Dua juta warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—tengah mengalami hukuman kolektif akibat pengepungan yang diberlakukan oleh otoritas pendudukan Israel di Jalur Gaza. Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menegaskan bahwa “kelaparan tengah menyebar dan semakin dalam. Ini adalah kondisi yang disengaja dan buatan manusia.”
Sudah 50 hari pengepungan berlangsung, dan selama itu pula rakyat Gaza hidup dalam keputusasaan. Persediaan medis untuk yang terluka, sakit, dan lanjut usia sangat minim, sementara ribuan truk bantuan kemanusiaan, termasuk sekitar 3.000 truk milik UNRWA, masih tertahan di perbatasan. Bantuan vital yang seharusnya menyelamatkan nyawa kini dibiarkan membusuk, dijadikan alat tawar-menawar dan senjata perang.
“Pengepungan ini harus diakhiri. Bantuan harus segera masuk, para sandera dibebaskan, dan gencatan senjata harus dilanjutkan,” desak Lazzarini dalam pernyataannya kepada media, Selasa. Ia juga mempertanyakan, “Berapa lama lagi kata-kata kecaman yang hampa ini akan berubah menjadi tindakan nyata untuk menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan?”
Israel kembali melanjutkan agresinya pada 18 Maret, mengintensifkan blokade setelah gencatan senjata dua bulan yang dimulai pada 19 Januari. Sepanjang periode gencatan senjata tersebut, Israel terus melanggar ketentuan perjanjian yang telah disepakati.
Sumber:








