“Rumah kami hancur, ayahku syahid, mainanku hancur, kamarku hancur, pakaianku hancur, tempat tidurku rusak, semuanya telah hilang dan tidak pernah kembali. Kami hanya tinggal di tenda dan tidak tahu harus berbuat apa…” ungkap seorang yatim, Bisan Nadir Suhail Ghabn.
Ayah dan Bunda, anak-anak yatim kita masih bertahan di bawah tenda-tenda pengungsian, di tengah rentetan bom, dentuman senjata, dan reruntuhan bangunan yang kini menjadi pemandangan sehari-hari di Jalur Gaza. Kehilangan kini menjadi teman akrab mereka—kehilangan rumah, kehilangan teman, juga kehilangan kesempatan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Semua itu terjadi setelah sekian lama mereka kehilangan sosok tercinta: seorang ayah. Di bawah langit Gaza yang muram, mereka terus berjuang untuk hidup, meski dunia mereka telah hancur berkeping-keping.
Inilah sepenggal kisah tentang bagaimana anak-anak yatim kita berjuang untuk hidup di tengah genosida yang berlangsung, dan bagaimana bantuan yang Ayah dan Bunda titipkan kepada Adara menjadi harapan mereka untuk terus bertahan.
Menyalurkan Bantuan Ayah dan Bunda di Tengah Serangan
Menyalurkan bantuan bulanan di Gaza saat ini bukanlah perkara mudah. Tim kami di lapangan menghadapi berbagai tantangan besar. Sejauh ini, terdapat dua cara yang biasa kami lakukan:
- Kunjungan langsung ke tempat tinggal yatim. Metode ini hanya dapat dilakukan bila lokasi mereka masih dapat dijangkau. Namun, dengan kondisi anak-anak yang tersebar di banyak titik pengungsian dan situasi yang tidak aman, sulit untuk melakukan pendekatan dengan metode ini. Tidak jarang, keberadaan anak-anak lain yang juga membutuhkan di sekitar lokasi membuat suasana menjadi sensitif dan riskan.
- Mengundang anak-anak yatim kita ke satu titik lokasi. Cara ini memudahkan tim kami di lapangan, tapi justru menciptakan risiko yang lebih tinggi. Para yatim terpaksa mengeluarkan biaya perjalanan yang mahal untuk mencapai titik lokasi, itu pun jika tersedia. Di sisi lain, mengumpulkan yatim dalam satu lokasi menjadikan mereka target serangan. Ini mengancam keselamatan anak-anak, keluarga mereka, dan juga tim di lapangan.
Dari Pendidikan ke Pemenuhan Kelaparan
Sebelum agresi besar-besaran ini, bantuan yang Ayah dan Bunda berikan sangat berguna untuk menjamin kebutuhan anak-anak kita. Kebutuhan tersebut meliputi kesehatan, pakaian, dan pendidikan. Biaya yang diberikan dapat dikelola oleh keluarga atau wali mereka dengan sebaik dan seoptimal mungkin untuk jangka waktu satu bulan.
Namun, kini semuanya berubah drastis. Bantuan yang Ayah dan Bunda berikan lebih banyak mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti makanan dan air–yang untuk mendapatkannya pun mereka harus mengantre panjang. Kedua jenis kebutuhan ini seketika menjadi barang langka di sana. Hal ini dikarenakan harga barang pokok meningkat hingga mencapai 500%. Hampir seluruh sektor di Gaza mengalami kelumpuhan total dalam produksi ekonomi, sehingga ekonomi di Gaza mengalami kontraksi sebesar 83% (OCHA OPT, 2025). Selain itu, banyak anak yatim kita yang mengalami luka akibat serangan, sehingga bantuan Ayah dan Bunda juga sangat berguna bagi mereka untuk membeli obat-obatan.
Mereka yang sebelumnya bisa dengan bebas bersekolah sebagaimana anak-anak umumnya, kini harus mencari cara sendiri agar hidup mereka tidak kosong dan lepas dari pendidikan.
