“Saya tidur di atas selimut di lantai keramik yang dingin dan keras. Tidak ada kasur, tidak ada kursi roda, bahkan tidak ada bantal untuk menyangga punggung saya.” Iman, seorang perempuan difabel, menceritakan kondisi pengungsian di Gaza utara yang tidak layak huni bagi penyandang disabilitas. “Rasanya sendi-sendiku seperti terkikis lantai, punggungku terus-menerus sakit, dan kakiku bengkak karena duduk terlalu lama dalam posisi yang sama. Terkadang aku tak bisa mengubah posisiku tanpa bantuan orang lain, tapi semua orang benar-benar kelelahan.”
Iman adalah satu di antara banyak penyandang disabilitas di Gaza yang hidupnya penuh kesulitan akibat genosida. Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menyebut bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah “pandemi disabilitas”, karena ribuan orang menjadi difabel sejak genosida dimulai dua tahun lalu. Seluruh rumah sakit di Gaza saat ini telah hancur akibat pengeboman, membuat para penyandang disabilitas tidak bisa melakukan kontrol dan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Blokade ketat telah menghalangi masuknya alat bantu untuk difabel, juga kebutuhan yang sangat mendasar, yaitu makanan khusus dan air bersih. Menjadi penyandang disabilitas pada kondisi yang normal saja sudah cukup membuat mereka kesulitan, terlebih lagi dalam kondisi kehancuran pada saat ini. Genosida menambah penderitaan mereka berkali-kali lipat.
Di tengah berbagai perbedaan yang kasatmata, sesungguhnya para penyandang disabilitas juga sama seperti kita. Mereka merupakan manusia yang utuh, yang memiliki hak dan perasaan yang harus dijaga. Oleh sebab itu, setiap tahunnya ada satu hari yang diperuntukkan bagi mereka, yaitu Hari Internasional bagi Penyandang Disabilitas yang diperingati setiap tanggal 3 Desember. Tahun ini, tema yang diangkat yaitu “Fostering Disability Inclusive Societies for Advancing Social Progress” atau “Membina Masyarakat Inklusif Disabilitas untuk Memajukan Perkembangan Sosial.” Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa para penyandang disabilitas juga berhak mendapatkan hak sebagaimana manusia normal, serta berhak berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan, tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas di Gaza yang sangat membutuhkan perhatian dari dunia.
Perempuan Penyandang Disabilitas: Kelompok Rentan yang Terlupakan Oleh Dunia

Aseel Abu Al-Eish (51) dan Afaf Abu Al-Eish (33) adalah dua saudari yang menderita penyakit celiac, gangguan autoimun kronis yang merusak usus halus ketika penderitanya mengonsumsi gluten. Selain itu, Aseel dan Afaf juga merupakan penyandang disabilitas intelektual yang mengganggu kemampuan berbicara, pemahaman, dan perilaku mereka. Gejala yang mereka tunjukkan terkadang menyerupai sindrom tourette, gangguan neurologis yang menyebabkan seseorang melakukan gerakan dan suara berulang yang tidak dapat dikendalikan.
Sejak pasukan Israel meledakkan rumah mereka di Jabalia, Aseel dan Afaf terpaksa tinggal di tenda pengungsian di Kamp Shati. Tenda yang sempit tersebut menampung tujuh orang: Aseel, Afaf, adik mereka Raneem, orang tua mereka, dan satu saudara perempuan lagi bersama suaminya. Satu-satunya yang merawat Aseel dan Afaf adalah sang adik, Raneem, karena kondisi fisik ibu mereka terlalu lemah, ayah mereka menderita cedera, sedangkan satu-satunya anak laki-laki di keluarga tersebut ditangkap oleh pasukan Israel.
Pada Agustus 2025, The New Arab menyebutkan bahwa ada sekitar 48.180 penyandang disabilitas di Jalur Gaza, termasuk 19.514 perempuan. Para perempuan penyandang disabilitas ini hidup di kamp-kamp pengungsian yang nyaris tidak memberikan ruang privasi dan kebutuhan dasar sama sekali bagi mereka. Tidak ada kasur, kamar mandi khusus difabel, obat-obatan, bahkan makanan dan air bersih. Para penyandang disabilitas yang kesulitan memahami kondisi yang terjadi hanya bisa menunggu kebutuhan mereka datang, sambil menahan penderitaan yang tidak terucapkan.
