Kondisi anak-anak di Jalur Gaza semakin mengkhawatirkan akibat blokade ketat dan serangan tanpa henti oleh Israel. Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyatakan bahwa selama dua bulan terakhir, anak-anak Gaza menghadapi bombardir terus-menerus sekaligus kekurangan barang kebutuhan pokok, layanan dasar, dan perawatan penyelamatan jiwa. “Blokade bantuan terus berlanjut, risiko kelaparan, penyakit, dan kematian bagi anak-anak semakin meningkat—tidak ada yang bisa membenarkan ini,” tegasnya.
Russell menyoroti kehancuran lahan pertanian, terbatasnya akses ke laut, serta krisis pangan dan air bersih. Lebih dari 75% rumah tangga di Gaza mengalami penurunan drastis akses terhadap air. Anak-anak kekurangan air minum, tidak dapat mencuci tangan, dan harus memilih antara mandi, memasak, atau membersihkan diri. Produksi air dan roti menurun, pasar nyaris kosong, dan stok bantuan kemanusiaan hampir habis.
Penyebaran penyakit seperti diare akut meningkat tajam, terutama di kalangan balita. Vaksin mulai habis, dan lebih dari 9.000 anak telah dirawat akibat malnutrisi akut sejak awal tahun.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah (GMO) di Gaza memperingatkan bahwa 3.500 anak balita kini berada di ambang kematian akibat kelaparan. Lebih dari 70.000 anak telah dirawat di rumah sakit karena malnutrisi parah, dan sekitar 290.000 anak lainnya berada dalam kondisi yang sangat berisiko. Setiap hari, sebanyak 1,1 juta anak di Gaza tidak mendapatkan porsi makanan minimal untuk bertahan hidup.
GMO menegaskan bahwa kebijakan sistematis kelaparan dan pelarangan masuknya makanan dan obat-obatan yang dilakukan oleh Israel merupakan bentuk genosida menurut hukum internasional. Lembaga ini juga mengecam diamnya masyarakat dunia yang dinilai turut berkontribusi dalam kejahatan ini.
UNICEF dan GMO mendesak pencabutan blokade, dibukanya kembali perlintasan, serta masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk susu formula dan suplemen gizi. Mereka juga menyerukan perlindungan terhadap seluruh anak-anak dan penghentian segera kejahatan yang telah merenggut lebih dari 52.000 jiwa sejak Oktober 2023.
Sumber:







