• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

837 Tahun Pembebasan Baitul Maqdis dan Penantian Panjang Pembebas Penjajahan yang Belum Kunjung Datang

by Adara Relief International
Oktober 2, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 11 mins read
0 0
0
837 Tahun Pembebasan Baitul Maqdis dan Penantian Panjang Pembebas Penjajahan yang Belum Kunjung Datang

Seorang pemuda menghormat ke arah Kubah Batu di Kompleks Masjid Al-Aqsa (Pinterest)

485
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Wahai Al-Quds … Wahai Kotaku

Wahai Al-Quds … Wahai Cintaku

Esok hari, akan mekar tanaman-tanaman lemon

Bulir-bulir padi yang menghijau dan pohon zaitun berbahagia

Dan banyak mata tertawa

 

Merpati yang bermigrasi akan kembali

Ke atap rumah yang suci

Anak-anak yang bermain akan pulang

Para ayah akan berjumpa dengan anak-anaknya

Di bukit-bukitmu yang berbunga

Baca Juga

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

 

Wahai Negeriku …

Wahai Negeri Zaitun yang Damai

(Al-Quds, Nizar Qabbani)

 

837 tahun yang lalu, tepatnya pada 2 Oktober 1187, umat Islam bersukacita, terutama yang tinggal di wilayah Al-Quds (Yerusalem). Setelah 88 tahun terpenjara di tanah sendiri di bawah kekuasaan pasukan Salib, datanglah pahlawan yang membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan. Ia adalah Shalahuddin Al-Ayyubi, seorang panglima perang pemberani dan bijaksana, kunci pembebas Baitul Maqdis dari pasukan Salib.

 

Perjalanan Hidup Shalahuddin Al-Ayyubi 
Ilustrasi Shalahuddin Al-Ayyubi ketika membebaskan Baitul Maqdis (Republika)

Shalahuddin Al-Ayyubi lahir di Benteng Tikrit, sebuah kota tua di tepian Sungai Tigris, pada tahun 1137 M (523 H). Nama aslinya adalah Abul Muzhaffar Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadzi, sementara Shalahuddin yang artinya ‘Keadilan Agama adalah gelar kehormatan yang diberikan atas jasa-jasanya. Orang tuanya berasal dari Azerbaijan dan merupakan keturunan suku Kurdi yang memiliki nasab baik dan terhormat.

Ketika Shalahuddin lahir, ayahnya yang bernama Najmuddin Ayyub sedang menjabat sebagai penguasa Benteng Tikrit. Nahasnya, hari kelahiran Shalahuddin bertepatan dengan pemecatan dan pengusiran ayahnya dari Tikrit oleh penguasa Baghdad kala itu karena saudaranya membuat masalah. Sempat terlintas di benak ayahnya untuk membunuh Shalahuddin yang baru lahir karena dianggap membawa kesialan. Akan tetapi, ia segera mengurungkan niatnya. Siapa sangka, anak yang dulu hendak disia-siakannya itu, bertahun tahun kemudian tercatat di dalam sejarah sebagai seorang pahlawan.

Setelah terusir dari Tikrit, Najmuddin membawa keluarganya perg, tanpa arah dan tujuan. Mereka sempat melewati wilayah Mosul (Irak), dan memutuskan beristirahat dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Saat itulah takdir baik menghampiri Najmuddin. Ia bertemu dengan Imaduddin Zanki, yang menjabat sebagai Sultan Mosul. Imaduddin mengenali Najmuddin karena ia mengingat bahwa saat dulu ia dikejar-kejar tentara Baghdad, Najmuddin yang membantu menyelamatkannya.

Singkat cerita, Najmuddin dan keluarganya mendapat bantuan dari Imaduddin. Tidak hanya memberikan tempat tinggal, Imaduddin juga memberikan sebidang tanah pertanian di Mosul dan jabatan di pemerintahan untuk Najmuddin. Imaduddin memperlakukan keluarga Najmuddin dengan baik, bahkan hingga ia wafat dan digantikan oleh putranya, Nuruddin Zanki.

