Google dan Microsoft terus menyediakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan layanan komputasi awan yang mendukung operasi militer Israel, meskipun mendapat kritik publik yang menyoroti keterlibatan mereka dalam agresi tersebut. Laporan dari The Washington Post dan +972 Magazine mengungkapkan sejauh mana dukungan teknologi ini diberikan sejak serangan Israel ke Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023.
Menurut dokumen yang diperoleh The Washington Post, Google telah memberikan akses teknologi AI-nya kepada Kementerian Pertahanan dan militer Israel. Sebuah memo internal dari beberapa minggu setelah 7 Oktober 2023 menunjukkan seorang karyawan Google mendesak peningkatan akses AI untuk tentara Israel. Dokumen lain dari musim semi dan musim panas 2024 mengungkap permintaan tambahan untuk teknologi AI yang lebih luas, termasuk layanan AI Vertex.
Permintaan ini tidak berhenti di sana. Pada November 2024, dokumen menunjukkan bahwa militer Israel masih meminta akses ke teknologi AI terbaru Google, termasuk platform AI Gemini yang dirancang untuk memproses teks dan suara. Hal ini menegaskan dukungan Google yang berkelanjutan bahkan setelah setahun berlalu sejak pengeboman besar-besaran di Gaza.
Selain Google, +972 Magazine melaporkan bahwa penggunaan layanan komputasi awan Microsoft Azure oleh militer Israel meningkat drastis setelah Oktober 2023. Dalam waktu satu bulan, penggunaan layanan ini melonjak tujuh kali lipat dan meningkat hingga 64 kali lipat pada Maret 2024. Microsoft disebut memiliki “jejak” signifikan dalam infrastruktur militer Israel, dengan peningkatan besar dalam penjualan layanan komputasi awan dan AI kepada tentara Israel sejak serangan ke Gaza dimulai.
Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk operasional umum, tetapi juga untuk aktivitas militer strategis. Laporan sebelumnya dari The Washington Post menyebutkan bahwa Israel mulai menggunakan sistem AI bernama Habsora setelah 7 Oktober 2023. Sistem ini diduga digunakan untuk memilih target manusia dan infrastruktur, menimbulkan kekhawatiran tentang peran AI dalam meningkatkan intensitas serangan militer.
Namun, baik Google maupun Microsoft belum memberikan komentar publik atas temuan ini. Kritik terhadap kedua perusahaan terus mengemuka, mengingat sejarah panjang Israel dalam menggunakan teknologi canggih untuk memperkuat penindasan terhadap rakyat Palestina. Meskipun dokumen-dokumen ini menunjukkan keterlibatan teknologi yang signifikan, tidak ada rincian pasti tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan secara spesifik atau dampaknya terhadap serangan militer di Gaza.
Sumber:
https://www.washingtonpost.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








