Anak-anak yatim di Gaza kembali mengulang kepiluannya dalam menyambut hari raya Idul Adha tahun ini. Di tengah genosida yang terus berlangsung, mereka menjalani hari raya kurban dalam kenyataan yang tragis dan penuh kelaparan. Hari yang semestinya dipenuhi kebahagiaan dan kebersamaan, justru menjadi momen keputusasaan bagi anak-anak yang kehilangan ayah mereka akibat agresi yang tak kunjung berhenti.
Lebih dari 39 ribu anak di Gaza kini menjadi yatim—kehilangan pelukan, perlindungan, dan bimbingan dari sosok ayah. Terlebih, mereka kehilangan sosok yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga. Anak-anak yatim Gaza tidak hanya menghadapi trauma kehilangan orang tua, tetapi juga harus bertahan hidup dalam situasi yang sangat membahayakan: kelangkaan pangan, air bersih, akses kesehatan, dan tempat tinggal yang aman. Dua puluh bulan sejak Israel memulai agresinya pada 7 Oktober silam, angka-angka anak yang menjadi yatim terus meningkat.
Di tengah reruntuhan bangunan dan deru pesawat tempur, gema takbir berkumandang dan tertangkap lirih oleh telinga. Di benak anak yatim Gaza, tidak ada cerita untuk memiliki pakaian baru, tidak ada pula hidangan istimewa, dan tidak ada juga tangan sang ayah yang menggandeng mereka menuju masjid mengajak salat id bersama-sama. Yang ada hanyalah perut kosong, duka mendalam, dan harapan yang kian teruji dan mengoyakkan hati. Mereka terpaksa menunaikan salat Ied di luar masjid, dengan pemandangan reruntuhan rumah yang telah menjadi puing-puing. Harapan mereka di hari raya Idul Adha ini adalah agar genosida di tanah air mereka segera usai.
Idul Adha yang jatuh pada tanggal 6 Juni, menandai hari raya keempat yang yatim Gaza rayakan di tengah genosida, sejak tahun 2023 lalu. Tak ada kedamaian, yang ada hanya deru pesawat jet pembawa bom ataupun tank-tank Israel yang memuntahkan peluru tanpa ampun.
Pasukan Israel telah memaksa ratusan ribu masyarakat Gaza untuk mengungsi dan mencari tempat perlindungan demi menyelamatkan diri. Anak-anak yatim di Gaza kembali merayakan Idul Adha di tengah agresi, sama seperti hari raya sebelumnya. Bahkan lebih buruk lagi. Mereka harus menahan rasa lapar jauh dari pada sebelumnya, akibat penutupan jalur penyaluran bantuan oleh otoritas Israel sejak 2 Maret 2025. Bantuan yang bisa masuk, amat dibatasi. Anak-anak mengaku bahwa mereka terpaksa tidur dalam keadaan perut kosong, karena keluarga mereka bahkan tidak memiliki sepotong roti untuk disajikan.
![Masyarakat Palestina berkumpul untuk melaksanakan salat Idul Adha di samping reruntuhan [Foto: AP Images]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/07/1-2.webp)
Di tengah genosida yang masih berlanjut ini, Alhamdulillah, atas karunia dan rahmat Allah Swt, pada tanggal 19 Juni lalu, Adara Relief International kembali menyalurkan bantuan program Dekap Yatim Palestina (DYP) untuk anak-anak yatim binaan Adara di Gaza. Meskipun Israel melakukan pembatasan terhadap masuknya bantuan, namun Alhamdulillah Adara masih tetap menyalurkan dana santunan dari Ayah Bunda. Bantuan berupa uang tunai disampaikan kepada ribuan anak yatim Gaza menjadi bentuk komitmen dan cinta dari orang tua asuh mereka di Indonesia.
Pada bulan Mei lalu, uang tunai mereka terima dan mereka manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, berupa pangan dan bahan pokok, serta persiapan untuk perayaan idul adha. Meski situasi penuh keterbatasan dan ancaman, anak-anak ini menyambut bantuan tersebut dengan wajah penuh syukur. Di tengah kehilangan dan keterpurukan, hadirnya bantuan ini menjadi secercah harapan. Mereka tak henti mengirimkan doa-doa terbaik untuk para orang tua asuh di Indonesia, yang meski jauh secara jarak, tapi selalu dekat di hati. Para orang tua asuh tidak hanya meringankan beban hidup anak-anak, tetapi juga menghibur mereka dan menguatkan semangat mereka untuk tetap bertahan.
