Suhu dingin di Lebanon perlahan mulai membalut tubuh mungil anak-anak Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Datangnya musim dingin tahun ini bersamaan juga dengan dimulainya tahun ajaran baru saat anak-anak tengah mempersiapkan diri untuk belajar dan memulai perjalanan akademik mereka dengan penuh harapan. Di tengah penurunan suhu yang kian menusuk, mereka tetap berusaha fokus untuk meraih nilai terbaik, meski fasilitas dan kondisi lingkungan jauh dari kata ideal.
Bagi para penghafal Al-Quran Palestina binaan program Hidupkan Ahlul Quran (HAQ), tantangan itu terasa dua kali lipat. Selain mengikuti kegiatan belajar di sekolah, mereka juga menjalani rutinitas menghafal dan mempelajari Al-Quran di markaz—sebuah komitmen besar yang mereka lakukan dengan tekad kuat. Namun, cuaca dingin yang semakin ekstrim serta kondisi infrastruktur Lebanon yang buruk membuat proses belajar dan menghafal mereka semakin penuh tantangan.
Keadaan yang anak-anak rasakan menjadi terasa berat ketika fasilitas pendukung untuk menempuh pendidikan sekaligus menghafal Al-Quran terus memburuk. Kondisi yang serba terbatas ini sangat memengaruhi tingkat kenyamanan mereka dalam menyemimbangkan studi akademis di sekolah dengan kegiatan belajar Al-Quran di markaz-markaz yang ada. Tanpa ruang yang hangat, pencahayaan yang memadai, dan lingkungan yang tenang, proses belajar mereka seringkali terganggu, terlebih di tengah udara dingin yang menusuk.
Di luar tantangan musim dingin, anak-anak di kamp pengungsian juga harus menghadapi ancaman keamanan. Pada 18 November lalu, kamp Ain Al-Hilweh menjadi sasaran serangan yang mengakibatkan 13 pemuda meninggal dunia dan melukai sejumlah lainnya. Suasana takut dan duka menyelimuti seluruh kamp, memberikan dampak besar bagi para pengungsi, khususnya anak-anak dalam program HAQ. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa meter dari Jarusalem Cente, tempat tinggal sebagian siswa sekaligus lokasi kegiatan belajar Al-Quran. Kejadian ini memaksa anak-anak untuk menghentikan studi selama sepekan sebagai bentuk berkabung.
Namun, meskipun berbagai kendala menghambat langkah mereka, semangat anak-anak ini tidak padam. Dinginnya cuaca dan situasi yang mencekam tidak membuat mereka surut dalam menghafal. Mereka tetap berusaha hadir di setiap sesi belajar, menyetorkan hafalan, dan memperbaiki bacaan mereka dengan penuh kesungguhan. Ayat-ayat yang dilantunkan seumpama kekuatan yang menghangatkan diri mereka di tengah dinginnya musim.
Hal ini terbukti melalui laporan yang tim Adara terima dari para guru yang mengajar mereka di markaz Al-Quran. Berdasarkan laporan tim lapangan, dari 380 anak, sebagian besar dari mereka memiliki komitmen kehadiran dengan nilai 60 hingga 90 persen. Artinya, di tengah kondisi yang penuh tantangan, mayoritas anak-anak tetap berupaya mempertahankan rutinitas belajar mereka dan menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap hafalan Al-Quran.
Proses menghafal Al-Quran yang anak-anak lalui terpantau dengan baik oleh para guru yang mengajar di murokaz. Pemantauan ini guna untuk memastikan perkembangan hafalan anak-anak berjalan optimal. Dalam setiap sesi belajar, para guru menerapkan metode pengajaran Triqoh Syam, yaitu metode yang menekankan kualitas bacaan agar pelafalan yang lebih tepat dan sesuai kaidah.
Laporan dari tim di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas siswa aktif dan memiliki progres hafalan yang terukur, dengan capaian rata-rata pada kategori 1 hingga 5 juz. Sementara itu, sekitar 10 hingga 15 persen dari seluruh siswa memiliki jumlah hafalan lebih dari 10 juz, yaitu berkisar antara 8 hingga 20 juz.
“Namaku Ahmad Rami Kayd, berusia 14 tahun, dan saat ini duduk di kelas 6 sekolah dasar. Alhamdulillah, aku telah menghafal 8 juz Al-Quran, meningkat dari sebelumnya yaitu berjumlah 2,5 juz. Aku senang sekali bermain bola dan membaca syair. Aku sangat bersyukur dengan adanya program menghafal Al-Quran ini, karena dengan izin dan pertolongan Allah, proses menghafalku menjadi lebih mudah,” ungkap salah satu siswa Program HAQ, Ahmad Rami Kayd dalam pertemuan virtual “Temu Kangen Penghafal Al-Quran Palestina” (2/11).
Di tengah kesibukan dalam menghafal Al-Quran yang berlangsung tiga kali dalam sepekan, anak-anak ini juga mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu fikih dan sejarah. Anak-anak di kamp pengungsian kerap mendapatkan pengetahuan tambahan dan pendalaman materi keilmuan lainnya agar wawasan mereka semakin luas serta mampu memahami ajaran Islam secara lebih menyeluruh. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses belajar mereka tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan pemahaman yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup di tengah keterbatasan pengungsian.
Pembentukan karakter juga menjadi salah satu aspek penting yang para guru implementasikan di lapangan. Berdasarkan laporan penilaian tim, sebagian besar anak menunjukkan kebiasaan dan perilaku yang baik. Kemajuan ini menjadi salah satu indikator positif yang para guru amati selama proses belajar dan mengajar berlangsung di markaz Al-Quran.
Sahabat Adara, Alhamdulillah, perkembangan yang menggembirakan ini merupakan hasil dari kolaborasi seluruh tim di lapangan. Hal ini juga tidak terlepas dari dukungan seluruh Sahabat yang senantiasa memberikan bantuan rutin setiap bulan dan mendoakan keberlangsungan dari program ini. Pada bulan November lalu, Alhamdulillah, bantuan dari Sahabat Adara telah disalurkan pada tanggal 17 November. Bantuan ini lebih dari sekadar dukungan materi; ia menjadi sumber kekuatan, harapan, dan ketenangan bagi anak-anak penghafal Al-Quran yang terus berjuang dalam keterbatasan. [AM]








