Militer Israel memprediksi krisis besar akan terjadi di Gaza dalam dua pekan ke depan, namun tetap melanjutkan blokade total yang telah berlangsung selama 51 hari. Dalam laporan Walla, sumber dari Komando Selatan Israel menyebut bahwa krisis pangan, obat-obatan, dan peralatan medis akan semakin parah, namun mereka menilai warga Gaza “akan beradaptasi selama mereka punya tepung, air, dan tempat berteduh”.
Sementara itu, PBB (OCHA) menegaskan bahwa sejak awal blokade terbaru, tidak satu pun truk bantuan diizinkan masuk, meski sangat penting untuk kelangsungan hidup warga.
Israel percaya bahwa tekanan ini akan memaksa Hamas membebaskan para sandera. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menyatakan secara terbuka bahwa penghentian bantuan kemanusiaan adalah alat tekanan utama terhadap Hamas, dan bahwa “tidak ada bantuan apa pun yang akan masuk ke Gaza dalam situasi saat ini”.
Mahkamah Agung Israel juga menolak petisi kelompok HAM yang meminta negara membuka akses bantuan. Israel mengklaim taktiknya didukung penuh oleh AS, termasuk Duta Besar AS Mike Huckabee yang menolak desakan WHO agar bantuan kembali disalurkan.
Meskipun militer Israel menyebut akan membentuk “zona distribusi bantuan” di Gaza bagian selatan dan tengah jika bantuan dilanjutkan, kenyataannya wilayah “zona kemanusiaan” seperti al-Mawasi pun masih dibombardir, bahkan mungkin akan dikosongkan kembali.
Di tengah kecaman internasional—termasuk dari Senator AS Bernie Sanders yang menyebut blokade ini sebagai “kejahatan perang”—pemerintah Israel tetap bersikeras bahwa mereka bertindak sesuai hukum internasional, meskipun belum menunjukkan komitmen nyata untuk melanjutkan distribusi bantuan.
Sumber:








