Staf medis di rumah sakit Kamal Adwan di Gaza utara menggambarkan situasi yang mereka hadapi di tengah kepungan Israel, sebagai “bencana”. Nyawa anak-anak di unit perawatan intensif (ICU) yang penuh sesak semakin terancam di tengah menipisnya bahan bakar dan pasokan medis.
Pada Selasa (8/10), pasukan Israel mengeluarkan perintah pengusiran untuk tiga rumah sakit besar, yaitu Kamal Adwan, RS al-Awda, dan RS Indonesia di Gaza utara–tempat Israel melancarkan serangan besar-besaran, menjebak lebih dari 300 pasien yang sakit kritis, menurut PBB .
RS Kamal Adwan sejak saat itu berada di bawah pengepungan Israel. Amunisi aktif dan granat asap ditembakkan di sekitarnya. Direktur rumah sakit, Dr. Husam Abu Safiyeh, menolak untuk mematuhi perintah pengusiran karena ia mengatakan pemindahan pasien dapat berakibat fatal bagi mereka.
Menurut Dr. Eid Sabah, Direktur Departemen Keperawatan, ada sekitar 50 pasien yang terjebak di rumah sakit, termasuk sembilan pasien ICU, yang sebagian besar adalah anak-anak. Kehidupan sembilan pasien ini berada dalam risiko yang sangat serius akibat kekurangan bahan bakar dan pengepungan,” kata Sabah kepada MEE.
“Bahan bakar hampir habis dan akan berdampak pada generator listrik dan ventilator,” tambahnya.
Kementerian Kesehatan Palestina pada Jumat (11/10) memperingatkan bahwa bahan bakar akan habis dalam waktu sekitar 24 jam yang dapat menyebabkan kematian anak-anak di ruang ICU.
Pasukan Israel telah memblokir akses bantuan ke rumah sakit utara.
“Saat ini kita berbicara tentang departemen sensitif yang menyediakan layanan kesehatan tingkat lanjut, dan kita punya waktu 24 jam lagi. Bukan hanya Rumah Sakit Kamal Adwan; tetapi RS Al-Awda dan RS Indonesia juga hampir kehabisan bahan bakar yang tersisa,” kata staf rumah sakit dalam pesan video tersebut.
“Kami menghadapi bencana kesehatan yang nyata jika bahan bakar tidak terkirim, karena akan mengakibatkan malapetaka.”
Sabah melaporkan bahwa beberapa bayi baru lahir telah dievakuasi dengan ambulans ke sebuah rumah sakit di Kota Gaza, tetapi paramedis yang mengangkut mereka ditangkap oleh pasukan Israel, meskipun ada upaya koordinasi.
RS Kamal Adwan merupakan satu-satunya fasilitas medis di Gaza utara yang menawarkan layanan khusus untuk anak-anak dan perawatan intensif. Staf melaporkan bahwa mereka baru-baru ini dibanjiri korban luka setelah Israel menyerang daerah Al Naji.
“Ada puluhan cedera yang memerlukan intervensi terapeutik dan prosedur bedah tingkat lanjut, termasuk bedah saraf, bedah vaskular, dan bedah umum,” imbuh mereka.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengirimkan permohonan terakhir agar bahan bakar dan makanan diizinkan masuk ke Gaza utara, dengan peringatan bahwa, “jam-jam mendatang akan menentukan bagi kehidupan banyak anak di unit perawatan intensif.” Kementerian juga menyerukan masyarakat internasional untuk campur tangan.
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa tim WHO dilarang melakukan evakuasi medis pasien dari RS Kamal Adwan, RS Al-Awda, dan RS Indonesia karena penundaan lebih dari 10 jam di pos pemeriksaan Israel.
Ia menambahkan bahwa pekan ini, tujuh misi WHO ke Gaza utara ditolak atau dihalangi. Pihaknya juga meminta Israel untuk “menghentikan perintah evakuasi dan melindungi rumah sakit”.
“Gaza Utara hampir tidak memiliki layanan kesehatan lagi,” kata Ghebreyesus dalam sebuah posting di X (Twitter).
Pada 10 Oktober, komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan bahwa Israel telah menerapkan “strategi terpadu untuk menghancurkan sistem perawatan kesehatan Gaza,” yang merupakan kejahatan perang. Dikatakan bahwa pasukan Israel telah “dengan sengaja membunuh, menahan, dan menyiksa tenaga medis”.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








