Penangkapan Ahmad Manasra
Pada musim gugur sembilan tahun lalu, Ahmad yang masih berusia 13 tahun mengikuti sepupunya Hasan, 15 tahun, menerobos jalan-jalan permukiman Yahudi di Al-Quds (Yerusalem) Timur. Tanpa sepengetahuan Ahmad, Hasan telah merencanakan untuk pergi ke tempat tersebut dengan suatu tujuan. Sesampainya di sana, segalanya terjadi sangat cepat; Hasan melukai seorang anak laki-laki Israel berusia 13 tahun dengan pisau, kemudian menikam seorang pria Israel yang berada di lokasi tersebut.
Ketika Hasan dan Ahmad hendak kabur dari lokasi, saat itulah polisi Israel tiba. Tanpa peringatan apa pun, polisi Israel langsung menembak mati Hasan, sedangkan Ahmad ditabrak dengan mobil polisi, kemudian dipukuli dan dicemooh oleh orang-orang yang melewati lokasi tersebut. Sebuah video yang mendokumentasikan penyiksaannya menunjukkan Ahmad tergeletak di jalan dengan kaki ditekuk ke belakang, darah menggenangi kepalanya, sementara polisi dan orang-orang di sekitarnya mengejek dan mencemoohnya. Tapi penderitaan Ahmad tidak berhenti sampai di sana, melainkan membuka penderitaan-penderitaan lain yang menyiksa fisik dan mentalnya selama bertahun-tahun.

Usai menyiksa Ahmad di tempat kejadian, polisi Israel segera menangkap Ahmad untuk diinterogasi. Video yang bocor dari interogasinya menunjukkan ketika Ahmad menangis dan memukul-mukul kepalanya karena frustrasi saat interogator Israel meneriakkan pertanyaan kepadanya tentang serangan itu. Kurang lebih inilah percakapan antara Ahmad dan interogator yang terekam dalam video tersebut:
“Saya akan menunjukkan video yang membuktikan bahwa Anda berbohong. Diam!” bentak seorang interogator.
“Saya tidak ingat, tidak satu hal pun. Demi Tuhan, percayalah,” pinta Ahmad dalam rekaman interogasi itu. “Saya bangun keesokan harinya jam empat pagi. Ada pukulan di kepala saya. Saya tidak ingat! Apa yang terjadi pada saya?”
“Diam! Kamu pembohong! Setelah kamu menikam mereka, kamu mengejar mereka sambil memegang pisau seperti ini!” tuduh interogator itu.

Video interogasi Ahmad yang beredar di dunia maya telah meresahkan keluarga anak 13 tahun tersebut. Ayah Ahmad, Saleh Manasra, mengatakan bahwa istrinya, Maysoon Manasra, pingsan saat menyaksikan video putranya diteriaki oleh interogator Israel. “Istri saya tidak tahan melihat apa yang terjadi, jadi kami mematikan TV sehingga dia tidak bisa melihat apa yang terjadi pada putranya. Sepertinya dia (Ahmad) tidak mengingat apa pun, dan tidak ingat apa yang terjadi padanya.”
Keluarga Ahmad kemudian mengunjunginya di penjara HaSharon, yang terletak di antara Netanya dan Tel Aviv. Ayahnya mengatakan bahwa Ahmad tampak sangat kurus dan mendapat sembilan jahitan di kepalanya akibat luka yang diderita saat disiksa oleh polisi Israel. Ayah Ahmad mengatakan bahwa putranya mengeluhkan “tekanan keras” dari penjaga penjara, termasuk ancaman pembunuhan dan perlakuan buruk selama penahanan.
Israel dan Penangkapan Anak-Anak