“Orang-orang tidak mengerti apa yang dialami saudari-saudariku,” kata Raneem. “Banyak yang menilai dari penampilan dan mengira mereka baik-baik saja. Padahal tidak. Mereka butuh perhatian, kesabaran, dan memiliki harga diri yang harus dijaga.” Raneem menjelaskan bahwa kehidupan di kamp telah membuat Aseel kewalahan. “Dia kesulitan menghadapi kebisingan atau perubahan mendadak. Ketika itu terjadi, dia menjadi tertekan – dia berteriak, menangis, terkadang mengamuk.” Sementara itu, Afaf berjuang melawan gerakan tak terkendali dan perilaku impulsif. “Pertengkaran kecil atau suara keras bisa memicunya. Dia tidak tahu bagaimana mengendalikannya,” tambah Raneem.
Tinggal di tenda tipis yang tidak bisa memberi perlindungan dari teriknya panas maupun hawa dingin yang menusuk tulang bukanlah satu-satunya sumber penderitaan Aseel dan Afaf. Penderitaan terbesar mereka justru berasal dari kebutuhan paling dasar yang tidak terpenuhi: makanan. Bagi Aseel dan Afaf yang menderita celiac, haram bagi mereka mengonsumsi makanan yang mengandung gluten karena dapat merusak usus halus mereka. Akan tetapi, dalam situasi rekayasa kelaparan yang dilakukan Israel terhadap Gaza, mereka tidak punya pilihan. Terkadang yang tersedia hanyalah roti dari tepung terigu yang tentu saja mengandung gluten, sedangkan menemukan bahan makanan lain seperti daging atau sayur, nyaris mustahil.
Tinggal di kamp pengungsian juga menjadi cobaan tersendiri bagi Aseel dan Afaf, serta bagi Raneem yang berperan merawat mereka. Di tenda yang ramai dan sesak, nyaris tidak ada privasi bagi kedua kakak perempuannya yang merupakan penyandang disabilitas. Terkadang, Raneem akan meminta penghuni lain untuk keluar ketika kedua kakaknya harus berganti pakaian, tetapi kondisinya tidak selalu memungkinkan. Menggunakan toilet umum juga sama sulitnya sebab tidak ada toilet khusus difabel. Situasi ini terkadang diperparah dengan komentar dari orang-orang yang tidak mengerti kondisi kedua kakaknya.
Haneen Al-Sammak, seorang aktivis hak asasi manusia dalam bidang disabilitas, mengonfirmasi bahwa fasilitas kamar mandi bagi penyandang disabilitas sudah tidak tersedia, sehingga memaksa para perempuan penyandang disabilitas untuk menggunakan toilet umum yang mengurangi privasi dan berbahaya bagi mereka. Haneen menambahkan bahwa genosida telah membuat perempuan penyandang disabilitas mengalami kesulitan yang luar biasa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sesederhana untuk berganti pakaian atau pergi ke toilet, terutama karena toilet umum terletak cukup jauh dari kamp pengungsian.
Fatima, seorang perempuan penyandang tuna netra dari Juhor ad-Dik, sebuah desa terpencil di selatan Kota Gaza, membenarkan pernyataan Haneen. Ia mengatakan bahwa hilangnya privasi di kamar mandi menjadi hal yang paling menyakitkan baginya di pusat pengungsian. “Saya butuh bantuan untuk pergi ke kamar mandi, dan saya tidak bisa memeriksa apakah pintunya terkunci. Ini membuat saya merasa sangat terekspos. Saya tidak punya kendali atas ruang pribadi saya, dan saya merasa tidak aman di tempat yang seharusnya privat,” katanya.