Ketika Shalahuddin masih kecil, Nuruddin Zanki menaklukkan wilayah Baalbek (Lebanon) kemudian mengangkat Najmuddin, ayahnya Shalahuddin, sebagai gubernur di sana. Shalahuddin kecil juga mengikuti ayahnya pindah ke Baalbek dan menetap di sana sejak usia dua sampai sembilan tahun. Shalahuddin mendapat kualitas pendidikan setara dengan anak penguasa atau raja, hingga membentuk kepribadiannya menjadi disiplin, tangguh, dan berakhlak mulia.

Dari Baalbek, Shalahuddin kemudian pindah lagi ke Damaskus. Shalahuddin mendapatkan pelajaran membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an, Fiqh, kaidah bahasa Arab (nahwu), dan syair. Selain itu, Shalahuddin juga belajar tentang strategi perang bersama para tentara. Ia juga berlatih melempar tombak, menunggang kuda, berburu, dan keahlian perang lainnya. Pelajaran-pelajaran tersebut membuat Shalahuddin tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, kuat, dan bijaksana.

Shalahuddin pertama kali terlibat dalam perang pada 1163 M, saat usianya 26 tahun. Saat itu, ia dikirim ke Mesir karena situasi sedang kacau akibat konflik internal dan ambisi pasukan Salib yang ingin menguasai Mesir. Melihat potensi yang ada di dalam diri Shalahuddin muda,  pemerintah Mesir kemudian memberikan Shalahuddin jabatan sebagai pemimpin keamanan wilayah Mesir, kemudian diangkat menjadi wazir Mesir ketika usianya 30 tahun, dan menjadi penguasa Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada 1171 M.

Sepanjang masa pemerintahannya, Shalahuddin Al-Ayyubi telah berhasil membuka sejumlah wilayah, di antaranya Irak, Suriah, Yaman, Maroko, Damaskus, Aleppo, Mosul, dan pesisir pantai Afrika Utara. Ia juga melakukan pengembangan-pengembangan sehingga membuatnya diberikan julukan Al-Mu’iz li Amiril Mukminin (Penguasa yang mulia) dan Sultanul Islam wa Muslimin (Pemimpin umat Islam dan orang Muslim).

Di antara penaklukan-penaklukan yang berhasil Shalahuddin capai, salah satu yang termasyhur adalah penaklukan Baitul Maqdis. Pada saat itu, Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaaan pasukan Salib dan kondisi umat Islam di Baitul Maqdis sangat mengenaskan. Dalam invasi pertama pasukan Salib ke Baitul Maqdis pada 1099, sebanyak 70.000 muslim dibantai, tak peduli apakah itu warga sipil, perempuan, atau anak-anak.

Ketika perang Hittin pecah, Shalahuddin adalah panglima yang memimpin perlawanan untuk membebaskan Kota Suci Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib. Perang Hittin berlangsung selama tiga bulan dan selama itu juga Shalahuddin terus mengusahakan strategi terbaik untuk menaklukkan Baitul Maqdis. Impian tersebut akhirnya terwujud pada 2 Oktober 1187, ketika pasukan Shalahuddin berhasil memukul mundur pasukan Salib dari Baitul Maqdis.

Berbanding terbalik dengan pasukan Salib yang menaklukkan Baitul Maqdis dengan pembantaian, Shalahuddin menaklukkan Baitul Maqdis dengan adab terbaik sesuai ajaran Islam. Tidak ada pembantaian, tidak ada perampasan harta, tidak ada balas dendam. Shalahuddin bahkan memerintahkan pasukannya untuk mengawal dan memastikan keamanan penduduk Nasrani yang saat itu memutuskan untuk keluar dari Baitul Maqdis. Sejak saat itu, Baitul Maqdis beserta kota-kota di sekelilingnya seperti Nablus, Jericho, Ramleh, Caesarea, Arsuf, Jaffa, Beirut, dan Ashkelon berada di bawah kekuasaan Shalahuddin hingga beliau wafat pada 1193 M.

