Kantor media pemerintah Gaza mengatakan pada Senin (16/02) bahwa hanya 29 persen kepatuhan yang tercatat dalam pembukaan kembali penyeberangan Rafah sejak awal bulan karena pembatasan ketat Israel.
Kantor tersebut mengatakan bahwa 811 orang dapat melakukan perjalanan masuk dan keluar melalui perbatasan darat Rafah antara tanggal 2 dan 15 Februari. Jumlah tersebut masih jauh di bawah total 2.800 pemohon yang hendak mengakses penyeberangan Rafah. Hal ini mencerminkan tingkat kepatuhan Israel yang hanya mencapai sekitar 29 persen.
Israel membuka kembali sisi Palestina dari perbatasan tersebut pada 2 Februari dengan cakupan yang sangat terbatas dan di bawah pembatasan yang ketat. Perbatasan tersebut telah berada di bawah kendali Israel sejak Mei 2024.
Menurut pernyataan tersebut, 455 warga Gaza mendapatkan izin keluar, sementara 456 orang mendapat izin masuk selama periode yang sama. Media Mesir dan Ibrani melaporkan bahwa 50 warga Palestina, termasuk pasien dan pendamping mereka, rencananya akan menyeberang setiap hari ke Gaza. Jumlah yang sama juga akan melakukan perjalanan dari Gaza menuju ke Mesir. Namun, kantor Gaza mengatakan Israel belum sepenuhnya memenuhi kesepakatan ini.
Perkiraan di Gaza menunjukkan bahwa sekitar 22.000 orang yang terluka dan sakit perlu meninggalkan wilayah tersebut untuk menerima perawatan medis. Mereka sangat memerlukan perjalanan ini di tengah situasi bencana di sektor kesehatan akibat genosida Israel.
Pada Senin malam (16/02), Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis menerima kelompok kesebelas warga Palestina yang kembali melalui penyeberangan Rafah di Gaza selatan. Kelompok ini bergabung dengan sejumlah kecil pengungsi yang kembali dalam sepuluh gelombang sebelumnya. Semuanya di bawah pembatasan dan prosedur ketat yang Israel berlakukan.
Warga Palestina menceritakan “perasaan yang tak terlukiskan” dalam perjalanan kembali ke Gaza yang menjadi semakin berbahaya. Penutupan jalan dan kerusakan infrastruktur penyeberangan telah mengubah proses kepulangan mereka menjadi risiko yang signifikan. Mereka terpaksa menunggu berjam-jam dalam kondisi yang tidak manusiawi. Laporan juga menunjukkan bahwa beberapa individu dalam kelompok sebelumnya menjadi sasaran praktik pemaksaan dan penangkapan di lapangan.
Angka resmi telah menunjukkan bahwa sekitar 80.000 penduduk telah mendaftarkan nama mereka untuk kembali ke Gaza. Ini merupakan tanda jelas yang menunjukkan tekad warga Palestina untuk menolak penggusuran dan tetap kembali meskipun terjadi kehancuran yang meluas.
Sumber: Middle East Monitor, Palinfo