Menstruasi juga menjadi mimpi buruk bagi perempuan penyandang disabilitas di Gaza, di tengah sesaknya pengungsian dan minimnya air bersih. Hanan, seorang perempuan dengan disabilitas fisik, berterus terang bahwa siklus menstruasi telah menjadi cobaan bulanan yang berulang bagi perempuan difabel. “Setiap bulan, kami sebagai perempuan mengalami hari-hari yang menyakitkan, tetapi di pusat-pusat pengungsian, hari-hari ini bagaikan mimpi buruk. Tidak ada pembalut, tidak ada cukup air, dan tidak ada tempat yang aman atau bersih,” ujarnya. Saya duduk berjam-jam di lantai tanpa bisa berganti pakaian atau membersihkan diri. Rasa sakitnya luar biasa, tetapi tidak ada obat pereda nyeri. Saya merasa tak berdaya, malu, dan terhina. Kebutuhan kami sebagai perempuan pun terlupakan dalam gejolak genosida.”
Ketika mengingat hari-hari sebelum genosida, Raneem bercerita bahwa Aseel dan Afaf yang rutin menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Kamal Adwan. Kondisi seperti mereka membutuhkan diet khusus, pengobatan, dan terapi teratur yang saat ini sama sekali tidak tersedia. Selain ketiadaan perawatan medis, stigma sosial dari masyarakat juga menjadi kesulitan yang dihadapi oleh para difabel dan orang yang merawat mereka. “Kami telah terusir berkali-kali, dari Jabalia ke barat, lalu Kota Gaza,” kenang Raneem. “Setiap kali pindah ke tempat lain, kami harus mulai dari awal lagi, menjelaskan kondisi mereka, memohon kesabaran.” Raneem mengatakan. “Mereka bukan hanya korban genosida. Mereka adalah orang-orang rentan yang dilupakan oleh dunia.”
Saat Bom Gagal Merenggut Nyawa, Ia Merenggut Pendengaran Anak-Anak Gaza

Dua bersaudara, Elias Abu Al-Jibeen (5) dan Ismail Abu Al-Jibeen (8), berbaring bersebelahan di Rumah Sakit Rehabilitasi Medis Al-Wafa di Gaza. Ibu mereka, Aya Abu Auda, berusaha mengajak dua anak tersebut berbicara, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bereaksi. Dua anak kecil itu telah kehilangan nyaris seluruh kemampuan pendengaran mereka akibat pengeboman Israel di kamp pengungsian mereka di Tel Al-Hawa, Kota Gaza.
Tahun lalu, Aya Abu Auda membawa Elias dan Ismail mengungsi setelah pasukan Israel menghancurkan rumah mereka di Gaza utara dan membunuh suaminya. Ia mengira kondisi tersebut sudah menjadi yang terburuk, namun ternyata rasa sakit terus menghantui mereka meski telah mengungsi. Hari itu, di tenda yang ia gunakan untuk tidur bersama dua putranya, ledakan bom menghancurkan kehidupan mereka.
Sang ibu baru menyadari beberapa pekan setelahnya bahwa kedua putranya tidak lagi menanggapi suaranya. Ismail telah kehilangan sebelah matanya, mengalami gangguan pergerakan pada salah satu lengan dan kakinya, serta sebagian besar pendengarannya pun terganggu. Tes pendengaran batang otak menunjukkan bahwa ia kehilangan 50 persen pendengaran di telinga kanannya dan 71 persen di telinga kirinya.
Kondisi Elias bahkan lebih parah. Elias koma selama 18 hari. Ketika bangun, dia tidak bisa mendengar, melihat, mengingat, atau bergerak. Dokter kemudian menemukan nanah telah terkumpul di sekitar otaknya. Prosedur pembedahan yang telah dilakukan memungkinkan Elias mendapatkan kembali kesadaran sensoriknya meski terbatas. Kini, ia menderita kelumpuhan di satu sisi tubuhnya, mengalami gangguan bicara dan penglihatan yang parah, serta satu telinga tidak dapat mendengar sama sekali.
“Sering kali dia berteriak dan saya mencoba menebak apa yang dia butuhkan, meski sering gagal,” kata Abu Auda. “Saya sudah mencari alat bantu dengar untuk kedua anak saya ke mana-mana, tapi tidak ada yang tersedia.” Menurut Komite PBB untuk Hak-Hak Penyandang Disabilitas, 83 persen penyandang disabilitas di Gaza telah kehilangan alat bantu mereka selama genosida, dan sebagian besar tidak mampu membeli penggantinya. Sementara itu, sekitar 92 persen tidak dapat mengakses makanan atau obat-obatan. Dengan kata lain, Elias dan Ismail adalah baru dua kasus yang tercatat di antara banyak kasus difabel lain yang tidak bisa mendapatkan alat bantu.
