Blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung selama tiga pekan semakin mendekatkan wilayah tersebut ke krisis kelaparan akut, menurut Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini.
“Hari-hari yang berlalu tanpa makanan membuat Gaza semakin dekat dengan krisis kelaparan akut,” tulis Lazzarini di media sosial X pada hari Ahad (23/03). Ia menekankan bahwa warga Palestina di Gaza sangat bergantung pada impor bantuan melalui Israel untuk bertahan hidup.
“Setiap hari tanpa masuknya bantuan berarti semakin banyak anak yang tidur dalam keadaan lapar, penyakit menyebar, dan penderitaan semakin dalam,” lanjutnya.
Lazzarini juga menyoroti bahwa larangan Israel terhadap masuknya bantuan merupakan bentuk hukuman kolektif terhadap Gaza. Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang menanggung dampak terbesar. Ia menyerukan agar Israel segera mencabut blokade, membebaskan para sandera, serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dan pasokan komersial secara berkelanjutan dan dalam jumlah besar.
Otoritas lokal di Gaza pada Rabu lalu memperingatkan bahwa wilayah tersebut telah resmi memasuki fase awal kelaparan, yang mengancam hampir dua juta warga Palestina. Sejumlah warga, termasuk jurnalis Gaza Abubaker Abed, telah melaporkan mengalami malnutrisi akibat blokade ini.
“Saya didiagnosis mengalami malnutrisi dan harus beristirahat di tempat tidur selama beberapa hari terakhir. Dalam kondisi sistem imun yang lemah seperti ini, malnutrisi bisa menjadi vonis mati,” tulis Abed di media sosial pada Ahad (23/03).
Abed telah mendokumentasikan serangan Israel serta kondisi kemanusiaan di Gaza sejak awal perang. Situasi semakin memburuk karena blokade ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Setelah kesepakatan gencatan senjata tahap pertama berakhir pada 1 Maret, Israel memperketat blokade, melarang masuknya makanan, obat-obatan, air, dan bahan bakar sejak 4 Maret. Organisasi seperti Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa mereka tidak dapat mengirimkan bantuan makanan ke Gaza sejak 2 Maret. Seiring berlanjutnya blokade, ketersediaan makanan semakin menipis, dan harga barang yang tersisa melonjak tajam.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