 

Peristiwa Penaklukan Baitul Maqdis
Kompleks Masjid Al-Aqsa yang ramai oleh jamaah di halamannya (Pinterest)

Sebelum Shalahuddin membebaskan Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib, tempat suci tersebut sempat berada di bawah kekuasaan umat Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa itu, umat Islam sedang berada di puncak kejayaan. Setahun sebelum Umar bin Khattab menaklukkan Baitul Maqdis, umat Islam telah berhasil mengalahkan dua imperium terbesar kala itu yaitu Romawi dan Persia. Pasukan Romawi dikalahkan dalam Perang Yarmuk di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah dan Khalid bin Walid, sementara pasukan Persia dikalahkan dalam Perang Qadisiya di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas.

Kemenangan umat Islam dalam dua peperangan besar tersebut membuka jalan menuju Baitul Maqdis. Pada masa Umar bin Khattab, pasukan Muslim mengepung Baitul Maqdis selama enam bulan yaitu sejak November 636 M hingga April 637 M. Perjuangan dan penantian panjang tersebut terbayar tuntas ketika Baitul Maqdis diserahkan kepada Umar bin Khattab, bahkan kunci kota tersebut diserahkan langsung oleh Patriark Sophronius, wakil Romawi Byzantium di Baitul Maqdis, kepada Khalifah Umar.

Selama ratusan tahun, Baitul Maqdis kemudian berada di bawah kekuasaan umat Islam dan melewati pergantian beberapa dinasti mulai dari Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyyah, hingga Kerajaan Saljuk. Masalah mulai muncul di masa Fathimiyyah dan Saljuk karena dua dinasti tersebut seringkali berkonflik akibat perbedaan mazhab. Konflik tersebut berujung pada perebutan wilayah Syam dan Hijaz, yang di dalamnya terdapat tiga kota suci yaitu Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis (Al-Quds).

Pertikaian-pertikaian tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pasukan Salib untuk melakukan penaklukan-penaklukan terhadap wilayah umat Islam. Pada 1097 M, pasukan Salib mulai menaklukkan wilayah Anatolia, Syam, Antiokia, hingga Suriah, sebelum mengincar Baitul Maqdis. Pada 1099, pasukan Salib menyerbu Baitul Maqdis dengan brutal. Sebanyak 70.000 umat muslim dibantai, tak peduli apakah itu warga sipil, perempuan, atau anak-anak. Darah menggenang hingga mata kaki, jenazah-jenazah korban ditumpuk layaknya benda.

Tidak berhenti sampai di sana, pasukan Salib kemudian mengubah Masjid al-Aqsa menjadi Istana Yerusalem dan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock) diubah menjadi gereja. Sejak saat itu, Baitul Maqdis berubah menjadi Kerajaan Yerusalem di bawah kekuasaan pasukan Salib. Sementara itu, pemimpin-pemimpin muslim yang silih berganti belum ada yang bisa mengambil alih kembali Baitul Maqdis, hingga datangnya Shalahuddin al-Ayyubi.

Pembebasan Baitul Maqdis oleh Shalahuddin al-Ayyubi bukanlah penaklukan instan yang dilakukan dengan menghalalkan segala cara seperti pasukan Salib. Penaklukan Baitul Maqdis adalah buah dari perjuangan panjang selama bertahun-tahun. Fondasi telah dibentuk sejak masa Imaduddin Zanki dengan memberi pendidikan dan pelatihan terbaik bagi pasukannya dan kaum muslimin, juga menanamkan mimpi tentang pembebasan Baitul Maqdis. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh putranya, Nururuddin Zanki, hingga berhasil ditaklukkan sepenuhnya pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi.

Seperti yang telah diuraikan di pembahasan sebelumnya, pada masa Imaduddin, Nuruddin, dan Shalahuddin terjadi banyak penaklukan mulai dari Mesir, Suriah, Lebanon, hingga wilayah Afrika Utara. Penaklukan-penaklukan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu strategi yang dilancarkan untuk memuluskan jalan demi membebaskan Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib.

