Mahasiswa di Universitas Queen Mary, London, memilih untuk tidak berafiliasi dengan Persatuan Mahasiswa Nasional (NUS) sebagai tanggapan atas pemecatan Shaima Dallali sebagai Presiden NUS. Persatuan Mahasiswa Queen Mary menuduh NUS telah “berkontribusi pada penyebaran rasisme anti-Palestina” dengan memecat Dallali. Mereka menggambarkan pemecatannya sebagai “penghinaan terhadap sifat demokratis yang diusung NUS”. “Keputusan ini berarti Serikat Mahasiswa akan berhenti terlibat dalam kegiatan politik, kampanye, dan proses perwakilan NUS, termasuk Konferensi Nasional, dengan segera,” kata pernyataan di situs web Universitas Queen Mary.
NUS mengumumkan pada awal November bahwa mereka telah memecat Dallali setelah penyelidikan kode etik independen menudingnya sebagai antisemit. Penyelidikan dilakukan oleh kelompok-kelompok Zionis yang agresif, termasuk Persatuan Mahasiswa Yahudi (UJS). Mereka menerbitkan surat terbuka yang mengungkapkan keprihatinan tentang postingan media sosial yang diunggah lebih dari sepuluh tahun lalu oleh perempuan berusia 26 tahun itu. Unggahan tersebut merujuk pada pertempuran yang terjadi pada awal abad ke-7 antara umat Islam dan penduduk Yahudi di Khaybar, sebuah oasis di Jazirah Arab. Postingan tersebut menyebutkan bahwa “tentara Muhammad” akan kembali ke Gaza.
Menulis di Twitter, Dallali mengungkapkan bahwa dia baru mengetahui pemecatannya melalui postingan di platform media sosial, ironisnya itu terjadi tepat pada hari pertama Bulan Kesadaran Islamofobia. “Itu tidak dapat diterima,” tegasnya. Dallali adalah seorang mahasiswa yang lahir dari ayah Tunisia dan ibu Sudan. Dia datang ke Inggris pada 2000 dan belajar di City University of London dan memperoleh gelar master di bidang Hukum.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








