Jalur Gaza yang hancur akibat hampir dua tahun agresi militer Israel kini menjadi sasaran impian lama kelompok sayap kanan Israel: reokupasi (pendudukan kembali) dan pendirian kembali permukiman ilegal Yahudi. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel kini “lebih dekat dari sebelumnya” untuk kembali menduduki Gaza dan membangun permukiman Yahudi di wilayah tersebut.
Pernyataan ini ia sampaikan dalam sebuah konferensi untuk memperingati 20 tahun penarikan Israel dari Jalur Gaza pada 2005. Saat itu, 21 permukiman ilegal Israel di Gaza—termasuk blok Gush Katif, dibongkar dan sekitar 8.000 pemukim dievakuasi sebagai bagian dari rencana mereka.
“Selama 20 tahun kami menyebutnya angan-angan, tetapi sekarang ini menjadi rencana nyata,” ujar Smotrich. “Saya tidak ingin kembali ke Gush Katif—terlalu kecil dan sempit. Kita harus (mendapat yang) lebih besar. Situasi Gaza hari ini memungkinkan kita berpikir lebih luas.”
Pernyataan ini datang tidak lama setelah Belanda melarang Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memasuki negaranya, sebagai bentuk tekanan internasional untuk menghentikan perang yang telah membunuh lebih dari 60.000 warga Palestina menurut Kementerian Kesehatan Gaza, dan menuai tudingan genosida dari berbagai organisasi HAM internasional.
Pada waktu yang sama, ratusan pemukim Israel—termasuk mantan pemukim Gush Katif dan generasi baru calon pemukim—melakukan long march dari kota Sderot menuju titik observasi Asaf Siboni yang menghadap reruntuhan Beit Hanoun di Gaza utara. Mereka mengibarkan bendera Israel dan spanduk oranye Gush Katif, meneriakkan slogan “Gaza, milik kami selamanya!” dan “Cara mengalahkan Hamas adalah merebut kembali tanah kami!”
“Seribu keluarga siap pindah sekarang dan tinggal di tenda-tenda,” kata Daniella Weiss, mantan walikota permukiman ilegal Kedumim di Tepi Barat. “Kami percaya bahwa hanya dengan memegang tanah ini, militer Israel akan menang.”
Meski kebijakan resmi pemerintahan Netanyahu menyatakan operasi di Gaza bertujuan untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan sandera, bukan untuk membangun kembali permukiman, para pemukim mengklaim mereka telah menjalin komunikasi dengan anggota koalisi pemerintah dari sayap kanan dan melihat celah politik yang bisa dimanfaatkan.
Para pendukung gerakan ini meyakini bahwa Gaza adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tanah Israel. “Saya percaya pada Tuhan dan pada pemerintah,” ujar Sharon Emouna, seorang pendukung permukiman ilegal dari Tepi Barat. Ia menyatakan bahwa pemukim Yahudi memiliki hak untuk kembali dan bahkan menyebut bahwa warga Palestina akan diuntungkan jika tinggal berdampingan dengan para pemukim Israel.
Namun, rencana kembalinya para pemukim ini ditentang secara luas oleh komunitas internasional. Para pakar hukum menegaskan bahwa reokupasi dan pemindahan paksa penduduk Palestina akan menjadi bentuk pembersihan etnis yang melanggar hukum internasional.
Untuk saat ini, pasukan militer Israel masih menutup akses langsung ke Gaza. Namun, gelombang dukungan dari kelompok ekstrem kanan di Israel menunjukkan bahwa upaya reokupasi Gaza bukan lagi sekadar retorika, melainkan tengah dijajaki sebagai agenda politik nyata.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/ours-forever-would-be-israeli-settlers-march-gaza
https://qudsnen.co/far-right-minister-claims-gaza-inseparable-part-of-israel-calls-for-its-occupation/








