Di Lembah Beqaa, di garis depan timur perang Israel di Lebanon, pasien yang terluka terbaring kesakitan di kamar-kamar rumah sakit. Para staf medis pun tampak kelelahan setelah merawat para korban serangan yang membabi buta dan tanpa henti selama beberapa pekan.
Rumah sakit Abdallah di Kota Rayak menghadapi situasi yang sangat genting. Lokasinya di Lembah Beqaa, sebidang tanah yang telah menjadi sasaran serangan harian Israel sejak pertengahan September.
Sistem medis Lebanon saat ini mampu mengatasinya, tetapi dapat dengan cepat mencapai titik jenuh, terutama karena stafnya yang kelelahan karena banyaknya jumlah korban luka, terpaksa melakukan praktik kedokteran perang di dalam sistem perawatan kesehatan yang sudah rapuh.
Menghadapi masuknya gelombang pasien dalam beberapa minggu terakhir, tenaga kesehatan tidak diizinkan pulang selama 20 hari. “Beberapa staf medis tidak lagi memiliki rumah karena hancur akibat pengeboman,” kata direktur medis rumah sakit, Dr. Basil Abdallah, kepada reporter Middle East Eye.
“Kami telah menerima 425 orang yang terluka, semuanya warga sipil. Kami sangat terpukul dengan banyaknya anak-anak, rata-rata berusia lima hingga 10 tahun, yang terluka parah,” kata seorang anggota tim medis.
Tony Abdo, salah satu dokter, melanjutkan: “Delapan puluh orang meninggal di rumah sakit, beberapa dibawa ke sini dengan tubuh mereka yang tercabik-cabik akibat pengeboman.”
“Mayoritas yang terluka mengalami luka serius; kami melakukan operasi terutama pada dada, perut, ginjal, kaki. Pengobatan perang kali ini lebih buruk daripada tahun 2006,” kata Abdallah kepada MEE, merujuk pada perang 33 hari yang dilancarkan Israel di wilayah Lebanon tahun itu, sebelum tentara Israel dipaksa mundur.
Menurut direktur medis, rumah sakit tersebut memiliki kapasitas untuk melanjutkan misinya untuk sementara waktu. Kedekatan beberapa rumah sakit di Kota Zahle, yang terletak beberapa kilometer jauhnya dan saat ini terhindar dari serangan Israel, memungkinkan mereka untuk memulangkan korban luka.
Saat ini, rumah sakit tidak kekurangan produk farmasi, kata Abdo. Namun, masalah keuangan parah yang dihadapi Lebanon selama lima tahun terakhir telah memengaruhi sistem perawatan kesehatan, termasuk pasokan medis.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