Pada 1177 M, Shalahuddin berperang dengan pasukan Salib yang saat itu berada di bawah pimpinan Raynald dari Chatillon. Pertempuran tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Battle of Montgisard yang bertujuan untuk mengambil alih kembali wilayah-wilayah kekuasaan umat Islam. Akan tetapi, kala itu Shalahuddin memutuskan untuk mundur dari pertempuran yang mengakibatkan Raynald mengganggu perdagangan di Laut Merah yang merupakan jalur utama jamaah yang akan menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah.

Pasca Battle of Montgisard, Shalahuddin kembali maju untuk menyerbu pasukan Salib pada 1183 M karena Raynald mengancam akan menyerang Makkah dan Madinah. Shalahuddin memperoleh kemenangan pada pertempuran kali itu. Hal tersebut membuat Raynald murka, hingga ia membalaskan dendam dengan membunuh kabilah yang akan melaksanakan ibadah haji.

Tindakan keji tersebut menyulut amarah umat Islam, termasuk Shalahuddin sebagai pemimpin kala itu. Pada 4 Juli 1187, meletuslah Perang Hittin yang merupakan titik balik pasukan Muslim dalam penaklukan Baitul Maqdis. Di bawah pimpinan Shalahuddin al-Ayyubi, pasukan muslim meraih kemenangan yang gemilang dan menangkap Raynald dan Guy de Lusignan yang kala itu menjabat sebagai Raja Yerusalem.

Hanya berselang dua bulan kemudian, Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukannya berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari kekuasaan pasukan Salib. Berbanding terbalik dengan pasukan Salib yang menaklukkan Baitul Maqdis dengan kekejian, Shalahuddin membebaskan Baitul Maqdis dengan adab yang terpuji, tanpa menyakiti satu pun penduduk. Sejak saat itu, Masjid al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu kembali ke fungsi semulanya, dan lantunan azan kembali berkumandang di tanah suci, setelah 88 tahun terjajah.

 

Al-Quds pada Masa Shalahuddin Al-Ayyubi
Masjid Qibli dan Kubah Batu di Kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Pinterest)

Shalahuddin adalah panglima perang termasyhur yang kecerdasannya dalam menyusun strategi perang tidak perlu diragukan lagi. Akan tetapi, ini tidak membuat Shalahuddin berambisi hanya untuk menaklukkan sebanyak-banyaknya wilayah tanpa bertanggung jawab atas wilayah tersebut. Setiap menaklukkan suatu wilayah, Shalahuddin selalu melakukan pengembangan dan pembaharuan dari berbagai aspek, tidak terkecuali ketika beliau membebaskan Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib.

Hal pertama dan terpenting yang Shalahuddin lakukan adalah meluruskan akidah dengan meruntuhkan tempat-tempat maksiat dan kemusyrikan di seluruh penjuru kota, serta menetapkan hukuman bagi siapa pun yang menyebarkan kesesatan. Shalahuddin juga melakukan pembaharuan dan pengembangan di sistem pendidikan, dengan mendirikan madrasah, universitas, dan mendatangkan ulama dan guru profesional dari berbagai bidang. Salah satu universitas di Baitul Maqdis yang dibangun oleh Shalahuddin adalah Universitas Al-Quds yang berdiri pada 1187 M (583 H).

Ketika itu Shalahuddin menetapkan peraturan yaitu anak-anak harus belajar tata cara salat berjamaah dan adab-adab berdoa sejak mereka masih kecil. Anak-anak menjelang usia remaja kemudian disediakan madrasah untuk mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an, menghafal hadits, menulis khat Arab, dan memperdalam ilmu agama. Ketika memasuki usia remaja, anak-anak diajarkan matematika, syair, esai, hukum, dan disertai dengan nasihat-nasihat. Kemudian saat anak-anak telah cukup besar untuk melanjutkan pendidikan, Shalahuddin mengizinkan mereka untuk menuntut ilmu di negeri-negeri yang jauh, baik itu di Syam, Mosul, Baghdad, bahkan di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah.

