Setelah perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel berlaku pada pukul 4 pagi, para pengungsi dari selatan Lebanon bergegas kembali ke rumah mereka di Bekaa dan pinggiran selatan Beirut. Mereka tidak menunggu matahari terbit, sebaliknya, mereka bergegas membawa barang-barang mereka karena kerinduan mereka akan tanah yang mereka tinggalkan.
Jam-jam pertama kepulangan dipenuhi dengan emosi mendalam yang bercampur antara kegembiraan saat kembali setelah setahun lebih mengungsi, kesedihan karena kehilangan rumah, kerugian yang terjadi, dan kehilangan orang-orang terkasih yang gugur sebagai martir.
Pergerakan yang intens terlihat di sepanjang jalan raya, di pintu masuk kota, dan di tengah jalan utama. Hujan dan cuaca dingin tidak mampu meredakan kemacetan, seolah-olah ini merupakan tantangan baru bagi para pengungsi yang kembali, setelah mereka kewalahan dengan perintah evakuasi dari tentara pendudukan Israel.
Sebelumnya, juru bicara militer Israel Avichay Adraee menulis di X pada Rabu (27/11) bahwa penduduk akan dilarang bepergian ke selatan Sungai Litani, sekitar 30 km (20 mil) dari perbatasan Israel, mulai pukul 5 sore hingga pukul 7 pagi pada hari Kamis, karena pasukan Israel masih ada di daerah tersebut.
Meski begitu, para pengungsi tidak peduli dan bertekad untuk kembali. Mereka berdiri di pintu masuk kota masing-masing menunggu keputusan tentara Lebanon, sementara kepulangan mereka ditandai dengan pemandangan kasur dan selimut di atap-atap mobil mereka.
Angkatan Darat Lebanon memfasilitasi perjalanan melalui pos pemeriksaan militernya untuk menghindari kerumunan, pasukan keamanan dalam negeri dikerahkan untuk mengatur proses perjalanan, sementara tim medis dan ambulance ditempatkan di pintu masuk kota dan di bundaran utama untuk mengantisipasi keadaan darurat.
Selain kegembiraan yang mewarnai Lebanon, warga Palestina di Gaza pun merayakan gencatan tersebut secara daring sambil mengucapkan terima kasih atas solidaritas rakyat Lebanon dalam melawan Israel. Media sosial dibanjiri dengan postingan warga Lebanon yang kembali ke rumah mereka di selatan, serta ucapan dari warga Gaza dan orang-orang di seluruh dunia yang ikut merayakan kepulangan mereka.
Jurnalis Palestina Hossam Shabat menulis di X untuk berterima kasih kepada mereka yang berada di Lebanon karena telah berdiri untuk Gaza: “Dunia akan menyaksikan bahwa mereka yang berdiri bersama kami serta mendukung Gaza adalah Lebanon dan rakyatnya. Dalam situasi yang paling gelap sekalipun, posisi mereka jelas dan terhormat dalam mendukung mewujudkan makna persaudaraan dan solidaritas sejati.”
Sumber: https://www.middleeasteye.net
https://www.aljazeera.com/news
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








