• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 27, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan

Kehidupan di Tenda Pengungsian Gaza: Antara Penyakit dan Keputusasaan

by Adara Relief International
Januari 26, 2026
in Berita Kemanusiaan, Kesehatan
Reading Time: 3 mins read
0 0
0
Kehidupan di Tenda Pengungsian Gaza: Antara Penyakit dan Keputusasaan
19
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Hidup di Antara Dua Perang di Gaza

Keluarga Abu Amr telah mengungsi lebih dari 17 kali sejak genosida Israel di Gaza dimulai. Setiap perpindahan terus mempersempit pilihan mereka. Kini, mereka tinggal di tenda yang didirikan di samping tempat pembuangan sampah yang luas di daerah Remal, pusat Kota Gaza – salah satu dari sedikit tempat yang tersisa. Bagi keluarga tersebut, bertahan hidup telah menjadi perjuangan sehari-hari dalam melawan polusi, penyakit, dan kehinaan.

“Kami selalu mengatakan bahwa kami hidup di tengah dua perang di Gaza, satu yang membunuh dengan pengeboman, dan satu lagi adalah polusi sampah,” kata Saada Abu Amr (64), yang mengungsi dari Beit Lahiya dan sekarang tinggal di Kota Gaza. “Saya mengalami serangan asma, dan inhaler selalu saya bawa. Saya meletakkannya di bawah bantal dan menggunakannya beberapa kali pada malam hari karena bau sampah menghalangi saluran pernapasan saya.”

Genosida Israel di Gaza telah berdampak mengerikan pada penduduknya – lebih dari 70.000 orang telah kehilangan nyawa. Genosida juga telah menghancurkan atau merusak sebagian besar bangunan di Gaza – dalam sebuah kampanye yang menurut banyak warga Palestina merupakan upaya sistematis untuk membuat Gaza tidak layak huni. Hal ini membuat warga Palestina di Gaza berjuang untuk bertahan hidup di mana pun mereka bisa, meskipun kondisinya mengerikan.

Bagi Salem (40), keputusan untuk tetap berada di samping tempat pembuangan sampah berasal dari rasa keputusasaan. Salem menjelaskan bagaimana air limbah secara teratur merembes ke dalam tenda saat badai. “Saat angin kencang, air limbah masuk ke tenda kami, dan kadang-kadang terciprat ke pakaian kami. Kami tidak punya pakaian bersih cadangan; kami mengungsi tanpa pakaian dari rumah di Beit Lahiya. Kadang-kadang saya harus salat dengan pakaian kotor. Saya tidak punya pilihan; tidak ada uang, tidak ada air, dan ini musim dingin, pakaian butuh berhari-hari untuk kering.”

Menurutnya, hewan pengerat juga telah menjadi ancaman kesehatan yang serius. “Hewan pengerat ada di sekitar kami; kami semua baru saja pulih dari flu yang sangat parah. Ayah saya yang cacat hampir meninggal karena flu. Dokter mengatakan flu berat itu mungkin terjadi karena kontaminasi urin hewan pengerat. Gejalanya hampir mirip dengan infeksi virus corona.”

Baca Juga

Israel Memblokir Al Jazeera dan Al Mayadeen selama 90 Hari

Pembebasan Tawanan Tidak Mengakhiri Penderitaan Mereka

Krisis Kesehatan yang Parah

Para profesional kesehatan memperingatkan bahwa penumpukan sampah, limbah, dan kurangnya air bersih mendorong lonjakan penyakit. “Situasi kesehatan masyarakat di Gaza sangat buruk; kami melihat penyakit akibat infeksi virus dan bakteri dengan komplikasi parah yang belum pernah kami lihat atau tangani sebelum genosida,” kata Dr. Ahmed Alrabiei, konsultan internis dan ahli paru serta kepala departemen pulmonologi di Kompleks Medis al-Shifa.

