Direktur Kementerian Kesehatan di Gaza, Dr. Munir Al-Bursh, mengatakan bahwa Gaza menyaksikan kelahiran sekitar 50 ribu anak sepanjang 2025. Angka ini merupakan penurunan sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan angka sebelum genosida. Hal tersebut merupakan akibat dari memburuknya kondisi kesehatan dan kehidupan akibat genosida Israel.
Al-Bursh menjelaskan dalam pernyataan pada Sabtu (31/01) bahwa sektor kesehatan di Gaza mencatat 4.900 kasus kelahiran bayi dengan berat badan rendah pada tahun yang sama. Angka ini merupakan peningkatan lebih dari 60 persen dibandingkan dengan periode sebelum genosida. Ia menambahkan bahwa 4.100 kasus kelahiran prematur tercatat selama 2025. Kasus tersebut merupakan akibat dari ibu yang terpapar stres psikologis dan fisik yang berat serta kurangnya perawatan kesehatan dasar.
Dalam konteks ini, Al-Bursh menunjukkan bahwa penilaian kejahatan genosida tidak hanya bergantung pada jumlah bayi yang lahir. Akan tetapi, itu juga bergantung pada ibu yang tidak dapat melahirkan dengan aman, bayi yang lahir dalam kondisi yang mengancam jiwa, dan mereka yang kehilangan nyawa sebelum kebutuhan minimum untuk bertahan hidup terpenuhi.
Dalam hal ini, Al-Bursh menekankan bahwa Israel terus secara langsung menargetkan anak-anak, termasuk pembunuhan janin dalam kandungan ibu mereka. Ia menjelaskan bahwa selama tahun 2025, tercatat 616 kasus kematian janin dalam kandungan. Angka ini setara dengan dua kali lipat angka yang tercatat sebelum genosida, mencerminkan dampak langsung agresi terhadap janin.
Ia juga menunjuk pada dokumentasi 457 kasus kematian bayi baru lahir segera setelah kelahiran. Peningkatan tersebut mencapai 50 persen, di tengah hampir runtuhnya layanan medis. Dalam konteks terkait, Al-Bursh mengatakan bahwa 60 persen warga Palestina yang Israel bunuh setelah perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku Oktober lalu adalah anak-anak dan perempuan.
Sumber: Palinfo








