Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina pada Ahad menyatakan bahwa dua tawanan Palestina di Penjara Ramon, Israel, berada dalam kondisi medis yang mengancam nyawa akibat kelalaian medis yang terus berlangsung dari pihak otoritas penjara.
Dalam pernyataan yang dirilis setelah pengacara komisi mengunjungi kedua tawanan tersebut, disebutkan bahwa kondisi kesehatan dan kehidupan Dhafer al-Rimawi dan Mohammad Kleib terus memburuk. Keduanya ditahan di Penjara Ramon, yang terletak di wilayah Palestina 1948 yang diduduki Israel.
Dhafer al-Rimawi (34), warga Ramallah, menderita gangguan serius pada kelenjar tiroid. Ia seharusnya menjalani pemeriksaan darah pada November lalu, namun hingga kini Dinas Penjara Israel belum melakukan pemeriksaan apa pun. Al-Rimawi mengatakan bahwa penyakitnya membuat ia terus-menerus merasa kedinginan, sementara pihak penjara hanya memberinya satu selimut di dalam sel.
Pernyataan komisi juga mengungkap merebaknya penyakit kulit di kalangan para tawanan. Tubuh para tawanan dilaporkan mengeluarkan bau menyengat akibat bisul dan infeksi kulit–kondisi yang dialami oleh mayoritas tawanan.
Selain itu, al-Rimawi menggambarkan kondisi kelebihan kapasitas yang parah di dalam penjara. Setiap ruangan yang semula dirancang untuk enam orang kini diisi oleh 10 hingga 12 tawanan, memaksa sebagian dari mereka tidur di lantai.
Sementara itu, Mohammad Kleib (29) asal Provinsi Salfit dilaporkan menderita sobekan tulang rawan lutut serta gangguan irama jantung yang telah berlangsung selama tiga tahun. Meski telah menjalani pemeriksaan medis, ia belum menerima perawatan apa pun hingga saat ini.
Komisi menegaskan bahwa kondisi umum di dalam Penjara Ramon sangat tidak manusiawi. Sel dan blok penjara dikunci secara permanen, para tawanan dilarang berinteraksi satu sama lain, serta setiap hari mengalami penghinaan, pemukulan, kelaparan, dan penolakan sistematis terhadap layanan medis yang layak.
Berdasarkan laporan lembaga hak asasi manusia Palestina dan Israel, saat ini Israel menahan lebih dari 9.300 tawanan Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Banyak dari mereka mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis hingga menyebabkan sejumlah kematian di dalam tawanan.
Sumber: Palinfo








