• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Akademisi Palestina dan Suara yang Dibungkam

by Adara Relief International
Juni 10, 2022
in Artikel
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Akademisi Palestina dan Suara yang Dibungkam
14
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Semakin tinggi burung terbang, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Ungkapan tersebut kurang lebih sesuai untuk menggambarkan kisah Shahd Abusalama, seorang perempuan akademisi Palestina yang kehilangan pekerjaannya di Inggris hanya karena satu alasan: ia adalah orang Palestina.

Shahd Abusalama berasal dari Gaza, Palestina. Kakek dan nenek Shahd berasal dari Desa Beit Jerja, tetapi ketika terjadi peristiwa Nakba pada 1948, rumah, tanah, dan mata pencaharian mereka dihancurkan sehingga memaksa mereka untuk mengungsi ke Gaza dan menetap di kamp pengungsian selama bertahun-tahun. Di kamp pengungsian inilah Shahd lahir dan menghabiskan masa mudanya.

Seperti anak-anak Palestina lainnya, masa kecil Shahd sangatlah berat. Setiap hari ia diakrabkan dengan suara ledakan bom dan tembakan rudal. Gedung-gedung yang hancur dan nyawa-nyawa melayang adalah pemandangan sehari-hari yang ia saksikan sejak kecil hingga dewasa.


Shahd Abusalama
Sumber : https://www.aljazeera.com/opinions/2022/2/10/how-a-palestinian-academic-defeated-a-campaign-to-silence-her

Namun demikian, hidup di tengah kekacauan tidak membuat Shahd putus harapan. Trauma masa kecil yang ia alami membuatnya semakin kuat dan bertekad untuk terus memperjuangkan keadilan bagi negaranya melalui pendidikan. Perjuangan Shahd membawanya hingga dapat berkuliah di Inggris. Ia menyelesaikan pendidikan masternya di Sekolah Studi Oriental dan Afrika kemudian melanjutkan pendidikannya dengan beasiswa di Universitas Sheffield Hallam. Pada Desember 2021 lalu ia telah menyelesaikan disertasi doktoralnya yang membahas mengenai representasi historis pengungsi Palestina di film-film dokumenter.

Ia menyelesaikan pendidikannya dengan cemerlang kemudian merintis karir menjadi dosen di universitas tempat ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Prestasinya membuat seorang seniman Inggris yaitu Marc Quinn mengabadikannya dalam bentuk patung yang ia sandingkan dengan akademisi masyhur asal Palestina lainnya seperti Andrew Feinstein, Paul Kelemen, dan Ilan Pappé.

Selain aktif di bidang akademis, Shahd juga aktif dalam memperkenalkan budaya Palestina kepada masyarakat Inggris. Ia dan sekelompok perempuan yang tergabung dalam gerakan anti-rasis internasional mendirikan Hawiya Dance Company dan sering membawakan musik, tarian, dan cerita rakyat Palestina ke berbagai kalangan masyarakat Inggris.

Baca Juga

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Bagi perempuan Palestina seperti Shahd, kesempatan untuk dapat menempuh pendidikan dan merintis karir di luar Palestina terbilang sulit dan harus melewati perjuangan yang sangat berat. Akan tetapi, perjuangan panjang tersebut dihancurkan oleh sebuah kebijakan yang dihasilkan dari pemerintahan yang rasis.

Pada Oktober 2020, Gavin Williamson, Menteri Luar Negeri Urusan Pendidikan, menuntut agar universitas mengadopsi definisi antsemitisme dari International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA). Terlepas dari apa pun tujuannya, kebijakan tersebut secara garis besar merupakan ‘senjata’ yang digunakan untuk menyerang para akademis pro-Palestina yang bersuara untuk menyampaikan fakta-fakta mengenai Palestina dan mengungkap kebijakan-kebijakan apartheid Israel.

Kebijakan ini tentunya ditentang oleh akademisi pro-Palestina. Sebuah surat terbuka dari 122 intelektual Palestina dan Arab merinci bagaimana definisi IHRA dan contoh-contoh yang menyertainya telah diinstrumentasikan dalam beberapa konteks untuk membungkam para pembela hak-hak Palestina. Kelompok kerja University College of London juga menyimpulkan bahwa definisi tersebut “tidak sesuai dengan tujuan”. Bahkan, Profesor Kenneth Stern, perancang utama definisi tersebut, mengatakan bahwa definisi tersebut seharusnya tidak boleh digunakan di lingkungan universitas.

Definisi itu pula yang akhirnya membuat Shahd terjebak masalah. Ia ‘diserang’ karena membela mahasiswanya yang menuliskan “Hentikan holocaust Palestina” di twitter. Setelah Shahd menyatakan dukungannya, Universitas Sheffield Hallam membatalkan kelas-kelas yang dijadwalkan untuk diajar oleh Shahd tanpa alasan dan penjelasan apa pun.

Para akademisi pro-Palestina segera menyuarakan kampanye dukungan untuk Shahd dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan, di antaranya dari seniman Inggris Lowkey, cendekiawan dan aktivis Palestina Rabab Ibrahim Abdulhadi, pembawa acara Aljazeera Marc Lamont Hill, dan koki internasional Abu Julia dan Rubio.

