Israel meningkatkan serangan udara dan daratnya di Gaza, dengan lebih banyak serangan terhadap pejuang Hamas dan pos komando pada Senin (7/10), yang bertepatan dengan peringatan pertama agresi yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut dan merusak kehidupan rakyatnya, demikian dilaporkan oleh Reuters.
Kampanye militer Israel berikutnya di Gaza telah menewaskan hampir 42.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan di wilayah kantong tersebut, menyebabkan hampir seluruh 2,3 juta penduduk mengungsi, serta menciptakan krisis kelaparan dan kesehatan.
Israel mengklaim bahwa para pejuang bertempur dari balik daerah padat penduduk, termasuk sekolah dan rumah sakit. Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut.
Pada Senin (7/10), tank-tank Israel bergerak maju ke Jabalia, kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi di Jalur Gaza, setelah melakukan pengepungan, kata para penduduk. Segera setelah serangan roket, militer Israel memperluas perintah evakuasi di Jabalia, termasuk wilayah kota-kota utara Beit Hanoun dan Beit Lahiya.
Penduduk melaporkan bahwa pasukan Israel menggempur Jabalia dari udara dan darat, sementara petugas medis menyebutkan beberapa warga Palestina terbunuh, namun tim penyelamat tidak dapat menjangkau beberapa korban.
Pada hari yang sama, petugas medis Palestina melaporkan bahwa serangan udara Israel menewaskan lima warga Palestina di sebelah barat Jabalia.
Militer Israel mengklaim telah menewaskan puluhan pejuang dan menghancurkan infrastruktur militer di Jabalia, serta menegaskan operasi akan terus dilakukan untuk mencegah Hamas berkumpul kembali.
Di pusat kota Deir Al-Balah, yang menampung satu juta pengungsi, serangan udara Israel menghantam tenda-tenda di dalam Rumah Sakit Al-Aqsa, melukai 11 orang, menurut petugas medis Palestina. Militer Israel menyebutkan bahwa serangan itu menargetkan pejuang Hamas yang beroperasi dari pusat komando yang tersembunyi di dalam rumah sakit.
Tentara Israel kemudian memerintahkan penduduk di beberapa wilayah di timur Khan Younis, Gaza selatan, untuk mengungsi, dan banyak keluarga mulai mengemas barang-barang mereka dengan menggunakan gerobak keledai dan becak.
Para mediator Arab yang didukung oleh AS, Qatar, dan Mesir hingga kini belum berhasil menengahi gencatan senjata di Gaza, yang juga diharapkan dapat meredakan ketegangan di Lebanon, serta membebaskan sandera yang ditawan di Gaza dan membebaskan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel.
Hamas menginginkan kesepakatan yang akan mengakhiri agresi dan mengusir pasukan Israel dari Gaza, sementara PM Israel, Benjamin Netanyahu, bersikeras bahwa agresi hanya dapat berakhir dengan pemberantasan Hamas.
Di Gaza, pada Senin, warga sipil Palestina yang terusir menyatakan kerinduan mereka untuk kembali ke kehidupan sebelum agresi.
“Sebelum 7 Oktober, orang-orang memiliki mimpi. Sebagai seorang ayah dengan enam anak, beban terbesar saya adalah bagaimana menyediakan rumah dan menikahkan mereka. Namun setelah 7 Oktober, semua itu sia-sia. Setelah 58 tahun bekerja, seperti halnya ayah saya dulu, semua hancur berkeping-keping,” ujar Abu Hassan Shaheen.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