Namun, dari dua ribuan anak yatim yang berada dalam naungan program ini, masih terdapat ratusan anak yang belum dapat menerima haknya. Berdasarkan laporan tim lapangan Adara, terbatasnya akses ke beberapa wilayah menciptakan hambatan yang signifikan untuk menembus lokasi penyaluran. Dalam kondisi darurat seperti ini, menjangkau lokasi pengungsian tertentu membutuhkan waktu dan risiko besar.
Lebih dari itu, dengan berat hati kami sampaikan bahwa tim di lapangan masih belum dapat memastikan keberadaan beberapa anak asuh—apakah mereka masih hidup atau telah syahid akibat serangan brutal yang tiada henti. Inilah realitas pahit yang tim hadapi di lapangan. Maka, dengan segala keterbatasan yang ada, penyaluran bantuan kepada anak-anak tersebut menjadi tertunda untuk sementara waktu, hingga kondisi memungkinkan tim untuk menelusuri dan memastikan nasib mereka. Kami meminta segenap doa dari Ayah Bunda.
Sementara itu, sebagai bentuk ikhtiar Adara lainnya untuk menghibur dan membahagiakan anak-anak yatim yang mudah tim lapangan jangkau, Adara menyalurkan hadiah hari raya berupa pakaian baru untuk mereka. Bantuan ini juga menjadi obat bagi luka-luka batin mereka—yang melalui idul adha dalam sunyinya lantunan suara takbir, tanpa kehadiran ayah tercinta, tanpa hidangan, dan tanpa suasana kebersamaan seperti yang dulu mereka kenal. Sebanyak 160 anak yatim di Gaza dapat menikmati hadiah ini. Bantuan ini menjadi simbol kasih sayang dan kepedulian, dengan harapan dapat sedikit mengobati luka serta menghadirkan senyum di tengah luka yang belum pulih.

Adapun bantuan lanjutan yang seharusnya disalurkan pada bulan Juni lalu, hingga kini masih tertunda sementara. Tim kami di lapangan sedang berjuang mempersiapkan teknis dan melakukan koordinasi keamanan untuk memastikan penyaluran berjalan aman dan tepat sasaran. Beberapa wilayah tempat tinggal anak-anak yatim masih sulit diakses karena intensitas serangan dan blokade yang ketat, sehingga diperlukan waktu dan perencanaan matang sebelum distribusi dapat dilanjutkan. Tim di lapangan menginformasikan bahwa, in syaa Allah, mereka akan melaksanakan penyaluran ini pada awal bulan Juli. Kami memohon doa dari Ayah Bunda agar proses penyaluran Allah permudah, Allah berkahi, dan berjalan lancar. Serta, tim kami di lapangan senantiasa Allah jaga ketika proses menyalurkan amanah ini.
Ayah dan Bunda, meski jarak ribuan kilometer memisahkan antara kita dengan anak yatim di Gaza, semoga doa kita untuk mereka tidak pernah berhenti mengalir. Bantuan dan dukungan yang Ayah Bunda berikan merupakan amunisi semangat—bagi kami dan tim lapangan yang terus berjuang menyalurkan bantuan, juga bagi mereka yang hari-harinya dipenuhi harap: kapan semua ini akan berakhir?
Meski raga belum pernah bersua di dunia, semoga di suatu saat kelak Allah pertemukan kita dengan anak-anak yatim Gaza yang Ayah Bunda bantu. Upaya yang senantiasa kita lakukan untuk mereka, baik memberi bantuan materi doa, empati yang tak pernah putus, juga dalam setiap aliran donasi, adalah bagian dari ribath kita untuk Palestina. Sebab mereka adalah amanah dari Allah, dan kehadiran kita untuk mereka adalah wujud cinta atas dasar iman. [AM]
![Hadiah hari raya Idul Adha untuk yatim Gaza [Dok. Penyaluran Adara, 2025]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/07/2-scaled.webp)


![Ragad Nadim Aga menerima hadiah dari program HAQ karena telah memeroleh juara pertama di sekolahnya [Dok. Penyaluran Adara 2025]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/L591-A-2-120x86.jpeg)
![Anak-anak di Gaza kehilangan rumah mereka dan terpaksa hidup bersama anak-anak lainnya di kamp pengungsian [Dok. UN News]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/08/1-120x86.jpg)