Shahd juga memperoleh dukungan dari kelompok mahasiswa dari universitas yang berada di seluruh Inggris. Dukungan luas yang diterimanya merupakan bukti bahwa Shahd tidak hanya sekedar dosen di mata mereka, melainkan seorang teman, aktivis, dan tentunya seorang Palestina.

Kampanye tersebut, dengan dibantu oleh Pusat Dukungan Hukum Eropa dan universitas serta serikat pekerja, akhirnya berhasil mencabut penangguhan Shahd di Universitas Sheffield Hallam dan terus berupaya untuk mencegah serangan seperti itu terulang kembali. Dunia akademik bukanlah panggung rendahan yang digunakan untuk menjatuhkan satu sama lain hanya karena alasan rasisme. Dunia akademik adalah tempat kehormatan yang ditujukan untuk orang-orang yang saling mendukung dan melengkapi bidang keilmuan masing-masing, terlepas dari unsur gender, etnis, dan kepercayaan masing-masing.

Shahd bukanlah satu-satunya akademisi Palestina yang mengalami peristiwa rasisme seperti itu. Tahun lalu, Profesor David Miller dipecat dari pekerjaannya di Universitas Bristol tanpa alasan. Hal tersebut menyusul kampanye permusuhan dari kelompok-kelompok Zionis pro-Israel yang menuduh pria berusia 57 tahun itu mendukung “antisemitisme”, meskipun dua penyelidikan terpisah telah menyatakan membebaskan Miller, namun pengusirannya tidak dibatalkan.

Para pegiat telah memperingatkan bahwa pemecatan Miller hanyalah salah satu kasus yang terungkap. Mereka berargumen bahwa jika tuduhan tanpa bukti saja sudah cukup untuk membuat akademisi dikeluarkan dari jabatannya, kelompok pro-Israel akan semakin berani mencemarkan nama baik orang atas kritik mereka terhadap Israel.

Menjadi orang Palestina tidaklah mudah, tidak terkecuali bagi para akademisi yang berjuang untuk menyuarakan fakta-fakta Palestina melalui kampanye media sosial, diskusi, maupun penelitian yang mereka lakukan. Jika di negaranya sendiri mereka berjuang dengan taruhan nyawa, maka para akademisi yang menuntut ilmu di luar Palestina harus berjuang dengan ‘mengorbankan’ nama baik mereka.

Para akademisi Palestina adalah pejuang. Pada masa kecilnya, mereka bersekolah ‘ditemani’ tembakan rudal dan gas air mata. Memasuki usia remaja, mereka ‘diakrabkan’ dengan penangkapan, interogasi, dan penahanan administratif. Kemudian, ketika mereka telah lebih dewasa dan melanjutkan pendidikan di luar negaranya, hidup mereka tetap saja dipersulit dan suara mereka dibungkam.

Dunia pendidikan, seharusnya memandang semua kalangan secara setara, terlepas dari apa pun etnis, strata sosial, warna kulit, maupun keyakinannya. Akan tetapi, tangan-tangan kotor yang memasuki dunia pendidikanlah yang membuat para akademisi menjadi ‘terkotak-kotak’. Kebijakan-kebijakan tanpa dasar disusun hanya untuk memuaskan nafsu dan kepentingan pemegang kekuasaan. Pada akhirnya, kehormatan dunia pendidikan hanya tinggal nama, tanpa kewibawaan yang menaunginya. Pun bagi para akademisi Palestina, prestasi mereka bagai tak ada artinya, hanya karena sebuah definisi yang disalahgunakan.

Palestina, sama seperti negara-negara lainnya di seluruh dunia, berhak atas pendidikan yang layak, tanpa mengalami rasisme maupun diskriminasi hanya karena negara asal mereka. Anak-anak Palestina berhak untuk bersekolah, para pemuda Palestina berhak untuk berkuliah, para penduduk Palestina berhak untuk menjadi akademisi dan mendapat penghormatan layaknya ilmuwan pada umumnya. Hal ini sebab pendidikan bukanlah hanya untuk satu kalangan, melainkan untuk semua.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana  jurusan Sastra Arab, FIB UI.

 

Sumber :

https://qudsnen.co/caut-stands-up-for-academic-freedom-on-palestine-opposes-ihra-definition-of-antisemitism/

https://www.aljazeera.com/opinions/2022/2/10/how-a-palestinian-academic-defeated-a-campaign-to-silence-her

https://english.alaraby.co.uk/opinion/what-we-should-learn-shahd-abusalamas-victory

https://www.arabnews.com/node/2039366/middle-east

https://www.#/20220127-palestinian-academic-suspended-by-uk-university-using-controversial-definition-of-anti-semitism/

https://www.#/20190711-israel-restricting-visas-for-academics-visiting-palestine-universities/

https://english.alaraby.co.uk/news/suspended-palestinian-academic-reinstated-uk-university

https://www.haaretz.com/opinion/editorial/academic-occupation-1.10664954

 

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dari Al-Quds hingga ke Gaza: Warga Palestina menyambut Bulan Suci Ramadan

Next Post

Israel Menangkap 470 warga Palestina, Termasuk 64 Anak-Anak dalam Sebulan

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
23

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
114
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Israel Menangkap 470 warga Palestina, Termasuk 64 Anak-Anak dalam Sebulan

Israel Menangkap 470 warga Palestina, Termasuk 64 Anak-Anak dalam Sebulan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630