milik Palestina. Keputusan tersebut dibuat tanpa keberatan dari negara anggota organisasi mana pun.
Dengan keluarnya keputusan tersebut, Palestina kini memiliki lima situs resmi yang terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Situs-situs ini termasuk Al-Quds (Yerusalem) beserta Kota Tua dan Temboknya, Betlehem (Tempat Kelahiran Yesus: Gereja Kelahiran dan Rute Ziarah), Battir (Palestina: Tanah Zaitun dan Tanaman Merambat – Lanskap Budaya Yerusalem Selatan), dan Hebron (Kota Tua dan Temboknya).
Akan tetapi, Israel tentunya menentang keras hasil keputusan tersebut. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut bahwa keputusan UNESCO tersebut “tidak adil”. Mereka menegaskan bahwa Tel Aviv akan berupaya mengubah “semua keputusan tidak adil yang dibuat oleh organisasi tersebut.” Kementerian Luar Negeri Israel menganggap hal itu sebagai upaya “eksploitasi UNESCO terhadap Palestina dan politisasi organisasi tersebut.”
Israel, sampai kapan pun tidak akan pernah menerima segala bentuk warisan yang merupakan milik Palestina. Segala hal akan mereka lakukan untuk mengklaim apa pun yang menjadi hak dan identitas Palestina, mulai dari makanan, pakaian, budaya, bahkan hingga situs sejarah seperti yang terjadi pada Ariha (Jericho) saat ini.
Akan tetapi, sekuat apa pun Israel berusaha melakukan klaim identitas, Palestina akan lebih kuat lagi mempertahankan apa yang menjadi hak milik mereka. Sebab ini bukan hanya perkara tentang perebutan situs sejarah, ini adalah persoalan yang menyangkut harga diri, hak kepemilikan, dan tentunya identitas kebangsaan Palestina yang selamanya tak akan pernah bisa dialihkan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://english.wafa.ps/Pages/Details/137625
https://whc.unesco.org/en/tentativelists/6545/
https://www.thearchaeologist.org/blog/ancient-jericho-the-first-walled-city-in-history
https://www.britannica.com/place/Jericho-West-Bank
https://daysofpalestine.ps/unesco-faces-israeli-ire-over-jericho-heritage-bid/
https://www.#/20230630-saudi-arabia-refuses-to-allow-israel-to-attend-unesco-meeting/
https://daysofpalestine.ps/unesco-listing-of-jerichos-tel-al-sultan-angers-israel/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