“Terdapat peningkatan kasus sindrom Guillain-Barre, penyakit meningitis, gastroenteritis berat, melemahnya sistem kekebalan tubuh, infeksi saluran pernapasan, Hepatitis A, dan asma. Ada dugaan kasus kolera, tetapi untungnya, tidak ada kasus yang tercatat,” katanya kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan, rumah sakit beroperasi jauh melebihi kapasitas. “Tekanan bagi rumah sakit terlalu besar; kapasitas tempat tidur di sini sudah melampaui 150 persen. Di departemen paru-paru, kami hanya memiliki 20 tempat tidur, namun harus menangani 40 kasus. Kami terpaksa menempatkan pasien di kamar dan koridor, yang juga akan meningkatkan kemungkinan penyebaran infeksi di antara orang-orang. Kami juga menghadapi kekurangan obat-obatan, antibiotik, dan peralatan medis yang dibutuhkan untuk diagnosis sehingga menyebabkan keterlambatan pengobatan pada banyak kasus,” kata Alrabiei.

Kota Gaza sedang menghadapi salah satu krisis kemanusiaan dan lingkungan terberat, menyusul runtuhnya infrastruktur air dan sanitasi yang hampir total akibat serangan Israel. “Lebih dari 150.000 meter pipa dan sekitar 85 persen sumur air di dalam Kota Gaza hancur, di samping hancur totalnya pabrik desalinasi air,” kata Ahmed Driemly, kepala hubungan masyarakat di Kotamadya Gaza.

Sampah padat juga menumpuk di seluruh kota setelah pasukan Israel memblokir akses ke tempat pembuangan sampah utama Gaza di timur. “Lebih dari 700.000 ton sampah padat menumpuk di Jalur Gaza, termasuk lebih dari 350.000 ton di dalam Kota Gaza saja,” kata Husni Muhanna, juru bicara Pemerintah Kota Gaza.

Terlepas dari pengumuman fase kedua gencatan senjata yang didukung AS, para pejabat mengatakan bahwa Israel terus menghalangi upaya rekonstruksi – meningkatkan kekhawatiran akan runtuhnya sistem air dan sanitasi secara total serta ketidaklayakan permanen seluruh lingkungan. Artinya, keadaan tidak akan membaik dalam waktu dekat bagi warga Palestina yang terpaksa hidup dalam kondisi tidak sehat.

Sumber: Al Jazeera

ShareTweetSendShare
Previous Post

Setelah Dua Tahun Genosida, Satu-satunya Pembangkit Listrik di Gaza Kembali Beroperasi

Next Post

Pasien Kanker di Gaza Terjebak di Antara Genosida dan Blokade

Adara Relief International

Related Posts

Israel Memblokir Al Jazeera dan Al Mayadeen selama 90 Hari
Berita Kemanusiaan

Israel Memblokir Al Jazeera dan Al Mayadeen selama 90 Hari

by Adara Relief International
Januari 27, 2026
0
12

Israel  pada Senin (26/01) menyetujui perintah untuk memblokir akses ke situs web dan saluran YouTube Al Jazeera yang berbasis di...

Read moreDetails
Pembebasan Tawanan Tidak Mengakhiri Penderitaan Mereka

Pembebasan Tawanan Tidak Mengakhiri Penderitaan Mereka

Januari 27, 2026
11
Pasien Kanker di Gaza Terjebak di Antara Genosida dan Blokade

Pasien Kanker di Gaza Terjebak di Antara Genosida dan Blokade

Januari 26, 2026
26
Setelah Dua Tahun Genosida, Satu-satunya Pembangkit Listrik di Gaza Kembali Beroperasi

Setelah Dua Tahun Genosida, Satu-satunya Pembangkit Listrik di Gaza Kembali Beroperasi

Januari 26, 2026
18
Tepi Barat Hadapi Krisis Kemanusiaan Terburuk sejak 1967

Tepi Barat Hadapi Krisis Kemanusiaan Terburuk sejak 1967

Januari 26, 2026
18
Israel Setuju untuk Membuka Penyeberangan Rafah Secara Terbatas

Israel Setuju untuk Membuka Penyeberangan Rafah Secara Terbatas

Januari 26, 2026
20
Next Post
Pasien Kanker di Gaza Terjebak di Antara Genosida dan Blokade

Pasien Kanker di Gaza Terjebak di Antara Genosida dan Blokade

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]

    Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630