Cop adalah singkatan dari Conference of The Parties atau Konferensi Para Pihak yang merupakan konferensi pengambilan keputusan tertinggi dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Selama hampir tiga dekade, pemerintah dunia telah bertemu hampir setiap tahun untuk membahas tanggapan global terhadap darurat iklim. Di bawah UNFCCC tahun 1992, setiap negara terikat pada perjanjian untuk “menghindari perubahan iklim yang berbahaya” dan menemukan cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global dengan cara yang adil.
Cop27 tahun ini diselenggarakan oleh pemerintah Mesir di Sharm el-Sheikh, yang dibuka pada 6 November. Selama dua hari setelah itu, yaitu Senin (7/11) dan Selasa (8/11) , para pemimpin dunia akan berkumpul untuk serangkaian pertemuan tertutup, dan mengarahkan pejabat mereka untuk mendapatkan jenis kesepakatan yang dibutuhkan. Mereka kemudian akan pergi, meninggalkan negosiasi yang rumit kepada perwakilan mereka, terutama menteri lingkungan atau pejabat senior yang serupa. Jadwal pertemuan berakhir pada pukul 6 sore pada Jumat (18/11). Namun, melihat pengalaman sebelumnya, Cop kemungkinan akan diperpanjang hingga Sabtu (19/11) atau bahkan Minggu (20/11).
Selama pembukaan Cop27 pada Minggu (6/11), para diplomat menyetujui untuk membahas apakah negara-negara kaya harus memberikan kompensasi kepada negara-negara miskin yang paling rentan terhadap krisis iklim. Hal-hal tersebut berkaitan dengan “pengaturan pendanaan yang menanggapi kerugian dan kerusakan yang terkait dengan dampak buruk perubahan iklim, termasuk fokus pada penanganan kerugian dan kerusakan” akan menjadi agenda, kata mereka. Dimasukkannya item tersebut dalam agenda sebagai bentuk “mencerminkan rasa solidaritas dan empati atas penderitaan para korban bencana akibat iklim,” kata Presiden Cop27, Sameh Shukri dari Mesir.
Suhu di seluruh dunia telah mencapai sekitar 1,1-1,2 derajat celcius di atas tingkat pra-industri, dan emisi gas rumah kaca masih terus meningkat. Output karbon dioksida turun selama lockdown Covid-19 tetapi emisi kembali meningkat ketika kegiatan ekonomi mulai pulih kembali. Untuk tetap berada dalam batas maksimal 1,5 derajat celcius, emisi global perlu turun sekitar 7% per tahun selama dekade ini. Peningkatan suhu hingga 1,5 derajat celcius akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut, pemutihan terumbu karang dan peningkatan gelombang panas, kekeringan, banjir, badai yang lebih ganas, dan bentuk cuaca ekstrem lainnya. Namun, hal tersebut hanya sebagian kecil dampak dibandingkan jika kenaikan suhu mencapai 2 derajat celcius.
Kerusakan dan kehancuran akibat krisis iklim hasil kenaikan suhu tersebut telah membuat ‘kiamat’ di beberapa belahan dunia, termasuk angin topan, banjir dahsyat yang melanda Pakistan, atau kekeringan yang melanda sebagian besar Afrika. Pemulihan dari kehancuran seperti itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Jika kenaikan suhu terus terjadi, infrastruktur negara berkembang, layanan seperti kesehatan dan pendidikan, dan peluang mereka untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dapat mengalami kerusakan permanen.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