Selain memperbaiki sistem pendidikan, Shalahuddin juga menerapkan pentingnya pendidikan akhlak dengan cara memberikan teladan kepada penduduknya. Sebagai pemimpin, keseharian beliau sangat sederhana, jauh berbanding terbalik dengan penguasa Eropa yang sebelumnya menjajah Baitul Maqdis dan hidup dalam kemewahan tetapi tidak peduli pada rakyatnya. Shalahuddin memiliki tujuan untuk menghapuskan budaya hedonisme tersebut, dan menegakkan kembali pola hidup terpuji yang sesuai dengan ajaran Islam.

Shalahuddin adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Beliau senantiasa mengambil kebijakan yang tidak memberatkan rakyatnya, salah satunya adalah menghapuskan pajak yang membebani rakyat. Shalahuddin juga menggunakan uang negara sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyatnya, seperti untuk membangun benteng pertahanan, pengadaan bahan pangan, dan membangun sistem irigasi yang baik. Tidak heran jika Baitul Maqdis menjadi kota yang sangat berkembang dalam berbagai aspek pada masa kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi.

 

Kondisi Al-Quds Saat Ini
Pemukim Yahudi berjalan di depan Kubah Batu di Kompleks Masjid Al-Aqsa (Palinfo)

Jika Shalahuddin dapat menyaksikan Al-Quds masa kini, mungkin air mata beliau akan berlinang menyaksikan kota yang dulu ia perjuangkan kini kembali tertindas oleh penjajahan. Mungkin beliau akan menatap penuh kesedihan tatkala menyaksikan rakyat yang ia cintai dan berusaha ia sejahterakan, kini hidupnya selalu menderita dan tidak pernah lepas dari kekhawatiran. Mungkin hati beliau akan terasa pedih menatap Masjid al-Aqsa yang dulu riuh oleh anak-anak yang menimba ilmu pengetahuan, kini dibuat gaduh oleh pemukim yang berseliweran.

Pada awal tahun, tepatnya pada bulan Februari 2024, Israel menangkap dan mengajukan dakwaan terhadap Syekh Ekrima Sabri, Khatib Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) Timur, atas tuduhan hasutan terhadap terorisme. Menurut Kementerian Kehakiman Israel, tuduhan tersebut dilayangkan setelah Syekh Sabri menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga warga Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel. Kementerian mengatakan keputusan itu telah disetujui oleh Jaksa Agung Israel, Gali Baharav-Miara. Ini bukanlah kejadian yang pertama, sebab Syekh Sabri sudah pernah ditahan beberapa kali oleh pasukan Israel dan dilarang memasuki Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) Timur selama beberapa bulan. Syekh Sabri memang dikenal sebagai tokoh yang lantang dalam menolak penjajahan Israel di wilayah Palestina yang telah berlangsung selama beberapa dekade, sehingga kehadirannya dianggap sebagai ancaman oleh Israel.

Tahun ini, Masjid Al-Aqsa yang diberkahi di Al-Quds (Yerusalem) diperkirakan akan menghadapi musim paling agresif selama musim perayaan hari raya Yahudi pada periode 3–24 Oktober 2024, ujar salah satu pejabat kelompok pejuang Palestina, Hamas, Abdul Rahman Shadid pada akhir September lalu. Kelompok pemukim kolonial yang disebut sebagai Kelompok Kuil sedang mempersiapkan serangkaian serangan dan pelanggaran terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa, sehingga Shadid menyerukan untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsa dengan segala cara yang bisa dilakukan. Sungguh miris membayangkannya, tepat satu hari setelah peringatan pembebasan Baitul Maqdis, seluruh umat Muslim dipaksa untuk menyaksikan Masjid Al-Aqsa dinodai habis-habisan oleh para pemukim yang mengotori halamannya.

Pada akhir September lalu, tepatnya pada 22 September 2024, Otoritas Pendudukan Israel (IOA) di Al-Quds (Yerusalem) juga telah meletakkan fondasi untuk pembangunan lift bagi pemukim Yahudi di dekat Tembok al-Buraq (tembok barat) Masjid Al-Aqsa. IOA mengklaim bahwa lift tersebut, yang akan berjarak 200 meter dari tembok barat Masjid, akan digunakan oleh lansia Yahudi dan orang-orang dengan disabilitas fisik yang ingin mengunjungi situs suci tersebut. Pembangunan lift ini adalah sebuah bukti tindakan diskriminatif Israel, yang di satu sisi selalu melarang penduduk Palestina untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa untuk beribadah, bahkan tak jarang dengan menggunakan kekerasan, namun memberikan seluruh fasilitas kelas satu untuk para pemukim Yahudi yang memasuki kompleks tersebut.