Pada saat Israel menangkap Ahmad Manasra tahun 2015, anak-anak di bawah usia 14 tahun tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana berdasarkan hukum Israel. Oleh karena itu, Israel memodifikasi durasi sidang Ahmad. Israel sengaja membuat sidangnya berlangsung berlarut-larut, hingga akhirnya Ahmad divonis bersalah tepat setelah ulang tahunnya yang ke-14. Dua tahun kemudian, anggota parlemen Israel mengutip kasus Ahmad ketika mereka mengesahkan undang-undang yang mengizinkan anak Palestina berusia 12 tahun dipenjarakan atas tuduhan terorisme.
Sebuah kelompok hak asasi manusia, Defense for Children International-Palestine (DCI-P), memperkirakan bahwa setidaknya 700 warga Palestina yang berusia di bawah 18 tahun ditangkap setiap tahun di Tepi Barat, dan ratusan lainnya di Al-Quds (Yerusalem) Timur. Antara 2016–2021, kelompok tersebut telah mendokumentasikan 155 kasus pengurungan berkepanjangan terhadap tawanan Palestina di Tepi Barat, yang ditangkap oleh Israel sejak perang Timur Tengah pada 1967.
Para remaja yang ditangkap oleh Israel biasanya ditahan di sel berukuran 1 kali 1,5 meter (3 kali 5 kaki) yang diterangi cahaya tanpa henti, kata kelompok itu. Satu-satunya kontak mereka dengan manusia adalah dengan interogator mereka, meskipun kontak tersebut seringkali membuat mereka diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Para remaja yang merasakan dinginnya sel penjara Israel seringkali kembali ke keluarga mereka dengan kondisi penuh luka, kata Ayed Abu Eqtaish, Direktur DCI-P.
Sementara itu, di Israel, anak-anak yang usianya masih dibawah 16 tahun akan dikirim ke pusat penahanan khusus remaja. Di sana, mereka akan mendapatkan pendidikan dan konseling dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan penjara biasa. Pejabat kehakiman kemudian memutuskan apakah akan memindahkan mereka atau tidak. Sangat berbeda perlakuannya dengan yang terjadi di pusat penahanan di Palestina, yang tidak membedakan antara tawanan anak-anak dengan tawanan dewasa, sehingga tak jarang anak-anak Palestina menderita secara fisik dan mental di dalam tahanan.
Osama Saadi, seorang anggota Arab di Knesset (parlemen) Israel, mengatakan kepada surat kabar al-Araby bahwa ia menemukan empat video yang mendokumentasikan perlakuan buruk terhadap Ahmad Manasra. Video pertama menampilkan Ahmad terbaring di tanah dengan pendarahan di bagian kepala, video kedua menunjukkan saat Ahmad diborgol ke tempat tidur di sebuah rumah sakit, video ketiga adalah rekaman saat Ahmad berada di pengadilan, dan video keempat adalah saat Ahmad diinterogasi.
Saadi berargumen bahwa “tujuan dari kebocoran video-video tersebut adalah untuk mengirimkan pesan intimidasi dan menakut-nakuti anak-anak Palestina, bahwa nasib mereka akan seperti nasib Ahmad – bahwa nasib seperti itulah yang menanti mereka di ruang interogasi.” Video-video tersebut saat ini tidak semuanya tersedia di internet, karena kebijakan penayangan.


Bagi keluarga dan orang-orang terdekat Ahmad Manasra, transformasinya dari seorang anak laki-laki berhati lembut yang suka merawat burung dan menyukai sepak bola menjadi seorang tawanan dengan keamanan tinggi yang menderita penyakit mental dan cenderung putus asa adalah peringatan kelam tentang penjajahan Israel di Palestina dan dampaknya terhadap generasi muda. Amjad Abu Assab, ketua Komite Keluarga Tawanan di Al-Quds (Yerusalem), pada tahun yang sama saat Ahmad ditangkap, telah memandang Ahmad sebagai simbol yang mencerminkan penderitaan dan kesakitan sekitar 650 anak-anak (Palestina), yang telah ditahan sejak awal 2015.
Namun tentunya, pihak yang paling menderita dalam kasus ini selain Ahmad sendiri, adalah orang tuanya. “Ketika dia berusia 13 tahun dan dia sangat membutuhkan ibunya, dia dijebloskan ke penjara,” kata ibunya, Maysoon Manasra, dari rumah mereka di Beit Hanina, di Al-Quds (Yerusalem) timur. Letak rumah tersebut tepat berada di seberang jalan raya dari permukiman Pisgat Ze’ev, tempat rekaman pengawasan menunjukkan anak laki-laki yang memegang pisau mengejar seorang pria di jalan. Ia melanjutkan, “Penjara hanya memberikan rasa sakit.”
Kondisi Ahmad Manasra Saat Ini

Ahmad Manasra lahir pada 22 Januari 2003, yang artinya tahun ini usianya telah menginjak 21 tahun. Barangkali jika kondisinya berbeda, Ahmad saat ini tengah menikmati hari-harinya sebagai seorang mahasiswa, seperti umumnya para pemuda seusianya. Akan tetapi, hingga hari ini, Ahmad Manasra masih menderita di balik jeruji penjara, bahkan kemungkinan ia tidak menyadari hari ulang tahunnya sendiri.
Sejak awal, kasus Ahmad telah menjadi pemicu ketegangan Israel-Palestina. Kasus Ahmad Manasra di satu sisi membuat marah orang-orang Israel yang memandang Ahmad sebagai teroris yang berusaha membunuh orang-orang Israel seusianya, namun di sisi lain membuat marah orang-orang Palestina karena Ahmad diperlakukan sebagai korban massa yang kejam dan pengadilan yang tidak adil, serta dihukum dan disiksa karena kejahatan yang dilakukan oleh sepupunya yang sudah dibunuh.

