Pasukan Israel dilaporkan melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan Palestina dan mengeksekusi warga sipil selama serangan di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza pada hari Jumat (27/12), menurut kesaksian saksi yang tercatat dalam laporan terbaru.
Bentuk kekerasan terhadap perempuan termasuk menelanjangi mereka, menyentuh mereka di bawah ancaman kekerasan, memukul, serta melontarkan hinaan seksual. Kesaksian para korban dikumpulkan oleh Euro-Med Human Rights Monitor dan diterbitkan pada Sabtu (28/12).
Menurut laporan tersebut, puluhan perempuan dan anak perempuan yang ditahan selama penggerebekan mengalami pelecehan yang termasuk dalam kategori kekerasan seksual. Dalam salah satu insiden, seorang tentara menyobek pakaian seorang perempuan hingga memperlihatkan bagian dadanya setelah ia menolak melepas jilbabnya.
Seorang perempuan lain menceritakan, “Seorang tentara memaksa seorang perawat untuk melepas celananya, kemudian menyentuhnya secara tidak senonoh. Ketika perawat itu melawan, ia dipukul keras di wajah hingga hidungnya berdarah.”
Kesaksian lain menyebutkan bahwa seorang tentara mengancam seorang perempuan, “Lepaskan pakaianmu, atau kami akan memaksa melakukannya.”
Seorang staf rumah sakit mengungkapkan, “Para tentara memerintahkan kami untuk melepas jilbab, tetapi kami menolak. Mereka kemudian beralih ke anak-anak perempuan di bawah usia 20 tahun dan menuntut mereka untuk melepas jilbab. Ketika mereka juga menolak, dua perempuan dipaksa menanggalkan pakaian mereka di bawah ancaman.”
Menurut laporan Euro-Med, saksi mata juga menggambarkan kejahatan lain yang dilakukan pasukan Israel, seperti eksekusi pasien dan tahanan tak bersenjata serta peledakan jebakan di sekitar rumah. Seorang paramedis sukarelawan berinisial AA mengaku selamat dari jebakan bom di rumahnya. Ia juga menyaksikan pasukan Israel menembak mati seorang pria yang membawa bendera putih.
“Ketika saya ditahan bersama sekitar 300 pria lainnya, kami dibawa ke area terbuka dekat pemakaman dan dipaksa menanggalkan pakaian hingga hanya mengenakan pakaian dalam selama berjam-jam meski cuaca sangat dingin,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan insiden tragis lainnya “seorang anak dengan gangguan psikologis berlari ke arah tank Israel. Saya memanggilnya, tetapi ia tidak mendengar. Ia langsung ditembak hingga terbunuh.”
Pasukan Israel juga memaksa lima orang terluka untuk berjalan di depan tank sebelum mereka ditembak mati tanpa interogasi. Pada Jumat, pasukan Israel menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, fasilitas kesehatan terakhir yang masih berfungsi di Gaza utara. Serangan ini didahului oleh blokade selama hampir tiga bulan yang mencegah masuknya bantuan kemanusiaan, obat-obatan, dan makanan, serta pengeboman besar-besaran terhadap kompleks rumah sakit dan lingkungan sekitarnya.
Selama serangan, pasukan Israel membakar berbagai departemen rumah sakit, membunuh pasien dan pekerja medis yang berada di dalamnya. Dokter dan pasien yang tersisa, berjumlah sekitar 350 orang, dipaksa keluar di bawah todongan senjata dalam kondisi setengah telanjang.
Sebagian orang akhirnya dibebaskan, tetapi banyak yang masih berada dalam tahanan Israel, termasuk Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan. Serangan ini menyebabkan ketiadaan satu pun pusat perawatan kesehatan yang berfungsi di Gaza utara, sesuai dengan “Rencana Jenderal” yang diajukan sekelompok jenderal Israel kepada pemerintah Israel. Rencana tersebut menyerukan pembersihan etnis di wilayah utara “Koridor Netzarim”, yang bertujuan membagi Gaza menjadi dua dan menjadikannya “zona militer tertutup.”
“Serangan ini memberikan pukulan terakhir pada sistem kesehatan yang tersisa di Gaza utara,” kata Kementerian Kesehatan Gaza pada Jumat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








