Sejumlah aktivis kemanusiaan yang ditangkap bersama Greta Thunberg saat berlayar menuju Gaza menyatakan bahwa pasukan Israel melakukan penyiksaan, penghinaan, dan penelantaran selama penyanderaan mereka.
Para aktivis merupakan peserta dari Global Sumud Flotilla, konvoi 42 kapal dari lebih dari 40 negara yang berupaya menembus blokade laut Israel untuk mengirimkan bantuan simbolis ke Gaza yang dilanda kelaparan. Israel mencegat armada itu dan menculik sekitar 450 orang, termasuk jurnalis, anggota parlemen, dan aktivis dari berbagai negara.
Kesaksian para sandera menggambarkan perlakuan yang brutal. Jurnalis Turki Ersin Çelik mengatakan kepada TRT World bahwa tentara Israel “menyeret Greta Thunberg” dan “memaksanya mencium bendera Israel,” bahkan Thunberg disiksa dan dipermalukan di aktivis lainnya. Aktivis Malaysia Hazwani Helmi menuturkan bahwa mereka “dibiarkan tanpa makanan, air bersih, atau obat-obatan,” sementara presenter Turki Ikbal Gürpınar mengaku mereka “harus minum dari toilet setelah tiga hari tanpa air.”
Jurnalis Italia Lorenzo D’Agostino dan Saverio Tommasi juga melaporkan pelecehan fisik dan psikologis. Mereka dipaksa berjaga sepanjang malam, diintimidasi dengan anjing, bagian laser senjata diarahkan ke tubuh mereka. “Kami diperlakukan seperti hewan. Ini penyiksaan,” ujar Tommasi sepulangnya di Roma. D’Agostino menambahkan bahwa barang-barang mereka “dicuri oleh tentara Israel.”
Beberapa saksi mata mengatakan Thunberg dibungkus dengan bendera Israel dan “dipamerkan seperti trofi.” Dalam laporan The Guardian, surat internal Kementerian Luar Negeri Swedia mengonfirmasi Thunberg mengeluhkan dehidrasi, luka kulit akibat kutu kasur, dan dipaksa duduk lama di permukaan keras.
Israel menolak semua tuduhan tersebut. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir bahkan menyatakan kebanggaan atas perlakuan terhadap para aktivis, menyebut mereka “pendukung terorisme yang pantas merasakan kondisi penjara Ketziot.” Kementerian Luar Negeri Israel menegaskan bahwa “semua hak hukum tawanan telah dipenuhi” dan menyebut tuduhan penyiksaan sebagai “kebohongan keterlaluan.”
Sebaliknya, lembaga bantuan hukum Adalah menyebut para sandera dipaksa difilmkan di depan bendera Israel dan diancam akan ditahan lebih lama jika menolak. Pengacara Sena Eliküçük berencana mengajukan pengaduan resmi ke PBB dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), menyebut perlakuan itu sebagai “pelanggaran berat terhadap martabat manusia.”
Pemerintah Swedia dan Turki telah menuntut klarifikasi dan jaminan keselamatan warganya. 137 sandera yang dilepaskan telah diterbangkan ke Istanbul pada Sabtu, sementara lainnya masih disandera di Israel.
Insiden ini memperdalam isolasi diplomatik Israel di dunia internasional. Negara-negara seperti Turki, Yunani, Kolombia, dan Pakistan mengajukan protes resmi, sementara demonstrasi besar pecah di berbagai kota dunia.
Perlakuan terhadap Thunberg, seorang aktivis lingkungan hidup, dianggap banyak pihak akan semakin meruntuhkan citra Israel, yang telah menghadapi kecaman luas atas agresi dan blokade brutalnya terhadap Gaza sejak Oktober 2023.
Sumber: The New Arabic
![Thunberg adalah aktivis paling terkenal yang terlibat dalam upaya mematahkan pengepungan Israel di Gaza [Getty]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/2218910971-750x375.jpeg)






![Pemandangan dari Global Sumud Flotilla, sebuah inisiatif internasional yang bertujuan mencapai Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan, di laut pada 30 September 2025. [Ognjen Markovic – Anadolu Agency]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/AA-20250930-39263620-39263616-INTERNATIONAL_GAZABOUND_FLOTILLA_NEARS_HIGHRISK_ISRAELI_ZONE-1-1-75x75.webp)
