Parlemen Israel telah mengajukan dua RUU yang akan mengontrol sekolah dan staf pendidikan Palestina di bawah pengawasan ketat dinas keamanan dan intelijen Israel. Jika disahkan, salah satu rancangan undang-undang yang diusulkan pada Rabu (31/5) tersebut akan meminta kementerian pendidikan untuk melakukan pemeriksaan “keamanan latar belakang” calon guru.
RUU juga akan memberi wewenang kepada komite untuk membatalkan penunjukan atau memberhentikan guru dan staf sekolah jika mereka “teridentifikasi dengan organisasi teror” atau menyatakan dukungan untuk “perjuangan bersenjata negara musuh”. Dengan kata lain, RUU menuntut calon guru untuk dapat membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki “kedekatan dengan terorisme”.
Adapun RUU kedua menetapkan pedoman yang lebih ketat untuk mempersulit pemerolehan lisensi mengajar. Menurut RUU tersebut, lisensi sekolah harus mengakomodir “persyaratan mendasar dari sistem sekolah Israel” dengan tujuan untuk melawan “lahan subur hasutan liar yang ada di sekolah-sekolah tempat kurikulum Palestina diajarkan di Al-Quds (Yerusalem) Timur.” Komite Menteri untuk Legislasi dilaporkan telah menyetujui kedua RUU tersebut pada awal pekan ini.
Menurut Haaretz, Asosiasi untuk Hak Sipil di Israel mengatakan langkah tersebut merupakan langkah untuk mengembalikan “pengawasan layanan keamanan” internal Shin Bet terhadap sistem sekolah Palestina di wilayah jajahan Israel, yang sempat dihentikan pada 2005.
Sejak berkuasa awal tahun ini, pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memperkenalkan serangkaian undang-undang yang bertujuan untuk menenangkan kelompok sayap kanan di Israel, meskipun undang-undang tersebut melanggar hak-hak warga Palestina. Awal bulan ini, contohnya, anggota parlemen Israel mendorong undang-undang baru yang menetapkan hukuman hingga setahun penjara bagi mereka yang mengibarkan bendera Palestina. Adapun pada Februari, Knesset meloloskan RUU tahap pertama untuk menghentikan pendanaan perawatan medis “yang tidak penting” bagi warga Palestina di penjara-penjara Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








