Hujan deras yang mengguyur Jalur Gaza sejak Rabu (10/12) dini hari telah merendam ribuan tenda yang menjadi tempat tinggal sementara bagi warga Palestina yang terlantar. Para saksi mata melaporkan bahwa air hujan membanjiri berbagai area kamp pengungsian, dengan ketinggian air mencapai lebih dari 40 sentimeter di sejumlah tenda.
Menurut laporan koresponden Anadolu, curah hujan yang turun di tengah kondisi infrastruktur yang hancur total membuat ribuan keluarga semakin terpapar risiko. Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperingatkan adanya “bencana kemanusiaan yang mengancam” akibat cuaca buruk yang diperkirakan berlangsung hingga Jumat.
“Kami telah menerima lebih dari 1.000 laporan sejak pagi dari keluarga pengungsi yang tenda-tendanya terendam air,” ujar Basal. “Sistem tekanan rendah yang melanda Gaza meningkatkan genangan air di tempat-tempat pengungsian hingga lebih dari satu meter. Jam-jam mendatang akan sangat sulit bagi warga yang tinggal di pengungsian, karena hujan yang lebih deras diperkirakan turun.”
Basal menekankan bahwa bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh dari mencukupi kebutuhan 2,4 juta penduduk yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan parah. Ia menyerukan tindakan internasional segera serta penyediaan alternatif selain tenda yang dapat memberikan perlindungan minimal bagi keluarga yang terdampak.
Juru Bicara Kota Gaza, Hosni Mahna, mengatakan bahwa infrastruktur kota mengalami keruntuhan luas akibat serangan Israel yang telah menghancurkan tujuh dari delapan stasiun utama pemompaan limbah. Hal ini menyebabkan sistem pembuangan air hanya berfungsi 10% dari kapasitas normal.
“Kemampuan drainase air hujan menurun hingga 80%,” ujarnya, menambahkan bahwa tim kotamadya hanya bisa bekerja dengan 15% dari peralatan lama yang tersisa dan menghadapi kekurangan bahan bakar. Tumpukan puing di jalan-jalan Gaza juga menghambat aliran air menuju saluran drainase.
Selain itu, Unit Kotamadya Gaza memperingatkan risiko kesehatan besar akibat penumpukan sampah yang mencapai 700.000 ton di seluruh wilayah.
Berdasarkan data Kantor Media Pemerintah Gaza, sekitar 300.000 tenda dan hunian prefabrikasi masih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal paling dasar setelah dua tahun agresi genosida yang menghancurkan infrastruktur Gaza.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza dapat mencapai
USD 70 miliar, seiring dengan kerusakan akibat agresi yang telah membunuh lebih dari 70.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya sebelum gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober.
Sumber:
MEMO, AA







