Israel terus melanjutkan kampanye pengeboman mematikan di Jalur Gaza, menghabisi nyawa lebih dari 70 orang dalam 24 jam terakhir, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak.
Di al-Mawasi, sebuah tempat di Khan Younis, bagian selatan Gaza, yang ditetapkan Israel sebagai “zona kemanusiaan”, para perempuan terlihat berkumpul di sekitar seorang nenek yang menangis tersedu-sedu. Dalam semalam, dia kehilangan dua generasi: putrinya dan lima cucu.
“Anakku sayang, cintaku… Dia [putrinya] sedang mengejar saudara laki-lakinya dan ayahnya,” tangisnya, mengingat kembali kehilangan-kehilangan sebelumnya selama genosida. “Mereka tidak melakukan apa-apa, mereka hanya anak-anak,” kata nenek yang dirundung duka itu.
Ahmed al-Majaidah, saudara laki-laki mendiang ibu lima anak itu, mengatakan kepada MEE bahwa keponakan-keponakannya berusia antara empat hingga 16 tahun. “Saat kami datang untuk mengidentifikasi, demi Tuhan, kami tidak dapat mengenali mereka,” katanya, seraya menambahkan bahwa salah satu anak, yang kehilangan kepalanya dalam serangan itu, hanya dapat diidentifikasi melalui tanda lahir di bagian telinganya yang tersisa. Anak-anak lainnya hanya dapat dikenali dari pakaian yang mereka kenakan. Sementara itu, saudara perempuan mereka dan dua sepupu lainnya masih tertimbun reruntuhan.
Majaidah menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “melakukan genosida terhadap warga sipil, anak-anak, perempuan, orang tua, dan seluruh warga Gaza.” “Ini ditujukan ke semua media, saya bersumpah kepada Tuhan bahwa anak-anak itu tidak dapat lagi dikenali,” kata Majaidah.
Situasi serupa terjadi di seluruh Al-Mawasi. Ahmed Alyaan, seorang reporter dari Gaza, berdiri di samping jenazah bayi perempuannya yang bernama Misk, menceritakan malam yang mengerikan itu. Mereka sedang tidur ketika serangan Israel menghantam tenda di dekatnya tanpa peringatan apa pun sekitar pukul 11 malam, katanya. Pecahan peluru dari serangan itu mengenai kepala putri dan istrinya.
Sementara anaknya terbunuh dalam serangan itu, istrinya dibawa ke ruang perawatan intensif. Mengingat bahwa istrinya telah kehilangan lebih dari 40 anggota keluarga dalam serangan Israel, Alyaan berdoa agar istrinya pulih dari luka-lukanya.
“Israel sedang berperang melawan mereka,” kata Alyaan sambil menunjuk bayinya. “Dia sekarang sudah menjadi burung di surga… Memang benar ada banyak kesedihan atas kehilangan itu, tetapi saya beruntung, saya akan bertemu dengannya di surga suatu hari nanti… Cintaku, dia adalah jiwaku,” katanya kepada MEE, sambil menangis. “[Istri saya] lahir ke dunia ini sebagai yatim piatu, dan putri saya lahir dan meninggal dalam genosida,” katanya.
Neraka baru terjadi di Gaza
Meskipun disebut sebagai “zona aman”, Al-Mawasi telah berulang kali menjadi sasaran tentara Israel. Daerah tersebut merupakan rumah bagi ribuan warga Palestina yang mengungsi, seperti keluarga Majaidah dan Alyaan, yang mencari perlindungan dari serangan Israel.
Pengeboman serupa terhadap warga sipil dan zona kemanusiaan telah dilaporkan di seluruh Gaza, menyebabkan puluhan orang meninggal dan banyak yang terluka.
Di Deir al-Balah, Gaza tengah, sedikitnya enam orang meninggal dalam pengeboman di sebuah kedai kopi. Rekaman video memperlihatkan jasad pelanggan, baik yang meninggal maupun yang terluka, tergeletak di sekitar kursi dan meja yang roboh di Kafe Saftawi. Lantainya berlumuran darah saat asap menyelimuti area tersebut.
Pada Senin (28/4), Direktur Jenderal Komite Palang Merah Internasional Pierre Krahenbuhl mengatakan bahwa genosida Israel di wilayah kantong tersebut yang kembali dimulai sejak 18 Maret telah “memicu neraka baru”.
Berbicara di Forum Keamanan Global 2025 di Doha, Krahenbuhl mengatakan Gaza telah “menyaksikan dan masih mengalami kematian, cedera, pengungsian berulang kali, amputasi, pemisahan, penghilangan paksa, kelaparan, dan perampasan bantuan dan martabat dalam skala besar”.
“Tepat ketika gencatan senjata yang sangat penting membuat orang-orang percaya bahwa mereka telah lolos dari yang terburuk, muncul neraka yang baru. “Kengerian dan dehumanisasi ini akan menghantui kita selama beberapa dekade mendatang,” tambah Kraehenbuhl.
Sejak Israel melanggar gencatan senjata lebih dari sebulan yang lalu, Israel telah menghabisi nyawa lebih dari 2.222 warga Palestina. Jika diakumulasi sejak Oktober 2023, setidaknya 52.314 orang telah terbunuh dan 117.792 orang terluka. Hampir sepertiga dari kematian di Gaza sejak Maret adalah anak-anak, menurut statistik yang diterbitkan oleh kementerian kesehatan setempat.
Sumber: https://www.middleeasteye.net/news/israeli-strikes-rain-down-gaza-cafe-displacement-tents








