Amnesty International memperingatkan bahwa meskipun gencatan senjata di Gaza telah memasuki bulan kedua dan seluruh tahanan Israel yang masih hidup telah dibebaskan, tindakan yang dikategorikan sebagai genosida oleh Israel tetap berlanjut.
Gencatan senjata dinilai sekadar menciptakan ilusi bahwa keadaan mulai membaik. Sekjen Amnesty, Agnes Callamard, menegaskan bahwa Israel hanya menurunkan skala serangan, bukan menghentikannya. Serangan udara masih terjadi, pelanggaran gencatan terus tercatat, dan ratusan warga Palestina kembali menjadi korban.
Amnesty sejak 2024 telah menetapkan perang Israel di Gaza sebagai genosida—sebuah penilaian yang kemudian dikuatkan oleh badan investigasi tertinggi PBB pada September 2025. Puluhan pemimpin dunia, sejarawan, dan pakar genosida turut mengonfirmasi kesimpulan tersebut.
Di lapangan, warga Gaza menghadapi “kematian perlahan” akibat minimnya bantuan, tempat tinggal yang hancur, kelangkaan pangan, penyebaran penyakit, dan runtuhnya sistem kesehatan. Israel terus membatasi masuknya makanan dan bantuan, sementara Rafah tetap ditutup. Hanya sekitar 200 truk bantuan yang diizinkan masuk per hari, jauh dari kesepakatan 600 truk, dan blokade laut masih diberlakukan sepenuhnya.
Di bawah gencatan senjata yang ditengahi AS, Israel tetap menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza dan mempertahankan keberadaan pasukan mereka di dalam daerah tersebut. AS dan Israel juga menyusun rencana yang dikhawatirkan akan mempartisi Gaza secara de facto melalui pembangunan hunian sementara bagi warga Palestina yang telah “disaring”, di atas tanah milik warga Gaza sendiri.
Menurut PBB, biaya rekonstruksi Gaza diperkirakan mencapai 70 miliar dolar AS dan akan memakan waktu beberapa dekade. Ekonomi Gaza telah menyusut hingga 87 persen sejak 2023. Israel menghancurkan hampir seluruh unit rumah, lahan pertanian, serta melarang akses warga terhadap laut dan lahan produktif. WFP melaporkan bahwa mayoritas keluarga kini tak mampu membeli bahan pangan dasar.
Gabungan dari blokade, kehancuran infrastruktur, pembatasan pangan, serta perusakan lahan membuat warga Gaza kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri.
Sumber: MEMO