Sulitnya Mendokumentasikan Anak Yatim Kita
Banyak yang bertanya, mengapa kami tidak dapat memberikan dokumentasi seluruh anak yatim? Jawaban dari tim kami di lapangan sangat jelas: keamanan dan nyawa mereka menjadi taruhannya. Saat ini, setiap orang yang memegang kamera menjadi target serangan. Relawan kemanusiaan, termasuk tim kami di lapangan yang menangani langsung anak-anak yatim ini, sangat rentan menjadi sasaran. Salah satu dari mereka, Ahmad, yang turut mendokumentasikan kondisi yatim kita di Gaza, telah syahid dalam serangan brutal Israel baru-baru ini. Nyawanya menjadi harga yang dibayar dalam menjalankan tugas sebagai seorang pejuang kemanusiaan.
Perpindahan terus-menerus dan situasi darurat yang kian memburuk membuat proses dokumentasi secara menyeluruh menjadi sangat sulit. Semua ini menjadi tantangan besar dan nyata bagi relawan kami di lapangan.
Suara dari Gaza: Penderitaan Tanpa Kata
“Kami sering mendengar suara bising pesawat tanpa awak. Situasi sangat menakutkan dan terjadi serangan di setiap wilayah. Aku dan penduduk lainnya mendengar suara ledakan setiap waktu. Transportasi pun sangat sulit diperoleh karena minimnya ketersediaan bahan bakar kendaraan. Tatkala aku mengambil bantuan dari Ayah dan Bunda di Indonesia, aku harus menuju lokasi yang jauh dan harus kulakukan dengan berjalan kaki. Aku tak tega jika harus membawa anakku ke sana, karena takut kehilangan mereka,” rintih seorang Ibu dari salah satu ananda yatim kita di Gaza.
Apa yang sedang terjadi di Gaza pada hari-hari ini tidak lagi dapat digambarkan dengan kata-kata. Serangan demi serangan terus berlangsung tanpa jeda. Blokade oleh Israel memperburuk keadaan dan meningkatkan krisis kelaparan. Menurut laporan Klasifikasi Ketahanan Pangan (Integrated Food Security Phase Classification/ IPC) sebanyak 1,95 juta orang di Gaza mengalami krisis pangan akut. Hal ini karena hampir mustahil untuk mendapatkan ketersediaan bahan-bahan pokok.
Sebagian besar anak-anak yatim yang kita dampingi saat ini berada di wilayah Gaza Tengah, di antaranya di Khan Younis, Deir al-Balah, dan Al-Mawashi. Tiga daerah ini mereka anggap sebagai tempat yang “cukup aman”, meski kenyataannya tidak ada satu pun titik yang aman di sepanjang Jalur Gaza. Mereka hidup berpindah dari tenda ke tenda, tanpa tahu kapan dan di mana serangan berikutnya akan terjadi.
Kebutuhan anak-anak yatim di Gaza terus bertambah setiap harinya. Di tengah blokade yang masih berlangsung saat ini, bantuan dari Ayah Bunda sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka. Saat ini, sebanyak 2.000 dari total 40.000 anak yatim di Gaza mendapatkan dukungan Ayah dan Bunda melalui program yatim bulanan. Mereka dapat bertahan hidup berkat tangan-tangan dermawan dan ketulusan cinta dari Ayah dan Bunda.
Meski anak-anak yatim kita kehilangan keluarga mereka, kami tetap berusaha agar mereka tidak kehilangan mimpi dan harapan hidup mereka. Ayah dan Bunda menjadi bagian dari keluarga jauh mereka yang tulus membantu dengan materi serta doa-doa yang terus melangit. Terima kasih untuk Ayah dan Bunda karena sampai detik ini tetap rutin memberikan dukungan dan terus melangitkan doa. Mereka sangat berterima kasih atas bantuan ini.
“Aku, Iman Ahmad Muhammad Iwadh, seorang anak yatim, mengucapkan terima kasih kepada Ayah Bunda atas dana yang rutin dikirimkan setiap bulannya kepadaku. Semoga Allah memberkahi Ayah Bunda dan membalas kalian dengan sebaik-baiknya balasan.” Ungkap anak yang akrab dipanggil Iman Iwadh (4 tahun) kepada tim kami melalui tulisan mungilnya.