Pada Mei 2025, pasukan Israel mengebom Rumah Sakit Sheikh Hamad di utara Jalur Gaza, yang merupakan pusat untuk rehabilitasi dan prostesis anggota tubuh. Rumah sakit yang diresmikan pada 2019 tersebut merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit di Gaza yang menyediakan layanan rehabilitasi untuk pendengaran, keseimbangan, dan prostetik yang memadai. Dengan dihancurkannya pusat layanan untuk penyandang disabilitas tersebut, banyak difabel terancam tidak bisa mendapatkan kebutuhan alat bantu untuk beraktivitas sehari-hari.
Yusra Basil, spesialis audiologi di Kementerian Kesehatan Palestina, juga mengonfirmasi bahwa penghancuran pusat rehabilitasi oleh Israel dan penangkapan atau pembunuhan staf medis terlatih telah menyebabkan kehancuran unit Layanan audiologi. “Gaza tidak memiliki semua pilihan perawatan untuk gangguan pendengaran berat, termasuk implan koklea, alat bantu dengar, baterai khusus, dan perangkat medis untuk rehabilitasi pendengaran – semuanya diblokir untuk memasuki Gaza karena penutupan perbatasan oleh Israel,” ujarnya.
Basil menyebutkan bahwa pengeboman brutal selama berbulan-bulan, terutama dari rudal F-16 dan kendaraan peledak, telah menyebabkan “kerusakan pendengaran yang parah” di seluruh populasi Gaza. “Ledakan ini menghancurkan sel-sel saraf dan saraf pendengaran dalam banyak kasus,” ujar Basil. “Pada kasus lain, kondisi ini dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga atau kerusakan pada tulang telinga tengah, yang mengakibatkan hilangnya pendengaran sebagian atau seluruhnya, disertai tinitus (mendengar suara dengung tanpa adanya suara dari luar) yang terus-menerus.”
Basil memperkirakan bahwa empat dari setiap 10 cedera yang terjadi selama dua tahun genosida Israel telah menyebabkan beberapa bentuk gangguan pendengaran. PBB juga menyebutkan bahwa satu dari empat penduduk Gaza saat ini hidup dengan disabilitas, termasuk 21.000 anak-anak yang mengalami cacat permanen. Jalur Gaza saat ini telah menjadi wilayah dengan jumlah anak yang diamputasi terbesar sepanjang sejarah modern, dengan rata-rata sepuluh anak kehilangan satu atau dua anggota tubuhnya setiap hari.
Survei lapangan yang mencakup periode genosida Israel dari tahun 2023 hingga 2025 oleh Atfaluna Society for Deaf Children telah menemukan bahwa 35.000 anak-anak dan orang dewasa kehilangan pendengaran, baik sebagian maupun permanen sebagai akibat langsung dari ledakan yang disebabkan oleh serangan F-16 Israel dan kendaraan peledak, tiga kali lebih tinggi dari angka sebelum genosida 7 Oktober. Laporan PBB mencatat bahwa perintah evakuasi seringkali tidak dapat diakses oleh orang-orang dengan gangguan pendengaran atau penglihatan, sementara difabel yang memiliki mobilitas terbatas lebih besar kemungkinannya untuk terbunuh karena mereka tidak dapat melarikan diri dengan cepat.
Fadi Abed, direktur Atfaluna Society, mengatakan bahwa bayi dan balita di bawah usia dua tahun berada pada risiko tertinggi, diikuti oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun. Pendengaran pada usia tersebut sangat penting untuk perkembangan bicara dan bahasa. Kehilangan pendengaran akan menciptakan hambatan seumur hidup terhadap komunikasi dan perkembangan. Anak-anak yang kehilangan pendengaran akan kehilangan input untuk bisa belajar berbicara dan memproses bahasa, sehingga terbentuklah generasi yang bisu akibat ledakan.
