Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan darurat pada Rabu (22/5), menyatakan bahwa sistem pelayanan kesehatan di Jalur Gaza berada dalam kondisi kritis akibat operasi darat Israel yang semakin intensif serta perintah evakuasi terbaru yang memojokkan layanan kesehatan hingga “melampaui titik kehancuran”.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan melalui platform X bahwa rumah sakit dan pusat layanan kesehatan di wilayah utara dan selatan Gaza berada di bawah tekanan luar biasa. Beberapa fasilitas bahkan telah berhenti beroperasi karena serangan dan pembatasan akses yang terus berlangsung.
Di Gaza utara, tiga rumah sakit—Rumah Sakit Indonesia, Rumah Sakit Kamal Adwan, dan Rumah Sakit Al-Awda—bersama dengan tiga pusat kesehatan primer dan empat titik medis berada dalam zona evakuasi yang diumumkan pada 20 Mei. Selain itu, dua rumah sakit lain, empat pusat kesehatan, dan enam titik medis berada dalam radius 1.000 meter dari zona tersebut.
Tedros mengonfirmasi bahwa Rumah Sakit Kamal Adwan kini tidak lagi berfungsi setelah aktivitas militer di dekatnya memicu kepanikan di antara pasien dan staf medis. “Tidak ada pasien yang tersisa di fasilitas tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Rumah Sakit Indonesia tidak dapat diakses karena kehadiran pasukan Israel yang terus berlanjut. Serangan pada Senin lalu bahkan mengenai generator listrik rumah sakit tersebut. Rumah Sakit Al-Awda—satu-satunya rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza utara—juga “kewalahan dan terancam tutup” akibat situasi keamanan yang memburuk dan terbatasnya akses.
Kondisi serupa juga terjadi di Gaza selatan. Rumah Sakit Eropa Gaza yang kini tidak beroperasi, bersama delapan pusat kesehatan primer dan sembilan titik medis, berada dalam zona evakuasi yang diumumkan pada 19 Mei. Rumah sakit lain seperti Nasser, Al-Amal, dan Al-Aqsa, serta satu rumah sakit lapangan, lima pusat kesehatan primer, dan 17 titik medis, juga berada dalam jarak satu kilometer dari zona evakuasi.
Tedros menekankan bahwa sekalipun rumah sakit tidak diserang secara langsung atau belum diperintahkan untuk dievakuasi, keberadaan militer dan situasi keamanan yang buruk sangat menghambat akses pasien dan tenaga medis, serta menghalangi upaya WHO dalam menyalurkan pasokan medis penting.
“Hal ini dapat dengan cepat membuat fasilitas kesehatan tidak berfungsi,” ujarnya. “Kita sudah terlalu sering melihat ini terjadi. Ini tidak boleh dibiarkan terulang kembali.”
Ia menyerukan perlindungan segera terhadap fasilitas kesehatan dan diberlakukannya gencatan senjata. “Rumah sakit tidak boleh dimiliterisasi atau dijadikan target,” tegasnya.








