• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan Anak

“Mainan Kami Hancur, Rumah Runtuh, dan Ayah Telah Tiada”: Sepotong Episode Kehidupan Yatim Kita di Gaza

Cerita pilu tentang yatim di Gaza yang tumbuh dalam reruntuhan dan kehilangan, menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang tak berujung.

by Adara Relief International
Juni 2, 2025
in Anak, Berita Kemanusiaan
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Anak-anak Palestina duduk di atas puing-puing rumah mereka di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah (APA Images)

Anak-anak Palestina duduk di atas puing-puing rumah mereka di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah (APA Images)

425
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

“Rumah kami hancur, ayahku syahid, mainanku hancur,  kamarku hancur, pakaianku hancur, tempat tidurku rusak, semuanya telah hilang dan tidak pernah kembali. Kami hanya tinggal di tenda dan tidak tahu harus berbuat apa…”  ungkap seorang yatim, Bisan Nadir Suhail Ghabn.

Baca Juga

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

Kementerian Kesehatan Gaza Tegaskan Israel Hambat Obat dan Pangan Esensial

Ayah dan Bunda, anak-anak yatim kita masih bertahan di bawah tenda-tenda pengungsian, di tengah rentetan bom, dentuman senjata, dan reruntuhan bangunan yang kini menjadi pemandangan sehari-hari di Jalur Gaza. Kehilangan kini menjadi teman akrab mereka—kehilangan rumah, kehilangan teman, juga kehilangan kesempatan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Semua itu terjadi setelah sekian lama mereka kehilangan sosok tercinta: seorang ayah. Di bawah langit Gaza yang muram, mereka terus berjuang untuk hidup, meski dunia mereka telah hancur berkeping-keping. 

Inilah sepenggal kisah tentang bagaimana anak-anak yatim kita berjuang untuk hidup di tengah genosida yang berlangsung, dan bagaimana bantuan yang Ayah dan Bunda titipkan kepada Adara menjadi harapan mereka untuk terus bertahan.

Menyalurkan Bantuan Ayah dan Bunda di Tengah Serangan

Menyalurkan bantuan bulanan di Gaza saat ini bukanlah perkara mudah. Tim kami di lapangan menghadapi berbagai tantangan besar. Sejauh ini, terdapat dua cara yang biasa kami lakukan: 

  1. Kunjungan langsung ke tempat tinggal yatim. Metode ini hanya dapat dilakukan bila lokasi mereka masih dapat dijangkau. Namun, dengan kondisi anak-anak yang tersebar di banyak titik pengungsian dan situasi yang tidak aman, sulit untuk melakukan pendekatan dengan metode ini.  Tidak jarang, keberadaan anak-anak lain yang juga membutuhkan di sekitar lokasi membuat suasana menjadi sensitif dan riskan. 
  2. Mengundang anak-anak yatim kita ke satu titik lokasi. Cara ini memudahkan tim kami di lapangan, tapi justru menciptakan risiko yang lebih tinggi. Para yatim terpaksa mengeluarkan biaya perjalanan yang mahal untuk mencapai titik lokasi, itu pun jika tersedia. Di sisi lain, mengumpulkan yatim dalam satu lokasi menjadikan mereka target serangan. Ini mengancam keselamatan anak-anak, keluarga mereka, dan juga tim di lapangan.

Dari Pendidikan ke Pemenuhan Kelaparan

Sebelum agresi besar-besaran ini, bantuan yang Ayah dan Bunda berikan sangat berguna untuk menjamin kebutuhan anak-anak kita. Kebutuhan tersebut meliputi kesehatan, pakaian, dan pendidikan. Biaya yang diberikan dapat dikelola oleh keluarga atau wali mereka dengan sebaik dan seoptimal mungkin untuk jangka waktu satu bulan. 

Namun, kini semuanya berubah drastis. Bantuan yang Ayah dan Bunda berikan lebih banyak mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti makanan dan air–yang untuk mendapatkannya pun mereka harus mengantre panjang. Kedua jenis kebutuhan ini seketika menjadi barang langka di sana. Hal ini dikarenakan harga barang pokok meningkat hingga mencapai 500%. Hampir seluruh sektor di Gaza mengalami kelumpuhan total dalam produksi ekonomi, sehingga ekonomi di Gaza mengalami kontraksi sebesar 83% (OCHA OPT, 2025).  Selain itu, banyak anak yatim kita yang mengalami luka akibat serangan, sehingga bantuan Ayah dan Bunda juga sangat berguna bagi mereka untuk membeli obat-obatan. 

Mereka yang sebelumnya bisa dengan bebas bersekolah sebagaimana anak-anak umumnya, kini harus mencari cara sendiri agar hidup mereka tidak kosong dan lepas dari pendidikan.

Sulitnya Mendokumentasikan Anak Yatim Kita

Banyak yang bertanya, mengapa kami tidak dapat memberikan dokumentasi seluruh anak yatim? Jawaban dari tim kami di lapangan sangat jelas: keamanan dan nyawa mereka menjadi taruhannya. Saat ini, setiap orang yang memegang kamera menjadi target serangan. Relawan kemanusiaan, termasuk tim kami di lapangan yang menangani langsung anak-anak yatim ini, sangat rentan menjadi sasaran. Salah satu dari mereka, Ahmad, yang turut mendokumentasikan  kondisi yatim kita di Gaza, telah syahid dalam serangan brutal Israel baru-baru ini. Nyawanya menjadi harga yang dibayar dalam menjalankan tugas sebagai seorang pejuang kemanusiaan.

