Israel telah membuka kembali penyeberangan Rafah, perbatasan antara Gaza dengan Mesir, untuk lalu lintas terbatas setelah menutupnya hampir dua tahun. Akan tetapi, sumber medis mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa hanya lima pasien yang mendapat izin meninggalkan Gaza pada Senin untuk perawatan medis. Ambulans telah menunggu berjam-jam untuk mengangkut pasien melintasi perbatasan, namun penyeberangan baru berlangsung setelah matahari terbenam.
Penyeberangan perbatasan Rafah memang telah dibuka sebagian, namun berbarengan dengan pembatasan tambahan untuk mengontrol pergerakan para pengungsi yang kembali. Tentara Israel telah mendirikan pos pemeriksaan bernama “Regavim” untuk memeriksa orang-orang yang memasuki Gaza dari Mesir.
Regavim, Ideologi Israel untuk Merebut Tanah Palestina
Saat gelombang pertama manusia melewati gerbang Rafah pada Senin (02/02), dokumen militer resmi Israel memberikan nama yang menunjukkan bahwa fasilitas tersebut tidak lagi berlaku sebagai penyeberangan perbatasan. Akan tetapi, Rafah kini berfungsi sebagai operasi pengendalian populasi.
Dalam pernyataan resmi di situs webnya pada Ahad (01/02), militer Israel mengumumkan istilah “Regavim Inspection Nekez“. Bagi analis Mohannad Mustafa, nama Regavim bukanlah kebetulan. “Dalam bahasa Ibrani, Regavim berarti ‘gumpalan tanah’ atau petak-petak lahan subur,” jelas Mustafa. “Tetapi itu bukan sekadar kata. Itu adalah pemicu bagi ingatan kolektif Zionis tentang penebusan tanah.”
“Menamakan koridor Rafah sebagai Regavim, militer mengirimkan pesan terselubung,” kata Mustafa. “Mereka membingkai kehadiran mereka di Gaza bukan sebagai misi keamanan sementara, tetapi sebagai bentuk ‘merebut kembali tanah air’ yang identik dengan ideologi para pendahulu mereka.”
Nekez, Cara Israel untuk Menyamakan Warga Gaza dengan Limbah
Analis Ihab Jabareen membawa nama Regavim selangkah lebih jauh. Ia berpendapat bahwa nama tersebut telah berevolusi melampaui makna linguistiknya. Hal tersebut bermaksud untuk menormalisasi kehadiran Israel dalam jangka panjang. Namun, Jabareen mengatakan bahwa penggunaan istilah Nekez dalam pernyataan militer Israel menandakan bahaya yang lebih besar lagi.
“Meskipun Regavim beroperasi sebagai merek politik, Nekez mengungkapkan pola pikir dingin dan rekayasa militer,” kata Jabareen kepada Al Jazeera. “Nekez adalah titik drainase. Ini adalah istilah hidrolik untuk mengelola limbah, air banjir, atau irigasi – bukan untuk memproses manusia.” Jabareen berpendapat bahwa menggambarkan penyeberangan perbatasan manusia sebagai “saluran pembuangan” mencerminkan tiga asumsi mengerikan yang kini menjadi formal dalam doktrin militer:
- Dehumanisasi: “Warga Palestina bukan lagi warga negara. Mereka adalah ‘massa cair’ atau ‘arus’ yang harus Israel atur untuk mencegah meluap,” kata Jabareen.
- Akhir dari negosiasi: “Anda tidak bernegosiasi dengan saluran pembuangan. Rafah bukan lagi perbatasan politik yang tunduk pada kedaulatan. Ini adalah masalah teknik yang harus Israel kelola.”
- Infrastruktur, bukan perbatasan: “Keamanan sekarang dikelola seperti sistem pembuangan limbah – murni teknis, tanpa memperhatikan hak asasi manusia.”
Kedua analis sepakat bahwa adopsi resmi kedua istilah ini menunjukkan realitas yang bukan merupakan penarikan penuh maupun deklarasi terhadap aneksasi. “Ini adalah formula untuk ‘kontrol diam-diam’,” jelas Jabareen. “Israel tidak perlu mendeklarasikan penyelesaian segera untuk mengendalikan wilayah tersebut. Dengan memperlakukan tanah sebagai ‘Regavim’ (tanah yang harus dipertahankan) dan penduduk sebagai ‘Nekez’ (arus yang harus disaring), mereka membangun realitas jangka panjang, menganggap Gaza sebagai ruang yang dikelola, bukan tanah yang merdeka.”
Mustafa setuju: “Nama ‘Regavim’ memberi tahu para pemukim: ‘Kami telah kembali ke tanah ini.’ Dan sebutan resmi ‘Nekez’ memberi tahu aparat keamanan: ‘Kami memiliki kendali untuk menghidupkan atau mematikan arus manusia sesuka hati.’”
Sumber: Al Jazeera








