Pemerintah Israel diduga menghindari negosiasi tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata di Gaza, yang seharusnya dimulai pada hari ke-16 setelah selesainya kesepakatan tahap pertama. Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat di Israel, menyatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja memperpanjang genosida demi kepentingan politiknya.
“Netanyahu ingin agresi ini berlangsung selamanya. Dia terus mencari cara untuk membuat warga Israel tetap dalam keadaan darurat karena itu menguntungkan posisinya,” kata Golan kepada harian Maariv. Ia juga menegaskan bahwa Netanyahu tidak memprioritaskan nyawa para sandera atau tentara Israel yang tewas di medan perang.
Kesepakatan tahap pertama, yang berlangsung selama enam minggu sejak 19 Januari, secara resmi berakhir pada Sabtu tengah malam. Namun, Israel menolak untuk melanjutkan tahap kedua, yang mencakup penghentian penuh agresi dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan melanjutkan proses ini kecuali Israel memenuhi semua kewajibannya sesuai kesepakatan.
Setelah berakhirnya tahap pertama gencatan senjata, Israel menghentikan seluruh bantuan kemanusiaan ke Gaza dengan alasan Hamas menolak memperpanjang kesepakatan awal. Kantor Netanyahu menyatakan bahwa jika Hamas terus menolak, akan ada konsekuensi tambahan. Keputusan ini didukung oleh politisi sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, yang menyerukan pemutusan listrik dan air ke Gaza serta dimulainya kembali serangan militer.
Sementara itu, kantor media pemerintah Gaza mengutuk tindakan Israel sebagai “genosida dengan melaparkan penduduk” karena lebih dari dua juta penduduk Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Mereka mendesak para mediator internasional untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban sesuai perjanjian.
Di tengah kebuntuan ini, perwakilan Israel dikabarkan berada di Kairo untuk bernegosiasi mengenai perpanjangan tahap pertama gencatan senjata selama 42 hari tambahan. Namun, Hamas menolak proposal tersebut dan menegaskan bahwa mereka hanya akan melanjutkan ke tahap kedua yang telah disepakati, yang mencakup penghentian total agresi dan penarikan penuh Israel dari Gaza.
Meskipun laporan dari pemerintah Mesir menyatakan bahwa diskusi intensif telah dimulai antara Israel, Qatar, dan Amerika Serikat, Hamas membantah adanya perundingan mengenai tahap kedua. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menegaskan bahwa Israel menghindari kewajiban untuk mengakhiri agresi dan menarik pasukannya dari Gaza. Menurutnya, Israel hanya ingin membebaskan sandera tanpa menghentikan agresi militer terhadap rakyat Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