Sejak 2015 hingga 2021, atau sekitar enam tahun sejak Ahmad dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan dan dijatuhi hukuman sembilan setengah tahun penjara dari yang awalnya 12 tahun, dokter mengatakan bahwa Ahmad menderita skizofrenia di sel isolasi dan penyakit mentalnya tersebut membuatnya mencoba menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Pada 2022, Ahmad dilaporkan dikurung di sel isolasi selama lebih dari 300 hari, kemudian pengacaranya melaporkan bahwa Ahmad mencoba meminum pemutih karena frustrasi.
Pada 2023, Ahmad juga dilaporkan pernah menderita sakit perut akut selama 45 hari, karena petugas penjara memberikannya makanan yang dipenuhi serangga dan mengurungnya di sel isolasi yang dipenuhi tikus. Meskipun nyawanya terancam di dalam penjara, tetapi Jaksa Agung Israel meminta Mahkamah Agung untuk menolak permohonan pembebasan Ahmad, dengan alasan amandemen kontraterorisme tahun 2018.
Menurut keluarga dan pengacaranya, Ahmad dikurung di sel kecil selama 23 jam sehari dan harus berjuang dengan paranoia dan delusi yang membuatnya tidak bisa tidur. Otoritas penjara Israel pertama kali memindahkannya ke ruang isolasi pada November 2021, menyusul perkelahiannya dengan tawanan lain akibat kondisinya yang sangat tidak stabil. Ahmad kemudian menjadi sangat ketakutan dengan halusinasinya sehingga dia dibawa ke bagian psikiatris Penjara Ramla setiap beberapa bulan. Namun, itu tidak banyak membantu, sebab dokter di rumah sakit tersebut hanya memberinya suntikan untuk menstabilkan Ahmad sebelum mengirimnya kembali ke sel isolasi, kata keluarganya.
Setelah permintaan berulang kali, otoritas penjara Israel mengizinkan seorang dokter dari organisasi nirlaba untuk mendiagnosis Ahmad saat ia berusia 18 tahun, atau lima tahun sejak penahanannya. Mengingat Ahmad dan keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit mental sebelumnya, psikiater yang berbasis di Al-Quds (Yerusalem), Noa Bar Haim, mengaitkan skizofrenia yang dialami Ahmad dengan dampak psikologis yang ia alami di penjara. “Penahanan yang terus-menerus terhadapnya pasti akan menyebabkan penyakitnya semakin parah dan menyebabkan cacat permanen,” dokter tersebut memperingatkan, sambil merekomendasikan pembebasan segera bagi Ahmad agar dapat menjalani perawatan psikiatris intensif.
Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, Ahmad kembali diisolasi. Pengacara Ahmad, Khaled Zabarqa, mengatakan bahwa kliennya bahkan mencoba mengiris pergelangan tangannya dengan benda tajam apa pun yang dia temukan di selnya. Zabarqa mengatakan bahwa kasus Ahmad adalah pertama kalinya komite pembebasan bersyarat secara surut menerapkan undang-undang yang melarang pembebasan dini untuk kasus keamanan. Kelompok hak asasi manusia telah mengecam undang-undang tersebut karena menciptakan dua norma hukum terpisah yang berlaku bagi tawanan Israel dan Palestina.
Kini, Ahmad bukan lagi anak-anak. Ia telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia 21 tahun, namun menderita berbagai penyakit fisik dan mental akibat penahanannya. Berkali-kali dikurung di sel isolasi hingga menderita skizofrenia dan halusinasi, banyak pihak telah menuntut Ahmad dibebaskan lebih awal dari penjara setelah menyelesaikan dua pertiga masa hukumannya. Namun, hingga saat ini pengadilan Israel terus menolak untuk membebaskan Ahmad, dengan alasan bahwa meskipun para tawanan biasanya boleh dibebaskan jika telah memenuhi syarat untuk bebas setelah sekian lama dipenjara, namun bagi Ahmad – yang dianggap sebagai “teroris” – hal itu tidak berlaku, terlepas dari usia maupun kondisi kesehatannya yang telah mengancam nyawa.
Meskipun kasusnya mendapat banyak perhatian, bahkan memicu konflik dan tuntutan pembebasan yang berlarut-larut, orang tua Ahmad bersikeras bahwa meskipun putra mereka telah tumbuh dewasa, Ahmad kemungkinan sama sekali tidak memahami apa yang terjadi pada hidupnya. “Mereka menyebutnya teroris. Saya kira dia bahkan tidak mengetahui apa yang telah dia lakukan,” kata ibu Ahmad, Maysoon.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber
https://www.youtube.com/watch?v=-_dCOrZYRc8
https://english.wafa.ps/Pages/Details/133912
https://www.aljazeera.com/news/2022/9/1/israeli-court-refuses-to-release-prisoner-ahmad-manasra
https://www.newarab.com/opinion/ahmeds-interrogation-symbolic-oppression-palestinian-children
https://mondoweiss.net/2022/03/freedom-for-ahmad-manasra/
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