Rajaa, seorang difabel yang memiliki gangguan pendengaran, mengatakan bahwa isolasi dan ketidakmampuan berkomunikasi di pusat pengungsian telah membuatnya kelelahan secara fisik dan mental. “Tidak ada seorang pun di sini yang mengerti bahasa isyarat. Tidak ada isyarat atau sinyal visual. Ketika saya merasa tidak enak badan atau sakit kepala, saya tidak bisa meminta bantuan. Terkadang saya pusing, dan tidak ada yang memperhatikan. Saya tidak tahu apa yang terjadi di sekitar saya dan stres yang tiada henti ini membuat saya terus-menerus cemas sehingga memengaruhi kesehatan saya.”
Senjata Genosida: Penyebab Bayi-Bayi Gaza Terlahir Sebagai Difabel

Para penyandang disabilitas merupakan kelompok yang paling berisiko di tengah genosida. Mereka tidak bisa melarikan diri dari pengeboman tanpa pertolongan, kesulitan berjalan jauh dan mengantre untuk menggunakan toilet atau mengambil jatah bantuan, juga tidak memiliki akses terhadap perawatan medis. Yang lebih menyedihkan lagi, banyak di antara penyandang disabilitas di Gaza yang seharusnya tidak menjadi difabel. Akan tetapi, hancurnya sektor kesehatan dan habisnya pasokan medis telah mengubah cedera yang seharusnya dapat diobati, menjadi cacat permanen, sementara luka ringan yang seharusnya bisa ditangani, menjadi infeksi parah yang berujung pada amputasi.
Bahkan sebelum dilahirkan pun, bayi-bayi di Gaza telah terancam menjadi penyandang disabilitas yang parah. PBB menyebutkan bahwa dari 130 bayi baru lahir di Gaza, satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah dan berisiko menderita kelainan bawaan. Sejak awal genosida, Israel telah menjatuhkan lebih dari 200.000 bahan peledak yang mengandung logam beracun, tidak dapat dihancurkan, dan akan terus menyebarkan zat-zat berbahaya, termasuk pada ibu hamil. Zat-zat beracun ini yang kemudian bisa menyebabkan kelainan bawaan yang memengaruhi sistem saraf seperti cerebral palsy, skoliosis, atau gangguan lainnya. Dr. Hazem Muqat, kepala unit neonatal di Gaza mengatakan, “Kami terkadang menangis melihat bayi baru lahir meninggal secara perlahan di depan mata kami, kami tahu bagaimana menyelamatkan mereka, tetapi tidak mampu. Dan bahkan jika mereka tetap hidup, cacat ini akan memengaruhi seumur hidup mereka.”
Anak-anak di Gaza tidak pernah memilih untuk dilahirkan sebagai seorang penyandang disabilitas. Para difabel yang saat ini bertahan di Gaza, kebanyakan dari mereka juga memiliki anggota tubuh yang lengkap sebelum genosida, sama seperti kita. Oleh sebab itu, menjadi seorang penyandang disabilitas di tengah runtuhnya Gaza merupakan penderitaan yang luar biasa, baik secara fisik maupun mental. Para difabel membutuhkan perhatian khusus, dan pada Hari Internasional Bagi Penyandang Disabilitas ini, Adara Relief International mengajak Sahabat Adara untuk menunjukkan kepedulian kepada mereka.
Di tengah sulitnya kondisi akibat genosida dan blokade ketat di Gaza, para difabel sangat membutuhkan alat bantu untuk menunjang aktivitas mereka. Meski terpisah jarak dan tidak bisa menggandeng tangan mereka secara fisik, namun bukan berarti kita tidak bisa mengulurkan tangan untuk membantu. Tahun ini, ratusan penduduk Gaza telah kembali melangkah dengan alat bantu jalan yang disalurkan melalui Adara Relief International.
Sebelum tahun ini berakhir, kami ingin mengajak Sahabat Adara untuk menjadi bagian dari kebaikan agar lebih banyak penyandang disabilitas di Gaza dapat melangkah kembali. Mari bersamai langkah mereka melalui https://adaradonation.com/. Satu alat bantu jalan darimu, dapat menjadi awal yang baru bagi para difabel untuk bisa kembali melangkah.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Anadolu Agency
Al Jazeera
Arab News
Electronic Intifada
Middle East Eye
Mondoweiss
Human Right Watch
WHO








