Seorang anggota Knesset Israel dari Partai Likud telah membuat rencana untuk membagi kompleks Masjid Al-Aqsa untuk orang Yahudi dan Muslim, memicu kekhawatiran besar dari warga Palestina. Dalam Zeman Israel, sebuah surat kabar berbahasa Ibrani, Amit Halevi mengatakan bahwa pembagian kompleks seluas 14 hektar itu hanya akan menyisakan area di ujung selatan tempat Masjid Al-Qibli berada untuk umat Islam, sementara wilayah lainnya akan diserahkan kepada Yahudi, termasuk tempat Dome of the Rock (Kubbat as-Sakhrah) berada.
Dalam wawancara tersebut, Halevi juga menyarankan agar otoritas dan kontrol Yordania atas Al-Aqsa dihapuskan. Padahal, keluarga kerajaan Hashimiyah Yordania adalah penjaga situs suci Muslim dan Kristen di kota Yerusalem, termasuk Al-Aqsa, yang telah lama diatur berdasarkan kesepakatan yang dibuat selama mandat Inggris di Palestina.
“Jika mereka beribadah di sana, itu tidak menjadikan seluruh Temple Mount menjadi tempat suci bagi umat Islam. Itu tidak pernah dan tidak akan terjadi,” kata Halevi, menggunakan istilah Yahudi Temple Mount untuk merujuk ke Al-Aqsa.
“Kami akan mengambil ujung utara dan berdoa di sana. Seluruh tempat itu suci bagi kami, dan Kubah Batu adalah tempat Kuil itu berdiri. Ini harus menjadi pedoman kami. Israel adalah penguasa. Ini akan menjadi pernyataan sejarah, religi, dan nasional,” kata Halevi. Ia juga berusaha mengubah prosedur akses bagi orang Yahudi yang mengunjungi Al-Aqsa, menuntut agar orang Yahudi diizinkan memasuki kompleks melalui semua gerbang, bukan hanya melalui Gerbang Maroko barat daya (Bab al-Mugharabi). Ia mengatakan bahwa 15 gerbang masjid seharusnya berada di bawah kendali penuh otoritas Israel yang tidak dapat diakses oleh warga Palestina.
“Ini adalah tempat Kuil Pertama dan Kuil Kedua yang dibangun oleh para imigran Babilonia. Tidak ada yang perlu memeriksa batu-batu itu untuk mengetahui bahwa itu adalah milik kita,” katanya lagi. “Ada masjid di selatan gunung dan kami menghormatinya. Berdoalah di sana dan berikan bagian kami.”
Rencana yang diusulkan itu jelas saja disambut dengan kemarahan dan penolakan oleh warga Palestina yang mengatakan bahwa itu akan “membakar wilayah tersebut ke dalam tungku perang agama”. Komite Kepresidenan Tinggi Urusan Gereja di Palestina juga menyatakan bahwa rencana itu harus “dihentikan dan dikonfrontasi”.
Orang-orang Palestina telah lama khawatir bahwa zionis akan membangun fondasi untuk membagi kompleks antara Yahudi dan Muslim, seperti yang terjadi pada Masjid Ibrahimi di Hebron yang dipecah pada 1990-an. Bagaimanapun, dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan jumlah serbuan Israel ke Al-Aqsa semakin signifikan. Puluhan orang bergabung dalam serbuan, dengan jumlah yang meningkat menjadi ratusan pada hari raya Yahudi, seperti Paskah, Purim, Hari Yerusalem, dan lainnya. Misalnya, pada Hari Yerusalem tahun 2018, lebih dari 1.600 pemukim menyerbu masjid.
Pada 2009, 5.658 pemukim menyerbu masjid. Pada 2019, tepat sebelum pandemi Covid-19, jumlahnya naik menjadi 30.000, menurut beberapa sumber. Palestina mengatakan serangan itu merupakan upaya ultranasionalis untuk mengklaim kepemilikan agama atas situs suci dan menghapus budaya dan agama Palestina dari Al-Aqsa. Untuk menghentikan serangan, warga Palestina telah lama mengorganisasi aksi keagamaan ketika para jemaah berkumpul di masjid selama berjam-jam bahkan berhari-hari untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsa.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








