JAKARTA — Di tengah musim dingin yang mulai menyelimuti Kamp Pengungsi Palestina di Lebanon, seberkas cahaya memancar dari ruang virtual. Pertemuan online orang tua asuh program Hidupkan Ahlul Quran yang digelar oleh Adara membuka tirai kisah anak-anak Palestina di kamp pengungsian Lebanon. Mereka adalah anak-anak yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pelita di tengah kegelapan di pengasingan.
Ruang virtual dibuka dengan lantunan indah surah Al-Isra oleh Syahid Khalil, mengingatkan akan perjalanan panjang dan penuh ujian. Disusul sambutan penuh makna dari Direktur Utama Adara Relief International.

“Gencatan senjata bukanlah akhir, justru awal dari kerja kemanusiaan,” tegas Dirut Adara. “Gencatan yang rapuh masih menyisakan penderitaan. Tepi Barat diserang, Al-Aqsa digerus, dan para pengungsi masih kehilangan hak-haknya. Karena itu, perjuangan belum usai. Kami tidak hanya hadir dalam keadaan darurat, tapi juga melalui program berkelanjutan — sebab Al-Qur’an mengajarkan bahwa amal tak boleh berhenti di tengah jalan.” Tutupnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Syekh Ala Sukari, mewakili pengajar di Markaz Bilal bin Rabah di Kamp Pengungsi Palestina di Lebanon. Markaz Bilal bin Rabah berdiri sejak tahun 1987 untuk mendidik generasi muda Palestina agar tumbuh dengan karakter Qurani dan cinta tanah air.
Al-Qur’an Adalah Cahaya
“Di antara asap dan puing-puing, Al-Qur’an terus dilantunkan. Ia menjadi cahaya yang menguatkan hati di Gaza, di Lebanon, di mana pun anak-anak Palestina berdiri,” ucapnya.
Ia menambahkan, halaqah Qur’an saat ini menjadi sarana penting untuk mencetak dai dan ulama masa depan. “Barang siapa mendukung halaqah ini, ia tengah menyiapkan pemimpin Islam untuk masa depan,” pungkasnya penuh haru.

Dari tayangan langsung yang ditampilkan, peserta diajak menengok ruang-ruang belajar sederhana di markaz tersebut, terdapat 25 kelas yang menjadi tempat anak-anak Palestina belajar menghafal Al-Qur’an, membuat kerajinan tangan, dan menumbuhkan harapan baru.
Program HAQ (Hafidz Al-Qur’an untuk Palestina) yang dijelaskan oleh Rahma dari tim Adara memperlihatkan hasil nyata: para hafidz kecil ini tidak hanya unggul dalam hafalan, tapi juga berprestasi di sekolah umum mereka.

Pertemuan dengan Orang Tua Asuh
Lalu satu per satu, wajah-wajah mungil dari kamp pengungsian muncul di layar. Ada Mahmoud Raid, 14 tahun, dengan hafalan delapan juz dan cita-cita menjadi ustaz. Ahmad Rami, 14 tahun, ingin menjadi mujahid pembebas Al-Quds. Ada pula Bilal Ahmad Ghonim dan Jamal Ali Abou Arab, dua bocah yang bercita-cita menjadi arsitek agar kelak bisa membangun kembali tanah airnya yang hancur.
Sementara Rafa Talouzi, gadis 15 tahun dengan hafalan delapan juz, berharap bisa menjadi murabithah di Masjidil Aqsa. Ia memperlihatkan hasil karyanya — gambar jurnalis Anas Al-Syarif, simbol keberanian menyuarakan kebenaran di tengah genosida.
Ada Bisan Salam, pembaca buku yang telah menghafal sembilan juz dan bercita-cita menjadi hafidzah sekaligus perawat. Ada pula Maria Jum’ah, Taya Daud, dan Mila Abu Ruwais, masing-masing membawa mimpi yang sama: menjadi hafidzah, berbakti kepada orang tua, dan kelak membantu sesama.
“Al-Qur’an bak pelita di kegelapan,” ucap salah satu guru mereka. “Dan anak-anak ini adalah lentera-lentera kecil yang menjaga cahaya itu tetap menyala.”
Pertemuan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Muhammad Saleh Abo Tayoun. Dalam kesunyian layar, suara “Amin” terdengar menggema dari berbagai penjuru — menjadi jembatan doa dari Indonesia untuk Lebanon, dari hati ke hati.
Acara sederhana itu meninggalkan jejak yang dalam: bahwa meski gempita dunia sering kali abai, anak-anak Palestina masih belajar mengeja harapan lewat ayat-ayat suci. Di bawah langit yang asing, mereka tumbuh bukan hanya sebagai penghafal Al-Qur’an, tapi juga penghafal makna keteguhan. [MC]






![Konferensi pers Palestine Festival yang diselenggarakan di Gudskul, Jagakarsa, pada Ahad [30/11] sebagai rangkaian menuju event kemanusiaan akhir tahun 2025. Acara ini memperkenalkan teater bertema keteguhan rakyat Gaza dalam menghadapi genosida. Konferensi pers turut dihadiri para pemain teater: David Chalik, Bella Fawzi, Robert Chaniago, dan Cholidi Asadil Alam.](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/12/DSC00773-120x86.jpg)
![Banyak warga Palestina mengatakan mereka menghadapi penyiksaan saat berada di tahanan Israel [Getty]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/2192563299-75x75.jpeg)