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) juga mengungkapkan bahwa Israel telah menyetujui lebih dari 80 rencana permukiman ilegal di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) bagian timur sejak akhir tahun 2022 lalu. Persetujuan ini akan mencakup puluhan ribu unit permukiman baru, menurut laporan yang dirilis oleh Biro Nasional PLO untuk Pertahanan Tanah dan Perlawanan Permukiman pada bulan September. Laporan tersebut menyoroti perluasan pemukiman Israel yang cepat dan belum pernah terjadi sebelumnya di tanah Palestina, yang difasilitasi oleh keputusan pemerintah dan perintah militer. Saat ini, tercatat ada lebih dari lebih dari 720.000 orang Israel sekarang tinggal di pos-pos permukiman ilegal di Tepi Barat, termasuk di Al-Quds (Yerusalem) bagian timur. Dengan disetujuinya rencana permukiman tersebut, jumlah pemukim ilegal Israel di Al-Quds kemungkinan akan terus meningkat, menggusur penduduk asli Palestina yang sudah lama menetap di tanah air mereka.

Yahudinisasi juga telah merambah sistem pendidikan di Al-Quds. Israel telah menyebarkan buku-buku pelajaran yang terdistorsi ke sekolah-sekolah Palestina di Al-Quds. Israel melakukan perubahan dan penghilangan banyak fakta di dalam buku-buku pelajaran, seperti teks Palestina, bendera, simbol nasional, dan istilah serta fakta sejarah lainnya. Israel kemudian menggantinya dengan subjek lain dengan tujuan untuk menolak hak siswa Palestina di Al-Quds untuk belajar tentang sejarah, budaya, dan asal usul kota mereka, Al-Quds, dan negara mereka, Palestina.

Al-Quds pada masa kini, sungguh berbanding terbalik dengan Al-Quds pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, 837 tahun yang lalu. Kini, Al-Quds sedang menanti Shalahuddin baru, yang akan kembali membebaskan Al-Quds dari tangan penjajah Zionis. Layaknya Shalahuddin yang bagaikan mimpi dapat menaklukkan Baitul Maqdis dari ribuan pasukan Salib, impian untuk membebaskan Al-Quds dan seluruh tanah Palestina dari cengkeraman Yahudi bukanlah hal yang mustahil. Di atas segalanya, pantaskanlah diri kita untuk menjadi Shalahuddin baru, dengan meluruskan akidah, memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, juga membekali diri dengan pendidikan dan pengetahuan, hingga pertolongan Allah kembali datang untuk membebasan Baitul Maqdis, Al-Quds, Tanah Suci Umat Islam.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber:

Hitti, Philip K. 2002. History of The Arabs. New York: Palgrave Macmillan.

Lestari, Eka Puji. 2020. Strategi Shalahuddin Al-Ayyubi dalam mengambil Alih Yerusalem. Surabaya: UIN Sunan Ampel.

https://adararelief.com

https://english.palinfo.com

https://english.palinfo.com

https://english.palinfo.com

https://english.palinfo.com

https://www.trtworld.com

https://www.#

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Adara Salurkan Bantuan Roti untuk 500 Keluarga di Wilayah Ash Shabrah dan Zaitun, Gaza Utara

Next Post

Adara Palestine Situation Report 09

Adara Relief International

Related Posts

Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief
Artikel

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
16

Peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum fundamental dalam aqidah Islam yang menegaskan tiga aspek utama. Pertama, peristiwa ini menegaskan kedudukan Nabi...

Read moreDetails
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
24
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
86
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Next Post
Adara Palestine Situation Report 09

Adara Palestine Situation Report 09

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630