Perpindahan terus-menerus dan situasi darurat yang kian memburuk membuat proses dokumentasi secara menyeluruh menjadi sangat sulit. Semua ini menjadi tantangan besar dan nyata bagi relawan kami di lapangan. 

Suara dari Gaza: Penderitaan Tanpa Kata

“Kami sering mendengar suara bising pesawat tanpa awak. Situasi sangat menakutkan dan terjadi serangan di setiap wilayah. Aku dan penduduk lainnya mendengar suara ledakan setiap waktu. Transportasi pun sangat sulit diperoleh karena minimnya ketersediaan bahan bakar kendaraan. Tatkala aku mengambil bantuan dari Ayah dan Bunda di Indonesia, aku harus menuju lokasi yang jauh dan harus kulakukan dengan berjalan kaki. Aku tak tega jika harus membawa anakku ke sana, karena takut kehilangan mereka,” rintih seorang Ibu dari salah satu ananda yatim kita di Gaza.

Apa yang sedang terjadi di Gaza pada hari-hari ini tidak lagi dapat digambarkan dengan kata-kata. Serangan demi serangan terus berlangsung tanpa jeda. Blokade oleh Israel memperburuk keadaan dan meningkatkan krisis kelaparan. Menurut laporan Klasifikasi Ketahanan Pangan (Integrated Food Security Phase Classification/ IPC) sebanyak 1,95 juta orang di Gaza mengalami krisis pangan akut.  Hal ini karena hampir mustahil untuk mendapatkan ketersediaan bahan-bahan pokok. 

Sebagian besar anak-anak yatim yang kita dampingi saat ini berada di wilayah Gaza Tengah, di antaranya di Khan Younis, Deir al-Balah, dan Al-Mawashi. Tiga daerah ini mereka anggap sebagai tempat yang “cukup aman”, meski kenyataannya tidak ada satu pun titik yang aman di sepanjang Jalur Gaza. Mereka hidup berpindah dari tenda ke tenda, tanpa tahu kapan dan di mana serangan berikutnya akan terjadi. 

Kebutuhan anak-anak yatim di Gaza terus bertambah setiap harinya. Di tengah  blokade yang masih berlangsung saat ini, bantuan dari Ayah Bunda sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka. Saat ini, sebanyak 2.000 dari total 40.000 anak yatim di Gaza mendapatkan dukungan Ayah dan Bunda melalui program yatim bulanan. Mereka dapat bertahan hidup berkat tangan-tangan dermawan dan ketulusan cinta dari Ayah dan Bunda. 

Meski anak-anak yatim kita kehilangan keluarga mereka, kami tetap berusaha agar mereka tidak kehilangan mimpi dan harapan hidup mereka. Ayah dan Bunda menjadi bagian dari keluarga jauh mereka yang tulus membantu dengan materi serta doa-doa yang terus melangit. Terima kasih untuk Ayah dan Bunda karena sampai detik ini tetap rutin memberikan dukungan dan terus melangitkan doa. Mereka sangat berterima kasih atas bantuan ini. 

“Aku, Iman Ahmad Muhammad Iwadh, seorang anak yatim, mengucapkan terima kasih kepada Ayah Bunda atas dana yang rutin dikirimkan setiap bulannya kepadaku. Semoga Allah memberkahi Ayah Bunda dan membalas kalian dengan sebaik-baiknya balasan.” Ungkap anak yang akrab dipanggil Iman Iwadh (4 tahun) kepada tim kami melalui tulisan mungilnya.

ShareTweetSendShare
Previous Post

Tank Israel Menyerbu dan Menyerang Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara

Next Post

Pasukan Israel Kuasai 77% Gaza

Adara Relief International

Related Posts

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar
Berita Kemanusiaan

Laporan Haaretz: AS Berpotensi Danai Pabrik Kendaraan Tempur Baru Israel hingga US$2 Miliar

by Adara Relief International
Januari 15, 2026
0
20

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa Amerika Serikat berpotensi mendanai pembangunan pabrik baru kendaraan tempur lapis baja di Israel dengan...

Read moreDetails
Kementerian Kesehatan Gaza Tegaskan Israel Hambat Obat dan Pangan Esensial

Kementerian Kesehatan Gaza Tegaskan Israel Hambat Obat dan Pangan Esensial

Januari 15, 2026
18
Apoteker Gaza Sulap Rumah Jadi Laboratorium Obat Darurat di Tengah Kepungan

Apoteker Gaza Sulap Rumah Jadi Laboratorium Obat Darurat di Tengah Kepungan

Januari 15, 2026
16
Pemerintah Palestina Desak Tekanan Internasional Hentikan Krisis Kemanusiaan Gaza

Pemerintah Palestina Desak Tekanan Internasional Hentikan Krisis Kemanusiaan Gaza

Januari 15, 2026
22
Israel Legalkan Lima Pos Permukiman Ilegal di Tepi Barat

Israel Legalkan Lima Pos Permukiman Ilegal di Tepi Barat

Januari 15, 2026
16
Gaza Kehilangan 85% Alat Penyelamatan, Operasi Darurat Terancam

Gaza Kehilangan 85% Alat Penyelamatan, Operasi Darurat Terancam

Januari 14, 2026
15
Next Post
Pasukan Israel Kuasai 77% Gaza

Pasukan Israel Kuasai 77% Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630